Di sebuah diler iCAR di kawasan Jakarta Selatan, deretan unit V23 berwarna putih kilap berdiri rapat di area display. Sebagian sudah bersedia plat nomor, sebagian lagi masih terbungkus plastik pelindung. Manajer diler itu, yang enggan disebut namanya, hanya tersenyum tipis saat ditanya soal target. "Kami sudah seribu unit ke tangan konsumen. Tapi angka itu baru separuh dari yang diminta pusat," katanya.
Angka 1.000 unit iCAR V23 yang diserahterimakan hingga akhir September 2026 memang terdengar besar. Namun dibandingkan target jaringan diler yang mencapai 2.000 unit pada periode yang sama, realisasi itu hanya menutup 50 persen rencana. Yang perlu digarisbawahi, angka seribu tersebut adalah unit yang benar-benar sampai ke tangan pembeli, bukan sekadar surat pemesanan atau booking fee yang masuk ke sistem.
Bukan Pesanan, Melainkan Serah Terima
Perbedaan antara "pesanan" dan "unit diserahterimakan" menjadi kunci untuk memahami posisi iCAR saat ini. Dalam industri otomotif, angka pemesanan sering kali mudah dimanipulasi karena bisa dibatalkan kapan saja. Angka serah terima, di sisi lain, merepresentasikan pendapatan yang benar-benar tercatat.
"Konsumen sudah bayar, mobil sudah diambil, STNK sudah keluar. Itu baru dihitung," ujar seorang analis industri otomotif yang memantau segmen mobil listrik di Indonesia. Menurutnya, mencapai seribu unit serah terima dalam kurun waktu sekitar sembilan bulan adalah capaian yang cukup solid untuk merek pendatang baru, sekaligus menjadi bukti bahwa V23 bukan produk bayangan.
iCAR V23 sendiri diposisikan sebagai mobil listrik bergaya retro yang menyasar segmen urban muda. Desainnya yang kotak dan ringkas membuatnya mudah diterima di ruas jalan padat kota, sementara harga yang dipatok lebih ramah dibanding sejumlah pesaing Eropa. Fitur keselamatan dan jarak tempuh yang dijanjikan pabrikan juga menjadi daya tarik utama bagi konsumen first buyer.
"Seribu unit itu bukan angka kecil untuk merek yang baru masuk pasar. Tapi separuh target adalah sinyal bahwa ekspektasi internal terlalu optimistis."
Kenapa Target Meleset?
Setidaknya tiga faktor disebut-sebut sebagai penyebab jarak antara realisasi dan target. Pertama, ekspansi jaringan diler yang belum merata. Sebagian besar outlet iCAR masih terpusat di Jabodetabek dan beberapa kota besar Jawa, sehingga calon konsumen di luar wilayah tersebut kesulitan melakukan test drive maupun layanan purna jual.
Kedua, persaingan yang semakin ketat. Segmen mobil listrik kompak di Indonesia kini dipadati pemain dari Tiongkok maupun Jepang. Konsumen memiliki banyak alternatif, dan waktu keputusan pembelian menjadi lebih panjang. Banyak calon pembeli memilih menunda hingga insentif pemerintah berikutnya diumumkan.
Ketiga, sentimen terhadap infrastruktur pengisian daya. Meskipun stasiun pengisian kendaraan listrik terus bertambah, kekhawatiran soal kepadatan dan kecepatan pengisian masih menjadi alasan sebagian calon pembeli mundur dari komitmen. Range anxiety,istilah yang populer di kalangan pengguna kendaraan listrik, nyatanya belum sepenuhnya terjawab.
| Indikator | Realisasi | Target | Pencapaian |
|---|---|---|---|
| Unit diserahterimakan | 1.000 | 2.000 | 50% |
| Periode | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2026 | — |
| Status angka | Terjual & diambil | — | Terverifikasi |
Strategi Kuartal Empat
Menjelang akhir tahun, jaringan diler iCAR dikabarkan menyiapkan sejumlah langkah agresif. Diskon pembiayaan, program trade-in, hingga paket perawatan gratis selama setahun disebut-sebut tengah disiapkan untuk mendongkrak penjualan. Targetnya jelas: menutup selisih sebelum tutup buku tahunan.
Seorang petugas penjualan di diler lain mengungkapkan bahwa tekanan target memang terasa di lapangan. "Setiap bulan ada briefing. Kalau angkanya belum jalan, kami diminta aktifkan ulang data leads yang belum closing," katanya. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kompetisi mendapatkan konsumen listrik telah berpindah dari harga semata ke kecepatan respons dan kualitas layanan.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai bahwa mengejar target dengan diskon besar-besaran bisa menjadi bumerang. Harga jual kembali yang anjlok dan kekecewaan konsumen awal berpotensi merusak reputasi merek di pasar yang masih labil. Keseimbangan antara volume dan nilai merek menjadi ujian tersendiri bagi iCAR di sisa tahun ini.
"Yang terpenting bukan mengejar angka di kertas, tapi memastikan seribu orang itu benar-benar puas. Mereka adalah duta merek berikutnya."
Sinyal untuk Pasar Mobil Listrik Nasional
Capaian iCAR ini sekaligus menjadi cerminan kondisi pasar mobil listrik Indonesia secara keseluruhan. Pertumbuhan masih terjadi, tetapi lajunya tidak secepat proyeksi optimis yang pernah diumumkan sejumlah pelaku industri. Konsumen semakin rasional, dan keputusan pembelian semakin banyak dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur serta kepastian insentif jangka panjang.
Bagi iCAR, seribu unit adalah fondasi, bukan garis finis. Sisa 1.000 unit yang dibutuhkan untuk memenuhi target harus diperjuangkan melalui perluasan jaringan, penguatan purna jual, dan edukasi pasar yang lebih masif. Jika berhasil, angka tersebut akan menjadi bukti bahwa merek mampu tumbuh dari posisi tertinggal. Jika tidak, separuh target yang tertinggal bisa berubah menjadi pertanyaan besar tentang ambisi ekspansi mereka di Indonesia.
Yang pasti, di balik angka seribu unit itu ada seribu keputusan konsumen yang sudah diambil. Dan setiap keputusan itu, menurut para pelaku industri, lebih berharga daripada sekadar target yang tertulis di papan besar ruang rapat pusat.