Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Hujan Deras Guyur Kalsel, Titik Api Karhutla Mulai Padam

Kawasan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, akhirnya diguyur hujan berintensitas sedang hingga lebat setelah berbulan-bulan terperangkap da

Hujan Deras Guyur Kalsel, Titik Api Karhutla Mulai Padam

Kawasan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, akhirnya diguyur hujan berintensitas sedang hingga lebat setelah berbulan-bulan terperangkap dalam kemarau ekstrem dan kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perubahan cuaca mendadak ini memberi ruang napas bagi warga setempat dan tim pemadam gabungan yang selama berminggu-minggu berjibaku menembus lahan gambut yang terbakar di bawah permukaan tanah.

Hujan turun merata di beberapa titik kritis yang selama ini menjadi penyumbang terbesar sebaran asap pekat ke wilayah Banjarbaru hingga Kota Banjarmasin. Pantauan tim lapangan menunjukkan penurunan signifikan pada ketebalan asap yang biasanya membatasi jarak pandang di jalur vital Jalan Gubernur Syarkawi dan lingkar Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Kronologi Krisis Asap hingga Turunnya Hujan Penyelamat

Krisis kabut asap di Kalimantan Selatan tahun ini menjadi salah satu periode terberat menyusul pengaruh fenomena El Nino yang memperpanjang masa kering lahan gambut. Berikut runtutan eskalasi situasi di lapangan:

  1. Periode Kemarau Panjang: Selama hampir tiga bulan berturut-turut, kawasan gambut di Liang Anggang dan Landasan Ulin mengalami pengeringan ekstrem hingga tinggi muka air tanah turun drastis di bawah ambang batas aman.
  2. Eskalasi Titik Api (Hotspot): Memasuki puncak kemarau, puluhan titik api terpantau membakar lahan gambut dalam (kedalaman 1–3 meter), memicu asap pekat harian yang melumpuhkan aktivitas pagi hari warga dan menaikkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) ke level berbahaya.
  3. Upaya Pemadaman Terbatas: Petugas darat dari BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, serta relawan menghadapi kendala berat akibat mengeringnya sumber air permukaan dan embung buatan di sekitar lokasi kebakaran.
  4. Presipitasi Pertama: Awan kumulonimbus terpantau terbentuk secara intensif sebelum akhirnya menurunkan curah hujan lebat berdurasi lebih dari satu jam, membasahi lapisan atas gambut yang kering kerontang.
"Hujan ini sangat meringankan beban operasi darat. Namun, kita tidak boleh lengah karena bara di kedalaman gambut masih berpotensi menyala kembali jika pasokan air tidak mencukupi untuk membasahi lapisan terdalam," ujar salah satu koordinator lapangan pemadaman.

Dampak Langsung Terhadap Lingkungan dan Aktivitas Warga

Turunnya hujan langsung berdampak pada kondisi ekologis dan transportasi regional:

  • Reduksi Asap dan Jarak Pandang: Jarak pandang penerbangan di Bandara Syamsudin Noor yang sempat anjlok di bawah 500 meter pada pagi hari kini kembali normal ke angka aman di atas 2.000 meter.
  • Penurunan Suhu Permukaan Lahan: Suhu termal gambut yang sebelumnya mencapai lebih dari 60 derajat Celcius di titik-titik pembakaran perlahan menurun, mengurangi produksi partikulat PM2.5 yang mencemari udara.
  • Efektivitas Operasi Darat: Satgas darat memanfaatkan momentum basahnya tanah untuk melakukan pendinginan total (mopping up) di perimeter lahan yang sebelumnya sulit dijangkau selang air.

Catatan Investigasi: Kerentanan Gambut Liang Anggang Belum Usai

Meskipun hujan membawa kelegaan sesaat, penyelidikan lapangan mengungkap bahwa kerentanan struktural kawasan Liang Anggang masih menjadi bom waktu ekologis. Pengeringan kanalisasi liar, perubahan fungsi lahan tanpa pemulihan hidrologis, dan kepemilikan lahan tidur yang tidak dirawat menjadi faktor utama berulangnya kebakaran setiap tahun.

Pemerintah daerah bersama kementerian terkait dituntut tidak sekadar mengandalkan faktor cuaca atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), melainkan harus memperketat penegakan hukum tata kelola lahan serta mewajibkan pembasahan kembali (rewetting) kubah gambut secara permanen agar bencana serupa tidak berulang pada musim kering berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User