Harganya Ada yang Rp27 Juta! Ini 7 Garam Termahal dari Berbagai Negara

Laporan dari Jakarta - Siapa sangka, butiran kristal putih yang sehari-hari kita sebut garam ternyata menyimpan kemewahan yang tak terduga. Di balik kesederhanaannya sebagai bumbu dapur, beberapa jen

Jul 07, 2026 - 22:47
0 0
Harganya Ada yang Rp27 Juta! Ini 7 Garam Termahal dari Berbagai Negara

Laporan dari Jakarta - Siapa sangka, butiran kristal putih yang sehari-hari kita sebut garam ternyata menyimpan kemewahan yang tak terduga. Di balik kesederhanaannya sebagai bumbu dapur, beberapa jenis garam justru menjelma menjadi komoditas super premium dengan banderol harga selangit. Bukan sekadar asin, garam-garam ini menawarkan pengalaman kuliner yang nyaris spiritual berkat proses produksi yang rumit, tradisi turun-temurun, serta karakter rasa yang begitu kompleks.

Media kami merangkum, tidak semua garam diciptakan sama. Jika garam dapur biasa bisa dibeli dengan harga beberapa ribu rupiah, maka ketujuh garam berikut ini dijual dalam kemasan kecil nan eksklusif dengan harga yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Kelangkaan, sentuhan tangan manusia, serta kandungan mineral unik dari perairan tertentu menjadi alasan utama di balik status "sultan" bumbu dapur ini.

1. Garam Bambu Korea (Jukyeom)

Menempati posisi puncak sebagai salah satu garam termahal di dunia, Jukyeom atau Korean Bamboo Salt bisa dibanderol hingga setara Rp27 juta untuk satu toples kecil. Proses pembuatannya sangat ekstrem dan memakan waktu puluhan hari. Garam laut dimasukkan ke dalam batang bambu tua berusia minimal tiga tahun, lalu disegel dengan tanah liat kuning, dan dibakar dalam tungku pinus bersuhu lebih dari 1.500 derajat Celsius. Proses ini diulang hingga sembilan kali untuk menyempurnakan struktur mineralnya. Konon, pembakaran berulang ini menyerap esensi sehat dari bambu, tanah liat, dan kayu pinus, menghasilkan garam dengan cita rasa smoky sekaligus manis yang diyakini memiliki khasiat detoksifikasi tinggi.

2. Fleur de Sel dari Perancis

Sering disebut sebagai "kaviar-nya garam," Fleur de Sel adalah kristal garam berbentuk bunga yang dipanen secara manual dari permukaan kolam air laut di pesisir Brittany, Guérande. Pemanenan hanya bisa dilakukan saat cuaca cerah dan berangin, menggunakan saringan kayu tradisional oleh para "paludier." Harga per kilogramnya bisa menembus jutaan rupiah karena proses pemanenan yang sangat rentan dan hasil panen yang sangat terbatas. Berbeda dengan garam biasa, Fleur de Sel tidak tenggelam di mulut, melainkan menciptakan sensasi renyah lembut yang melepaskan rasa laut secara perlahan, menjadikannya sentuhan akhir sempurna untuk hidangan berbintang Michelin.

3. Garam Hitam Siprus

Dari perairan hangat Pulau Siprus, lahir garam unik berbentuk serpihan piramida berwarna hitam. Warna gelapnya bukan berasal dari tambang, melainkan dari campuran arang aktif yang ditambahkan selama proses penguapan alami. Arang dari pohon birch dan linden ini memberikan karakter rasa asin yang lebih ringan dengan aroma earthy yang khas. Selain memberikan tampilan dramatis pada hidangan, arang aktif di dalamnya juga dipercaya membantu proses pencernaan. Kelangkaannya dan proses penguapan matahari yang lambat membuat garam ini menjadi buruan para chef profesional di Eropa.

4. Garam Mawar Himalaya

Meskipun kini semakin populer sebagai lampu hias atau batu pijat, balok garam murni dari tambang Khewra di Pakistan ini dulu hanya disantap oleh kalangan ningrat. Warna merah mudanya yang ikonik berasal dari kandungan zat besi dan puluhan mineral lainnya. Untuk kebutuhan kuliner premium, lempengan garam Himalaya sering dipanaskan dan digunakan langsung sebagai alas memasak steak atau seafood, memberikan bumbu otomatis yang meresap sempurna. Balok garam asli yang belum digiling halus dan berasal dari galian dalam tetap dibanderol cukup mahal karena biaya tambang dan kemurniannya yang tinggi.

5. Garam Hitam Vulkanik Hawaii

Dikenal juga dengan nama "Hiwa Kai," garam ini adalah perpaduan antara garam laut Hawaii dengan karbon dari lava vulkanik yang telah diaktifkan. Prosesnya tradisional dan dilakukan di pulau-pulau kecil. Hasilnya adalah butiran hitam pekat yang mencolok secara visual dan kaya akan mineral sulfur. Aroma telurnya yang unik membuatnya sangat cocok untuk masakan vegan yang meniru rasa telur. Perpaduan eksotis karbon vulkanik dan sentuhan pesisir pasifik menjadikan garam ini sebagai suvenir mewah khas Hawaii.

6. Garam "Amabito No Moshio" dari Jepang

Jepang menghadirkan salah satu garam tertua di dunia yang resepnya berasal dari 2.500 tahun lalu. Amabito no Moshio dibuat dari air laut yang direbus perlahan bersama rumput laut "hon'dawara" dalam panci besi besar. Proses ini menghasilkan garam basah bertekstur butiran kecoklatan yang kaya akan umami alami, kalsium, dan yodium dari sari rumput laut yang terkonsentrasi. Tidak ada penambahan kimia modern, hanya perebusan klasik yang memakan waktu berhari-hari untuk satu batch. Para produsennya menjaga agar resep kuno ini tidak punah, sehingga harga jualnya mencerminkan upaya pelestarian budaya yang melekat di dalamnya.

7. Garam Pirus Persia

Matamu mungkin akan tertipu mengira ini adalah permata, padahal ini adalah garam termahal asal Iran. Garam Pirus atau Persian Blue Salt terbentuk dari penguapan lautan purba yang menghasilkan struktur kristal unik. Warna biru safirnya yang sangat langka bukan berasal dari pewarna, melainkan dari tekanan intens dan mineral sylvinite yang terperangkap dalam kisi-kisi kristal selama jutaan tahun. Karena hanya bisa ditambang di gua-gua garam kuno di Iran utara, garam ini dijual per gram dengan harga fantastis. Sensasi rasanya pun unik: asin yang intens di awal, lalu berubah menjadi sedikit rasa asam jeruk yang menyegarkan di akhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Editor Cek Fakta. Editor naskah cek fakta sebelum publikasi.

Comments (0)

User