Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menilai bahwa pembahasan mengenai masa depan organisasi tidak akan memperoleh pijakan yang kuat sebelum NU menjawab kembali pertanyaan paling fundamental tentang dirinya sendiri. Menurut Gus Yahya, tanpa kejelasan tentang definisi dasar tersebut, seluruh wacana transformasi berisiko berjalan tanpa arah dan mudah dikuasai oleh agenda yang tidak lahir dari akar organisasi.
Pernyataan ini disampaikan di tengah dinamika yang dihadapi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu. Tekanan regenerasi, perubahan sosial akibat digitalisasi, serta tarikan politik praktis disebut-sebut menjadi sejumlah isu yang kerap mewarnai perdebatan tentang masa depan NU. Gus Yahya menilai, semua persoalan tersebut baru dapat dijawab secara jujur apabila warga NU sepakat terlebih dahulu tentang apa yang mereka pahami sebagai NU.
Definisi sebagai Titik Tolak Strategi
Dalam kerangka berpikir tersebut, definisi bukan sekadar persoalan konseptual, melainkan pangkal dari setiap pengambilan keputusan. Ketika hakikat organisasi dipahami sebagai gerakan yang lahir dari tradisi pesantren dan berpegang pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, maka program kerja, pola kaderisasi, hingga sikap politik organisasi harus diukur dari kesesuaiannya dengan fondasi itu. Sebaliknya, apabila definisi dibiarkan kabur, organisasi rentan terombang-ambing oleh kepentingan jangka pendek.
Sejarah mencatat bahwa NU didirikan pada 31 Januari 1926 oleh sejumlah kiai pesantren sebagai respons atas kebutuhan menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan di tengah gelombang pembaruan yang berkembang saat itu. Dari titik sejarah inilah lahir komitmen organisasi terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jamaah serta peran aktif dalam kehidupan kebangsaan. Bagi Gus Yahya, memahami kembali titik awal tersebut menjadi syarat agar NU tidak kehilangan jati diri ketika memasuki babak baru.
Jam'iyah dan Jama'ah: Dua Lapisan Identitas
Gus Yahya juga menyoroti pentingnya membedakan dua lapisan keberadaan NU, yakni jam'iyah dan jama'ah. Jam'iyah merujuk pada organisasi formal dengan struktur kepengurusan dan administrasi yang tertata, sementara jama'ah menunjuk pada komunitas warga yang terikat oleh tradisi keagamaan, kultur pesantren, dan kesetiaan pada para kiai. Kedua lapisan ini kerap dicampuradukkan dalam perdebatan, sehingga wacana tentang NU menjadi rancu.
Konsekuensinya, persoalan yang seharusnya ditangani pada tataran organisasi kerap diselesaikan dengan cara pandang komunitas, dan sebaliknya. Padahal, kesehatan NU dalam jangka panjang bergantung pada kemampuan keduanya berjalan beriringan. Organisasi membutuhkan tata kelola yang profesional, sementara komunitas membutuhkan penguatan tradisi dan pembinaan yang berkelanjutan. Kegagalan membedakan keduanya hanya akan melahirkan kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan.
Identitas Warga NU di Era Baru
Pertanyaan tentang definisi NU pada akhirnya bermuara pada persoalan identitas warga NU itu sendiri. Menjadi warga NU tidak cukup diukur dari kepemilikan kartu anggota, melainkan dari keterikatan pada tradisi, cara pandang keagamaan, dan keterlibatan dalam kehidupan kolektif. Di era digital, ketika informasi bergerak cepat dan otoritas keagamaan mengalami pergeseran, pemahaman warga tentang identitasnya menjadi semakin menentukan.
Gus Yahya menekankan bahwa generasi muda NU menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi pendiri. Tanpa pemahaman yang jernih tentang jati diri, warga muda rentan menempuh jalan yang menjauhkan mereka dari akar tradisi. Karena itu, pendidikan, kaderisasi, dan penguatan ruang-ruang diskusi menjadi instrumen penting agar definisi yang dirumuskan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan hidup dalam praktik keseharian warga.
Menuju Konsensus Baru
Seruan Gus Yahya untuk menjawab kembali definisi dasar NU dapat dibaca sebagai undangan bagi seluruh komponen organisasi untuk duduk bersama merumuskan konsensus tentang arah jangka panjang. Proses semacam itu menuntut keterbukaan, kesediaan mendengar suara dari berbagai lapisan — kiai, pengurus, akademisi, hingga warga muda — serta keberanian meninjau kembali kebiasaan yang tidak lagi relevan.
Berdasarkan verifikasi atas berbagai pernyataan publik yang berkembang, tekanan utama Gus Yahya bukan pada perubahan struktur semata, melainkan pada penegasan kembali jati diri sebagai prasyarat transformasi. Tanpa langkah itu, masa depan NU akan ditentukan oleh keadaan, bukan oleh pilihan sadar warganya.
Comments (0)