FIFA Godok Rencana 64 Peserta Piala Dunia 2030, Indonesia Menanti Kesempatan
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah mempertimbangkan usulan untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara. Jika wacana ini disetujui, peta persaingan di kualifikasi anta...
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah mempertimbangkan usulan untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara. Jika wacana ini disetujui, peta persaingan di kualifikasi antarbenua akan berubah drastis, termasuk untuk Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang kemungkinan besar mendapatkan kuota lebih besar. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi jalan pintas menuju mimpi tampil di pentas paling bergengsi itu.
Usulan Ekspansi Tiba-tiba
Hingga saat ini, Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sudah dipastikan akan diikuti 48 tim—sebuah lompatan dari format 32 tim yang bertahan sejak 1998. Namun, munculnya wacana 64 tim untuk edisi 2030 cukup mengejutkan banyak pihak. Sejumlah asosiasi anggota FIFA dikabarkan mendorong agar turnamen seabad Piala Dunia pertama (1930 di Uruguay) itu diperluas demi semangat inklusivitas dan pemerataan.
FIFA sendiri masih dalam tahap pengkajian. Badan tertinggi sepak bola dunia ini akan membentuk komite khusus untuk menilai kelayakan teknis, komersial, dan logistik dari format yang lebih gemuk. Keputusan final biasanya diambil dalam Kongres FIFA, dengan yang terdekat kemungkinan digelar pada Mei 2026. Dengan demikian, masih ada waktu panjang untuk lobi-lobi dan negosiasi antarkonfederasi.
Jika wacana 64 tim terwujud, itu berarti hampir sepertiga dari 211 anggota FIFA akan berlaga di putaran final. Angka ini dua kali lipat dari era sebelumnya dan mencerminkan tekanan global agar sepak bola tidak hanya didominasi Eropa dan Amerika Selatan.
Dampak terhadap Kuota AFC
Saat ini, AFC memiliki jatah 8,5 slot untuk Piala Dunia 2026: delapan tiket langsung dan satu tempat di playoff antarbenua. Dengan tambahan 16 slot dari format baru, distribusi kuota akan menjadi rebutan. Berdasarkan proporsi historis dan jumlah anggota, Asia berpeluang mendapatkan tambahan signifikan—bisa mencapai 12 hingga 14 slot, tergantung hasil negosiasi politik.
Bila AFC akhirnya memiliki dua belas tiket, peta persaingan di kualifikasi Asia akan terasa lebih longgar. Tim-tim penghuni papan tengah seperti Suriah, Uzbekistan, atau Vietnam—yang selama ini sering gagal di fase akhir—akan memiliki margin kesalahan lebih besar. Bagi Indonesia, perubahan ini bisa menjadi pengubah permainan, mengingat Garuda kini bersaing di level kedua atau ketiga Asia.
Peluang Timnas Indonesia
Tim nasional Indonesia saat ini menempati peringkat sekitar 120-an FIFA dan berada di luar delapan besar Asia. Di bawah asuhan pelatih yang memadukan pemain muda berbakat dengan beberapa figur naturalisasi, performa tim menunjukkan grafik naik dalam dua tahun terakhir. Lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 sudah menjadi lompatan besar, meskipun peluang ke Amerika Utara masih berat.
Dengan asumsi kuota AFC melonjak ke 12–14 slot, Indonesia tak harus menjadi delapan besar. Peringkat 12 Asia—yang saat ini dihuni tim seperti Yordania atau Bahrain—bisa jadi target realistis. Tentu saja, konsistensi hasil dan pembinaan jangka panjang tetap menjadi syarat mutlak. Ekspansi hanya membuka pintu lebih lebar, bukan jaminan otomatis masuk.
PSSI sebagai federasi menyambut positif setiap peluang yang bisa mendekatkan Indonesia ke Piala Dunia. Namun, pihaknya juga mengingatkan bahwa reformasi liga, pengembangan usia muda, dan infrastruktur harus berjalan paralel dengan target lolos kualifikasi.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Meski terlihat menjanjikan, format 64 tim juga menuai kritik. Turnamen akan semakin panjang, beban bagi tuan rumah membengkak, dan kualitas pertandingan di fase grup dikhawatirkan menurun karena kesenjangan antarnegara. Beberapa pengamat khawatir Piala Dunia kehilangan eksklusivitasnya. Namun, dari perspektif negara berkembang, ekspansi dianggap sebagai kesempatan bersejarah untuk unjuk gigi di kancah global.
Untuk Indonesia, tantangan internal tak kalah berat. Regenerasi pemain, ketersediaan kompetisi yang stabil, dan peningkatan kualitas pelatih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tertangani. Tanpa fondasi itu, sekadar numpang lewat di Piala Dunia bukanlah prestasi yang berkelanjutan.
FIFA sendiri menyatakan bahwa aspek komersial dan dampak terhadap kalender sepak bola internasional akan menjadi pertimbangan utama. Ekspansi harus disertai dukungan finansial yang merata, bukan hanya menambah jumlah peserta tanpa perbaikan ekosistem. Di sinilah negara-negara seperti Indonesia perlu bersuara, agar pemerataan tidak sekadar slogan.
Kesimpulannya, wacana 64 negara di Piala Dunia 2030 adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan oleh Indonesia. Meski jalan masih panjang dan penuh lobi, sinyal dari Zurich memberi secercah harapan bagi Garuda untuk terbang lebih tinggi.
Baca juga:
Comments (0)