Tangis Haru Guru Ngaji Lansia Palembang, Rumah Direnovasi Kapolri
Air mata haru tak terbendung dari mata seorang guru mengaji lanjut usia di kawasan Kertapati, Palembang, saat menyaksikan rumahnya yang semula reyot dan hampir roboh disulap menjadi bangunan layak hun...
Air mata haru tak terbendung dari mata seorang guru mengaji lanjut usia di kawasan Kertapati, Palembang, saat menyaksikan rumahnya yang semula reyot dan hampir roboh disulap menjadi bangunan layak huni dalam waktu singkat. Renovasi total tersebut merupakan bantuan langsung dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui program bedah rumah yang digagas korps kepolisian. Bagi sang guru ngaji, sosok yang biasanya hanya ia lihat di layar televisi itu kini hadir sebagai jawaban atas doa-doa panjangnya.
Kondisi Memprihatinkan Sebelum Renovasi
Sebelum menerima bantuan, rumah yang dihuni oleh Asiyah (72) bersama dua cucu yatimnya itu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Dinding anyaman bambu sudah lapuk digerogoti rayap, berlantai tanah yang becek setiap kali hujan turun, dan atap seng yang bocor di banyak titik. Di ruangan sempit berukuran sekitar 4x6 meter itu, Asiyah menghabiskan hari-harinya mengajar puluhan anak-anak sekitar untuk membaca Al-Qur'an. "Saya hanya ingin anak-anak bisa mengaji, meski saya tidak punya apa-apa," ujar Asiyah mengenang masa-masa sulitnya.
Kondisi rumah yang nyaris ambruk itu sesungguhnya telah lama menjadi perhatian para tetangga. Namun, keterbatasan ekonomi membuat mereka hanya mampu membantu seadanya. Beberapa kali dibantu memperbaiki genteng bocor dengan terpal bekas, tetapi hujan deras tetap membuat air masuk ke dalam rumah. Cucunya sering kali tidak bisa tidur nyenyak karena harus bergantian menadahi air hujan dengan ember plastik.
Bantuan Tak Terduga dari Kapolri
Program bedah rumah yang digagas Kapolri memang menyasar warga tidak mampu, terutama tokoh-tokoh agama yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat tanpa pamrih. Asiyah, yang sudah mengajar mengaji selama lebih dari 30 tahun tanpa pernah memungut biaya, masuk dalam daftar penerima manfaat setelah dilakukan asesmen oleh Bhabinkamtibmas setempat. Berdasarkan verifikasi, data menunjukkan bahwa Asiyah benar-benar hidup dalam kemiskinan ekstrem dan belum pernah tersentuh program bantuan serupa sebelumnya.
Proses renovasi berlangsung selama dua pekan, melibatkan puluhan personel gabungan dari Polda Sumatera Selatan dan juga bantuan sukarelawan dari warga sekitar. Material bangunan didatangkan secara bertahap: pasir, batu bata, semen, kayu, dan seng baru. Lantai tanah diganti dengan cor semen yang diplester halus; dinding anyaman bambu dibongkar dan digantikan dengan bata ringan berlapis acian; atap seng dipasang ulang dengan rangka kayu yang kokoh. "Kami bekerja dengan hati, karena ini bagian dari ibadah," kata seorang personel yang turun langsung dalam pengerjaan.
Tangis Haru Sang Guru Ngaji
Saat prosesi syukuran sederhana digelar di teras rumah barunya, Asiyah tidak kuasa menahan air mata. Dengan suara terbata-bata, ia menceritakan bahwa selama ini ia hanya bermimpi memiliki lantai yang kering agar anak-anak bisa mengaji dengan nyaman tanpa harus mengangkat kaki karena becek. Kini mimpinya terwujud. "Ini benar-benar keajaiban. Saya tidak pernah menyangka akan direnovasi orang sebesar Bapak Kapolri. Padahal saya bukan siapa-siapa," ucapnya sambil terus menyeka air mata dengan ujung kerudung lusuhnya.
Anak-anak yang biasa mengaji di rumah Asiyah juga ikut bahagia. Sejak lantai rumah dilapisi keramik, mereka bisa duduk melingkar dengan lebih tenang. Seorang murid bernama Zahra berujar, "Sekarang aku nggak takut jatuh atau licin lagi kalau hujan. Rumah Ibu Asiyah jadi terang dan bersih." Perubahan kecil itu ternyata berdampak besar pada semangat mereka mendalami Al-Qur'an.
Program bedah rumah Kapolri ini bukan sekadar memberikan tempat tinggal layak, melainkan juga mengangkat martabat para penerima manfaat. Asiyah yang selama ini hanya dikenal sebagai guru ngaji sederhana, kini menjadi bukti bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak luput dari perhatian. Dari sudut kota Palembang, sebuah rumah sederhana berdiri tegak, menyimpan sejuta harapan yang sebelumnya nyaris padam.
Baca juga:
Comments (0)