Lukisan Gua Muna Berusia 67.800 Tahun, Pecahkan Rekor Dunia

Dunia arkeologi kembali diguncang oleh temuan spektakuler dari Indonesia. Sebuah panel lukisan purba di kawasan karst Muna, Sulawesi Tenggara, telah dikonfirmasi sebagai karya seni cadas tertua di pla...

Jul 13, 2026 - 17:22
0 0

Dunia arkeologi kembali diguncang oleh temuan spektakuler dari Indonesia. Sebuah panel lukisan purba di kawasan karst Muna, Sulawesi Tenggara, telah dikonfirmasi sebagai karya seni cadas tertua di planet ini. Hasil penanggalan ilmiah terkini menunjukkan bahwa goresan-goresan di dinding Gua Liangkobori itu telah bertahan selama 67.800 tahun, menggeser rekor sebelumnya yang juga berasal dari Sulawesi.

Analisis Kronometrik dan Pemecahan Rekor

Pengukuran usia dilakukan menggunakan metode uranium-series pada lapisan kalsit yang menutupi bagian lukisan. Teknik ini memungkinkan para peneliti menentukan umur minimum dari pigmen yang digunakan. Angka 67.800 tahun yang dihasilkan bukan hanya menjadikannya lukisan gua tertua di Indonesia, melainkan mengklaim takhta sebagai lukisan figuratif tertua di dunia. Sebelumnya, gelar tersebut dipegang oleh lukisan babirusa di Leang Tedongnge, Maros, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 45.500 tahun. Bahkan lukisan-lukisan terkenal di Gua Altamira, Spanyol, atau Chauvet, Perancis, jauh lebih muda dengan rentang 30.000–36.000 tahun.

Lukisan di Liangkobori, yang terletak di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, menggambarkan figur manusia dan hewan dengan gaya khas seni prasejarah. Eksistensinya menunjukkan bahwa tradisi melukis gua telah muncul di wilayah Wallacea pada masa yang sangat awal, jauh sebelum gelombang migrasi manusia modern mencapai Eropa.

Fadli Zon dan Visi Pusat Peradaban Dunia

Menanggapi temuan monumental ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan optimismenya bahwa Sulawesi Tenggara dapat menjadi pusat studi peradaban prasejarah kelas dunia. Dalam sebuah pernyataan, ia menekankan bahwa bukti-bukti arkeologis di kawasan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu lokasi kunci evolusi budaya manusia modern. “Potensi ini harus didorong agar Sultra tidak hanya dikenal sebagai wilayah tambang, tapi juga pusat peradaban yang diakui global,” ujar Fadli Zon.

Ia juga mendesak dilakukannya penelitian lebih lanjut di gua-gua sekitar Muna yang diyakini menyimpan ribuan panel lukisan lainnya. Menurutnya, dengan dukungan riset yang memadai, bukan mustahil kawasan ini kelak diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat diplomasi budaya dan memajukan pariwisata berbasis warisan.

Dampak Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Ekonomi Lokal

Konfirmasi usia lukisan ini membawa konsekuensi besar bagi teori persebaran manusia modern. Selama ini, pandangan dominan menempatkan Eropa sebagai tempat lahirnya seni simbolik. Namun, temuan di Muna dan Maros mengindikasikan bahwa kemampuan kognitif kompleks justru berkembang lebih dulu di wilayah tropis Asia Tenggara. Para ahli kini perlu meninjau ulang kronologi migrasi Homo sapiens dan asal-usul kreativitas manusia.

Di tingkat lokal, penetapan rekor dunia ini diharapkan memicu gelombang wisata minat khusus ke Pulau Muna. Pemerintah daerah bersama Kementerian Kebudayaan tengah menyusun rencana pengelolaan situs yang berkelanjutan, termasuk pembangunan pusat interpretasi dan pelatihan pemandu lokal. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa peningkatan kunjungan tidak mengancam kelestarian fragile rock art yang telah bertahan puluhan milenium tersebut.

Peluang dan Tantangan ke Depan

Meski optimisme menguat, sejumlah tantangan menghadang. Ancaman vandalisme, perubahan iklim mikro akibat aktivitas tambang di sekitar kawasan karst, serta minimnya kesadaran masyarakat lokal menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. Fadli Zon menegaskan bahwa perlindungan situs akan menjadi prioritas program kementeriannya, termasuk mengupayakan penetapan sebagai cagar budaya nasional dan mengajukan status warisan dunia.

Di sisi lain, kolaborasi dengan para peneliti internasional akan terus diperkuat. Tim arkeolog dari berbagai negara telah menyatakan minat untuk melakukan studi komparatif antara lukisan di Muna dan seni cadas di Kalimantan serta Papua. Peta baru sejarah seni manusia sedang ditulis ulang, dan Sulawesi kini berada di episentrumnya.

Dengan usia yang menyentuh hampir 68.000 tahun, karya di Liangkobori bukan sekadar coretan prasejarah. Ia adalah pesan dari masa lalu yang mengubah cara kita memahami asal-usul imajinasi manusia. Seperti diungkapkan Fadli Zon, “Inilah saatnya Indonesia memimpin narasi peradaban dunia.”

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User