Fenomena Aphelion Tidak Sebabkan Meriang, Ini Penjelasannya

Belakangan ini beredar di media sosial tangkapan layar yang mengklaim bahwa fenomena Aphelion menyebabkan cuaca Bumi menjadi lebih dingin dan memicu tubuh meriang. Pesan itu menyebar luas, terutama di...

Jul 12, 2026 - 12:09
0 0
Fenomena Aphelion Tidak Sebabkan Meriang, Ini Penjelasannya

Belakangan ini beredar di media sosial tangkapan layar yang mengklaim bahwa fenomena Aphelion menyebabkan cuaca Bumi menjadi lebih dingin dan memicu tubuh meriang. Pesan itu menyebar luas, terutama di grup percakapan, dengan narasi bahwa posisi Bumi yang menjauh dari Matahari membuat suhu turun drastis. Lalu, apakah informasi ini berdasar? Verifikasi kami menemukan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan justru menyesatkan.

Apa Itu Fenomena Aphelion?

Aphelion adalah titik dalam orbit Bumi ketika planet kita berada pada jarak terjauh dari Matahari. Peristiwa ini terjadi sekali setiap tahun, biasanya sekitar awal Juli. Pada momen Aphelion, Bumi berjarak sekitar 152,1 juta kilometer dari Matahari, sementara pada titik terdekatnya—disebut perihelion di bulan Januari—jarak itu menyusut ke sekitar 147,1 juta kilometer. Selisihnya hanya sekitar 5 juta kilometer, atau kurang dari tiga persen dari total jarak. Jadi, perubahan jarak ini tidak drastis.

Penting dipahami bahwa yang menentukan musim di Bumi bukanlah jarak dari Matahari, melainkan kemiringan sumbu rotasi Bumi. Kemiringan sekitar 23,5 derajat ini menyebabkan belahan Bumi tertentu menerima lebih banyak radiasi Matahari pada waktu yang berbeda dalam setahun. Itulah sebabnya ketika belahan utara mengalami musim panas di bulan Juli—tepat saat Aphelion—belahan selatan justru musim dingin. Fakta ini sudah berkali-kali dijelaskan oleh berbagai lembaga seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta NASA.

Membedah Klaim yang Menyesatkan

Klaim dalam tangkapan layar itu menyatakan bahwa Aphelion membuat cuaca Bumi lebih dingin sehingga menimbulkan keluhan meriang. Padahal, jika kita memeriksa data suhu global, tidak ada perubahan suhu mendadak atau anomali pendinginan yang terjadi setiap bulan Juli. Suhu rata-rata permukaan Bumi pada bulan Juli justru cenderung lebih hangat karena daratan luas di belahan utara menyerap lebih banyak panas. Data dari NASA dan NOAA menunjukkan bahwa suhu global Juli biasanya lebih tinggi daripada Januari.

Klaim itu juga kerap dikaitkan dengan pesan berantai lama yang menggunakan istilah "Aphelion" untuk menjelaskan mengapa orang mudah sakit. Versi sebelumnya bahkan pernah menyebut bahwa fenomena ini menyebabkan cuaca lebih dingin dari biasanya, sehingga "tubuh tidak tahan" dan akhirnya meriang. Narasi ini mencampuradukkan fakta astronomi dengan mitos kesehatan.

Fakta Ilmiah: Jarak Bumi Tidak Pengaruhi Suhu Udara Secara Langsung

Secara ilmu pengetahuan, penurunan suhu udara harian lebih dipengaruhi oleh faktor lokal seperti pergerakan massa udara, kelembapan, tutupan awan, dan siklus siang-malam. Jarak Bumi-Matahari hanya berdampak pada jumlah total energi yang diterima Bumi secara global, tetapi perubahannya sangat kecil—hanya sekitar 6,9 persen antara perihelion dan Aphelion. Dampaknya terhadap suhu rata-rata global kurang dari 0,1 derajat Celsius, sehingga tidak mungkin dirasakan sebagai sensasi dingin yang memicu meriang.

Menurut para ahli meteorologi, tidak ada korelasi antara Aphelion dan wabah influenza atau gejala meriang. Meriang sendiri adalah respons tubuh terhadap infeksi virus atau bakteri, bukan karena suhu udara di luar ruangan. Tubuh merasakan dingin saat demam karena pusat pengatur suhu di otak meningkatkan ambang batas suhu tubuh. Jadi, meskipun cuaca sedikit lebih dingin, hal itu tidak serta-merta membuat seseorang terjangkit penyakit. Virus tetap memerlukan kontak antarmanusia untuk menyebar, terlepas dari posisi Bumi terhadap Matahari.

Penelusuran Sumber dan Pola Disinformasi

Jika ditelusuri, pola klaim ini telah muncul berulang kali dalam beberapa tahun terakhir. Modusnya serupa: mencantumkan narasi semi-ilmiah dengan menyelipkan istilah astronomi agar terkesan meyakinkan. Pesan itu biasanya diawali dengan "ini info dari pusat penelitian…" atau "menurut badan antariksa…" tanpa menyebutkan sumber pasti. Faktanya, tidak ada rilis resmi dari lembaga seperti LAPAN, BMKG, NASA, atau ESA yang mengaitkan Aphelion dengan risiko kesehatan semacam itu.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melalui situs edukasinya telah menegaskan bahwa fenomena Aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap suhu Bumi. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak pernah mengeluarkan peringatan tentang dampak Aphelion terhadap kesehatan manusia. Dengan demikian, klaim tangkapan layar tersebut termasuk kategori disinformasi yang memanfaatkan ketidaktahuan publik akan sains dasar.

Dampak Psikologis dan Pentingnya Literasi Sains

Penyebaran klaim seperti ini bukan tanpa akibat. Ketika masyarakat percaya bahwa cuaca dingin akibat Aphelion akan membuat mereka sakit, bisa muncul kecemasan yang tidak perlu, bahkan mungkin mempengaruhi perilaku seperti menolak kegiatan di luar ruangan atau membeli obat tanpa indikasi. Lebih jauh, mitos yang melibatkan istilah ilmiah dapat menurunkan kepercayaan terhadap penjelasan sains yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengembangkan literasi sains dan kritis. Ketika menerima informasi, terutama yang menyangkut kesehatan dan bencana, verifikasi melalui sumber resmi adalah langkah paling sederhana yang bisa dilakukan. Situs-situs milik pemerintah, jurnal ilmiah, dan lembaga antariksa menyediakan penjelasan yang mudah diakses dan dipahami.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran, klaim bahwa fenomena Aphelion menyebabkan cuaca Bumi lebih dingin dan menimbulkan meriang adalah tidak benar. Jarak Bumi yang sedikit lebih jauh tidak menurunkan suhu secara drastis, musim ditentukan oleh kemiringan sumbu Bumi, dan meriang disebabkan oleh infeksi—bukan oleh suhu udara. Klaim ini merupakan disinformasi yang sudah berulang kali beredar dan telah dibantah oleh otoritas terkait. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan pesan tersebut dan selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User