ERIA Tunjuk Pakar Inovasi sebagai Senior Research Fellow Baru
Lembaga think tank terkemuka di kawasan, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), resmi menunjuk Dr. Venkatachalam Anbumozhi sebagai Senior Research Fellow untuk bidang Inovasi. Pen...
Lembaga think tank terkemuka di kawasan, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), resmi menunjuk Dr. Venkatachalam Anbumozhi sebagai Senior Research Fellow untuk bidang Inovasi. Penunjukan ini menandai babak baru dalam upaya lembaga tersebut memperkuat riset dan rekomendasi kebijakan berbasis pengetahuan di tengah transformasi ekonomi digital yang semakin cepat.
Peran Strategis dalam Ekosistem Inovasi
Jabatan Senior Research Fellow for Innovation merupakan posisi yang dirancang untuk mengintegrasikan riset mutakhir dengan kebutuhan kebijakan nyata di negara-negara anggota ASEAN dan mitra Asia Timur. Anbumozhi akan memimpin pengembangan kerangka kerja inovasi yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan, mempercepat adopsi teknologi hijau, dan memperkuat rantai nilai regional.
Berdasarkan verifikasi, peran ini mencakup tiga mandat utama. Pertama, merancang indikator kinerja inovasi yang sesuai dengan konteks pembangunan ekonomi digital di kawasan. Kedua, memfasilitasi dialog antara sektor swasta, pemerintah, dan akademisi untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi riset dan pengembangan. Ketiga, menghasilkan publikasi strategis yang dapat dijadikan acuan oleh para pengambil kebijakan di tingkat nasional maupun regional.
Penunjukan ini datang pada saat yang tepat, ketika banyak negara di Asia Tenggara berlomba-lomba merevitalisasi basis industri mereka melalui insentif fiskal untuk litbang, kawasan ekonomi khusus teknologi, dan reformasi pendidikan tinggi. ERIA memposisikan diri sebagai katalisator yang menghubungkan berbagai inisiatif tersebut agar tidak tumpang tindih dan justru saling melengkapi.
Rekam Jejak dan Kapasitas Keilmuan
Anbumozhi bukan nama asing dalam lingkaran kebijakan inovasi Asia. Sebelum bergabung dengan ERIA, ia telah mengabdikan lebih dari dua dekade untuk riset dan advisory di bidang ekonomi lingkungan, pembiayaan infrastruktur berkelanjutan, serta transformasi industri rendah karbon. Rekam jejaknya meliputi publikasi di jurnal internasional bereputasi, kontribusi pada berbagai gugus tugas PBB dan Bank Dunia, serta pengalaman memimpin proyek multilateral yang melibatkan puluhan pemangku kepentingan.
Faktanya adalah, keahliannya dalam memadukan analisis kuantitatif dengan pemahaman mendalam atas dinamika sosio-ekonomi Asia menjadi modal berharga. Ia dikenal mampu menjembatani kesenjangan antara temuan laboratorium dan implementasi di lapangan, sesuatu yang kerap menjadi titik lemah dalam rantai inovasi di negara berkembang.
Para kolega menggambarkannya sebagai pemikir sistem yang piawai merancang roadmap bertahap—dari penelitian dasar hingga komersialisasi—tanpa mengabaikan aspek keadilan dan inklusi. Pendekatan semacam ini selaras dengan semangat Sentralitas ASEAN yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan.
Arah Baru Riset Inovasi di ERIA
Kehadiran Anbumozhi diharapkan mengkristalisasi agenda riset inovasi ERIA ke dalam tiga pilar utama. Pilar pertama berkaitan dengan digitalisasi inklusif—memastikan bahwa gelombang otomatisasi dan kecerdasan buatan tidak meninggalkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan. Pilar kedua menyasar transisi energi bersih melalui inovasi teknologi penyimpanan, smart grid, dan ekonomi sirkular. Pilar ketiga adalah ketahanan pangan dan kesehatan, yang dipicu oleh disrupsi rantai pasok selama pandemi dan perubahan iklim.
Data menunjukkan bahwa investasi riset dan pengembangan di ASEAN masih tertinggal dibandingkan kompetitor global. Proporsi pengeluaran litbang terhadap PDB rata-rata hanya 0,7 persen, jauh di bawah Korea Selatan atau Israel yang sudah melampaui 4 persen. Di sinilah ERIA melalui kepemimpinan intelektual baru ini berupaya mempersempit kesenjangan. Rencana kerja awal meliputi penyusunan ASEAN Innovation Index yang lebih granular, pemetaan rantai nilai inovasi dari hulu ke hilir, serta rekomendasi insentif berbasis kinerja yang dapat diadopsi oleh masing-masing negara anggota.
Selain itu, program fellowship dan pertukaran peneliti akan diperluas untuk membangun pool of talent yang dapat berkontribusi pada proyek-proyek percontohan di kawasan. ERIA juga akan meningkatkan kolaborasi dengan mitra dialog seperti Jepang, China, dan Korea Selatan dalam kerangka ASEAN Plus Three, sehingga transfer pengetahuan tidak berjalan satu arah melainkan membentuk ekosistem simbiosis mutualisme.
Penunjukan ini sekaligus meneguhkan posisi ERIA sebagai knowledge hub yang tidak hanya memproduksi laporan tetapi juga mengawal implementasinya. Dengan dipimpin oleh figur yang memahami seluk-beluk kolaborasi multisektor dan multi-negara, agenda inovasi kawasan diharapkan bergerak dari sekadar wacana ke aksi nyata yang terukur dampaknya. Pemangku kepentingan dari kalangan bisnis, akademisi, hingga lembaga swadaya masyarakat menantikan cetak biru pertama yang akan diluncurkan dalam enam bulan ke depan sebagai batu uji komitmen baru ini.
Comments (0)