Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Dukungan Menteri LH untuk Ekowisata di Bogor

Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Moh Jumhur Hidayat di kawasan Dusun Bambu, Kabupaten Bogor, menjadi penanda baru bagi arah kebijakan ekowisata Indonesia. Dalam kunjungan kerjanya, Jum...

Dukungan Menteri LH untuk Ekowisata di Bogor

Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Moh Jumhur Hidayat di kawasan Dusun Bambu, Kabupaten Bogor, menjadi penanda baru bagi arah kebijakan ekowisata Indonesia. Dalam kunjungan kerjanya, Jumhur menegaskan bahwa pengelolaan wisata berbasis alam menjadi bagian penting dari strategi pembangunan hijau yang sedang digulirkan pemerintah. Pernyataan itu sekaligus membuka ruang diskusi tentang bagaimana destinasi buatan yang menyatu dengan lanskap pegunungan dapat dijadikan rujukan bagi pengembangan serupa, termasuk proyek EIGER Nature yang rencananya dikembangkan di kawasan yang sama.

Menurut Jumhur, ekowisata bukan sekadar alternatif pariwisata, melainkan instrumen untuk menjaga kelestarian hutan sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar. Pendekatan semacam ini, menurut dia, selaras dengan prinsip pengelolaan ruang yang menempatkan fungsi lindung sebagai prioritas tanpa mengorbankan kesejahteraan warga. Kunjungan ke Dusun Bambu sengaja dijadikan contoh nyata bahwa kawasan konservasi dapat dikelola menjadi destinasi yang ramah lingkungan sekaligus menarik secara komersial.

Dusun Bambu sebagai Model Ekowisata

Dusun Bambu dikenal sebagai destinasi yang mengusung konsep ruang terbuka hijau dengan dominasi tanaman bambu, sawah terasering, dan danau buatan. Kawasan ini mengintegrasikan aktivitas rekreasi keluarga dengan pendidikan lingkungan, mulai dari area bermain berbasis alam hingga pusat kuliner yang mengolah produk pertanian lokal. Model pengelolaan tersebut dianggap relevan dengan visi pemerintah yang menekankan pada wisata rendah emisi dan berkelanjutan.

Dalam pertemuan dengan pengelola kawasan, Jumhur menyampaikan sejumlah catatan teknis terkait tata kelola sampah, konservasi air, serta pemantauan kualitas lingkungan. Aspek pengelolaan limbah organik dan daur ulang menjadi sorotan utama, mengingat tingkat kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap akhir pekan. Pemerintah daerah diminta memastikan seluruh operasional destinasi mematuhi standar baku mutu lingkungan yang berlaku.

Selain aspek teknis, Jumhur juga menyoroti pemberdayaan masyarakat sebagai kunci keberhasilan ekowisata. Pelaku usaha mikro, khususnya pedagang makanan dan pengrajin, perlu dilibatkan secara langsung dalam rantai nilai pariwisata. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pengelola besar, tetapi juga merata hingga tingkat desa.

Arah Pengembangan EIGER Nature

Kunjungan tersebut tak lepas dari rencana pengembangan EIGER Nature di kawasan Bogor. Proyek yang digarap oleh peralatan dan perlengkapan outdoor asal Indonesia ini diproyeksikan menjadi pusat kegiatan alam terbuka yang memadukan pelatihan, riset, dan rekreasi. Konsep yang diusung mencakup jalur pendakian edukatif, taman konservasi, serta fasilitas pelatihan kepemimpinan berbasis alam.

Kesamaan orientasi antara Dusun Bambu dan EIGER Nature membuat keduanya kerap disebut dalam satu narasi pengembangan ekowisata Bogor. Keduanya berada di wilayah dengan karakteristik geografis serupa: dataran tinggi dengan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta dinilai mampu mempercepat pencapaian target pariwisata berkelanjutan di wilayah Jawa Barat.

Pihak pengembang menyatakan komitmennya untuk menerapkan prinsip pembangunan rendah dampak, termasuk penggunaan material lokal, sistem pengolahan air bersih skala komunitas, dan program penghijauan. Seluruh rencana konstruksi akan melalui kajian analisis mengenai dampak lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Tantangan dan Peluang Ke Depan

Meski potensinya besar, pengembangan ekowisata di Bogor menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, tekanan terhadap ketersediaan air di kawasan pegunungan mulai terasa akibat peningkatan jumlah permukiman dan wisatawan. Kedua, peningkatan volume kendaraan pribadi berdampak pada kepadatan lalu lintas pada masa liburan. Ketiga, belum meratanya pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan kawasan wisata.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah mendorong penerapan sistem transportasi umum menuju kawasan destinasi, pembatasan kapasitas pengunjung harian, serta penerapan protokol pengelolaan sampah berbasis bank sampah. Regulasi terkait carrying capacity menjadi instrumen penting agar kunjungan wisatawan tidak melampaui daya dukung lingkungan.

Peluang yang terbuka juga cukup besar. Perekonomian daerah berpotensi tumbuh melalui penciptaan lapangan kerja baru di sektor jasa, kerajinan, dan kuliner. Selain itu, ekowisata dapat menjadi media peningkatan kesadaran lingkungan bagi generasi muda, khususnya pelajar yang kerma diajak berkunjung untuk kegiatan belajar di lapangan.

Langkah Selanjutnya

Setelah kunjungan ke Dusun Bambu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berencana menindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha. Nota tersebut mencakup kerja sama dalam pemantauan kualitas lingkungan, pelatihan tata kelola wisata berkelanjutan, serta pendampingan perizinan bagi pelaku usaha baru.

Jumhur menyampaikan harapannya agar seluruh pihak memiliki kesadaran yang sama mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspansi pariwisata dan pelestarian alam. Ekowisata hanya berkelanjutan jika lingkungan tetap menjadi pusat dari setiap keputusan pengembangan. Pernyataan itu menutup rangkaian kunjungan sekaligus menggarisbawahi arah kebijakan lingkungan yang akan terus digalakkan dalam beberapa tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User