Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Almas Tsaqibbirru Beralih Sikap, Kini Minta Gibran Makzulkan

Perubahan sikap terhadap salah satu tokoh politik Tanah Air kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, sorotan tertuju pada Almas Tsaqibbirru, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pihak y...

Almas Tsaqibbirru Beralih Sikap, Kini Minta Gibran Makzulkan

Perubahan sikap terhadap salah satu tokoh politik Tanah Air kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, sorotan tertuju pada Almas Tsaqibbirru, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pihak yang berperan penting dalam jalur hukum calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka saat kontestasi pemilihan presiden. Namun, pada titik terkini, pendiriannya tampak berbalik arah secara mencolok.

Latar Belakang Peran dalam Pemilu

Pada masa persiapan pemilihan umum, Almas Tsaqibbirru mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi yang kemudian berdampak langsung terhadap syarat pencalonan seorang calon wakil presiden. Gugatan tersebut mempersoalkan batas usia minimum bagi pasangan calon, sebuah isu yang pada akhirnya membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka untuk lolos dalam proses pendaftaran sebagai cawapres. Tanpa putusan yang dihasilkan dari perkara itu, jalur pencalonan anak sulung Presiden ke-7 itu bisa jadi tertutup.

Peran Almas dalam menggugat ambang usia cawapres merupakan tonggak penting yang menyebabkan namanya kerap disebut dalam pembahasan soal dinamika politik menjelang pilpres. Saat itu, dukungan hukum yang ia tempuh dianggap sebagai langkah yang menguntungkan pihak yang berkepentingan dengan pencalonan Gibran. Banyak pengamat menyebut gugatan itu sebagai kunci yang membuka pintu bagi sang cawapres muda untuk melangkah ke jalur kompetisi resmi.

Perubahan Posisi Politik

Kini, nada yang diucapkan Almas terdengar berbeda. Ia disebut tidak lagi membela posisi Gibran, bahkan justru mengarahkan tuntutan ke arah yang jauh lebih keras: pemakzulan. Pergeseran ini tentu menarik untuk dibaca, mengingat rekam jejaknya dulu justru diartikan sebagai bentuk dukungan tak langsung terhadap keberlangsungan karier politik wakil presiden tersebut.

Faktanya, Almas kini meminta Gibran dimakzulkan, sebuah sikap yang bertolak belakang dengan kontribusi hukumnya di masa lalu. Tuntutan makzul bukan sekadar kritik biasa; dalam konteks ketatanegaraan, pemakzulan menyangkut pertanyaan besar tentang kepatuhan seorang pejabat negara terhadap konstitusi dan tanggung jawab jabatannya. Dengan demikian, sikap baru Almas dapat dipandang sebagai eskalasi posisi yang jauh melampaui sekadar perbedaan pandangan politik.

Perubahan ini juga menimbulkan sejumlah pertanyaan di ruang publik. Apa yang mendasari pembalikan arah tersebut? Apakah terkait dengan persoalan hukum, ketidaksepakatan ideologis, atau faktor-faktor lain di balik layar politik? Sampai batas tertentu, publik hanya bisa menyimak pernyataan dan tindakan yang muncul ke permukaan.

Implikasi Terhadap Citra Publik

Bagi Gibran, perubahan sikap mantan pendukung jalur hukumnya ini menambah daftar tantangan dalam menjaga legitimasi politik. Citra seorang pemimpin sering kali dibangun bukan hanya dari keberhasilan program kerja, tetapi juga dari bagaimana mereka mempertahankan dukungan dari lingkaran yang pernah menjadi bagian dari perjalanan politik mereka. Ketika seseorang yang dulu dianggap berjasa justru berbalik menuntut pemakzulan, dampak psikologis terhadap persepsi publik sulit diabaikan.

Sebaliknya, bagi Almas, sikap tegas ini bisa dibaca dalam dua sisi. Di satu sisi, ia konsisten memposisikan diri sebagai pengawal konstitusi yang berani mengkritik kekuasaan tanpa pandang bulu. Di sisi lain, muncul skeptisisme tentang konsistensi pendiriannya, mengingat peran besarnya di masa lalu justru membantu tokor yang sama untuk berkuasa.

Wacana Makzul dalam Politik Indonesia

Istilah makzul sendiri bukan hal baru dalam wacana politik Indonesia. Sejumlah tokoh pernah menjadi sasaran tuntutan serupa, meski jalur formalnya selalu melalui mekanisme konstitusional yang ketat. Permintaan pemakzulan harus didasari pada dugaan pelanggaran hukum atau penyimpangan serius, bukan semata karena perbedaan pandangan politik. Oleh karena itu, seruan makzulkan Gibran dari Almas perlu dibaca seberapa jauh landasan hukum dan fakta yang melatarinya.

Publik sebaiknya mendorong agar setiap tuntutan sebesar apapun disertai argumen yang jelas dan dapat diverifikasi. Ruang demokrasi menjadi sehat ketika perbedaan pendapat disampaikan melalui jalur yang terbuka, transparan, dan berbasis data, bukan sekadar narasi emosional yang memecah belah.

Arah Politik Selanjutnya

Pergeseran sikap ini menunjukkan bahwa peta aliansi politik di Indonesia selalu bergerak cair. Mereka yang hari ini berada di satu barisan belum tentu tetap berdampingan esok hari. Bagi Almas Tsaqibbirru, keputusannya untuk menuntut pemakzulan menandai babak baru dalam perjalanan politiknya, sekaligus melepaskan diri dari bayang-bayang perannya di masa lalu.

Sementara itu, bagi kubu Wakil Presiden, tantangan ke depan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal menjaga narasi dan membangun kembali kepercayaan dari mereka yang pernah mendukung. Perjalanan politik selalu menyisakan ruang untuk evaluasi, dan perubahan sikap seperti ini menjadi pengingat bahwa kesetiaan dalam politik tidak pernah bersifat abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User