Dirut Agrinas Pangan Bahas Strategi Ketahanan Pangan Nasional
Suasana di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Selasa siang (31/3/2026) berubah menjadi pusat perhatian publik. Direktur Utama Agrinas Pangan
Suasana di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Selasa siang (31/3/2026) berubah menjadi pusat perhatian publik. Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, datang dengan membawa visi besar: mempercepat kemandirian pangan Indonesia di tengah ancaman krisis global. Pertemuan dengan jajaran pimpinan kementerian ini menyiratkan sinyal kuat—pemerintah dan swasta benar-benar serius mewujudkan ketahanan pangan jangka panjang.
Membawa Proposal Food Estate Modern
Menurut informasi yang dihimpun, Joao memaparkan rencana ambisius pembukaan lahan food estate seluas 50.000 hektare di luar Pulau Jawa. Proyek tersebut akan mengadopsi teknologi pertanian presisi (precision farming) yang menggabungkan sensor IoT, drone pemantau, dan sistem irigasi pintar. Investasi yang disiapkan mencapai Rp3,2 triliun, mencakup pembangunan infrastruktur, pelatihan petani, dan pengembangan bibit unggul. Targetnya, produksi pangan nasional bisa melonjak hingga 20% pada dua tahun pertama operasi.
“Kami tidak hanya mengejar angka produksi, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan. Pertanian modern bukan lagi mimpi,” ucap seorang pejabat Agrinas yang ikut serta dalam pertemuan.
Tekad Korporasi di Balik Pangan Rakyat
“Kami di Agrinas Pangan Nusantara percaya bahwa Indonesia harus mampu memberi makan rakyatnya sendiri tanpa bergantung pada pihak luar. Pertemuan hari ini bersama Bapak Menteri Koordinator semakin membulatkan tekad kami untuk menjadi bagian dari solusi,” tegas Joao Angelo De Sousa Mota kepada awak media.
Pernyataan itu menegaskan peran strategis Agrinas dalam rantai pasok pangan nasional. Perusahaan yang telah mengelola jalur distribusi dari hulu ke hilir ini dinilai memiliki kapasitas untuk mengintegrasikan petani kecil ke dalam ekosistem industri modern. Namun, sejumlah kalangan LSM pertanian masih mempertanyakan sejauh mana petani tradisional akan diuntungkan dalam skema besar ini.
Sejak berdiri pada 2015, Agrinas Pangan Nusantara telah menjadi motor penggerak distribusi pangan di lebih dari 20 provinsi. Dengan jaringan logistik yang matang dan hubungan erat dengan koperasi petani, posisinya semakin sentral saat pandemi dan gangguan rantai pasok global memukul ketersediaan pangan domestik. Kini, langkahnya memasuki sektor produksi hulu memperlihatkan ambisi yang lebih menyeluruh.
Sinergi dengan Kebijakan Kemenko Pangan
Pertemuan ini bukanlah yang pertama kali. Kementerian Koordinator Bidang Pangan di bawah kepemimpinan Menko saat ini memang tengah mempercepat program “Indonesia Mandiri Pangan 2028”, sebuah cetak biru untuk menekan impor beras, jagung, dan kedelai. Data internal menunjukkan bahwa pada 2025, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,8 juta ton beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Agrinas, sebagai mitra strategis, diharapkan mampu mengisi celah tersebut dengan peningkatan produksi lokal.
Berikut proyeksi target produksi yang menjadi acuan bersama:
| Komoditas | Produksi 2025 (juta ton) | Target 2028 (juta ton) | Kontribusi Agrinas (%) |
|---|---|---|---|
| Beras | 31,5 | 35,0 | 15 |
| Jagung | 23,0 | 27,5 | 12 |
| Kedelai | 1,2 | 2,0 | 20 |
Sumber: paparan internal Kemenko Pangan (Maret 2026). Kontribusi Agrinas ditargetkan melalui pengelolaan langsung food estate serta kemitraan inti-plasma.
Tantangan Distribusi dan Pasar
Meski rencana produksi terlihat menjanjikan, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya di ladang, melainkan di ruang penyimpanan dan jalur logistik. Indonesia masih menghadapi masalah klasik: susutnya hasil panen pasca-produksi mencapai 10% akibat penyimpanan buruk dan transportasi yang tidak memadai. Agrinas menekankan bahwa 15% dari investasi akan dialokasikan untuk membangun silo modern dan pusat pengolahan terpadu di sekitar lokasi food estate.
“Produksi tinggi tidak ada artinya jika hasil panen membusuk di jalan. Kami ingin memutus rantai pemborosan itu,” ujar seorang manajer rantai pasok Agrinas yang mendampingi Joao dalam pertemuan tersebut.
Respon Positif dan PR Besar
Dari pihak kementerian, respons terhadap proposal Agrinas sangat positif. Seorang staf khusus Menko Pangan menyatakan bahwa keterlibatan swasta menjadi kunci percepatan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan investasi dan inovasi dari perusahaan sekelas Agrinas untuk menggendong petani kita ke era digital,” ujarnya. Meski begitu, tantangan di lapangan tetap menggunung: alih fungsi lahan, perubahan iklim yang ekstrem, hingga disparitas harga pupuk.
“Kami sadar banyak tantangan, mulai dari ketersediaan lahan hingga kesiapan petani mengadopsi teknologi. Tapi dengan kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, dan petani, kami yakin bisa mengatasinya,” ujar Joao menambahkan.
Optimisme itu diperkuat dengan rencana pendampingan intensif bagi 10.000 petani binaan pada tahun pertama. Program tersebut meliputi pelatihan melek digital, akses permodalan, dan jaminan pasar. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi di seluruh Indonesia.
Menatap Pangan Berdaulat
Pertemuan Selasa kemarin mungkin hanya satu dari sekian banyak rapat di ibu kota. Namun, bobotnya cukup untuk menentukan arah perut lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Komitmen yang ditunjukkan Joao Angelo De Sousa Mota dan jajaran Kemenko Pangan menjadi fondasi harapan baru. Di tengah gempuran harga pangan dunia yang terus bergejolak, kemampuan memproduksi sendiri adalah jalan keluar paling logis.
Realisasi proyek ini dijadwalkan dimulai pada kuartal ketiga 2026 dengan pencanangan oleh presiden. Publik kini menanti aksi nyata. Rencana besar di atas kertas harus segera berubah menjadi mesin penggerak pertanian yang lebih adil, modern, dan berkelanjutan. Sebab, seperti yang sering diingatkan oleh banyak pihak, “bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya, sedang menggali kubur bagi masa depannya sendiri.”
Comments (0)