Danantara Biayai Proyek Hilirisasi Ayam Rp 5 Triliun
Lurusin.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara resmi menyetujui kucuran dana segar senilai Rp 5 triliun untuk tahap awal proyek hilirisasi ayam terintegras
Lurusin.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara resmi menyetujui kucuran dana segar senilai Rp 5 triliun untuk tahap awal proyek hilirisasi ayam terintegrasi. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah mendorong transformasi sektor peternakan nasional agar tidak hanya berhenti pada produksi bahan mentah, melainkan naik kelas ke industri pengolahan bernilai tambah tinggi. Proyek ambisius ini akan dikembangkan di enam provinsi strategis, yaitu Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dinilai memiliki potensi sumber daya dan rantai pasok unggas yang memadai.
Pembiayaan awal ini merupakan bagian dari skema besar yang telah disusun berdasarkan studi kelayakan mendalam. Rencana pengembangan industri pengolahan ayam terintegrasi tersebut tidak hanya mencakup pembangunan fasilitas pemotongan modern, tetapi juga pabrik pengolahan daging olahan, pemanfaatan produk sampingan, hingga pengemasan siap ekspor. Dengan kata lain, proyek ini dirancang untuk menciptakan ekosistem hilirisasi ayam yang utuh dari hulu ke hilir, sehingga mampu menekan ketergantungan impor produk olahan unggas sekaligus membuka peluang pasar ekspor baru. Laporan yang dihimpun media kami menyebutkan bahwa pemilihan enam daerah tersebut juga mempertimbangkan aspek ketersediaan bahan baku, infrastruktur logistik, serta kesiapan sumber daya manusia lokal.
Komitmen Penuh hingga 2036
Tidak berhenti pada tahap awal, Danantara telah menyiapkan komitmen pendanaan jangka panjang. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil kajian studi kelayakan, total alokasi anggaran yang bakal digelontorkan mencapai Rp 16,7 triliun hingga tahun 2036. Angka fantastis ini menunjukkan keseriusan negara dalam menjadikan sektor peternakan ayam sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi berbasis agroindustri. Skema pencairan dilakukan secara bertahap dengan mekanisme pengawasan ketat agar setiap rupiah yang dikeluarkan tepat sasaran dan memberikan dampak berganda bagi masyarakat.
"Berdasarkan hasil kajian studi kelayakan (feasibility study), Danantara telah menyetujui total alokasi anggaran mencapai Rp 16,7 triliun hingga tahun 2036. Untuk eksekusi tahap awal, kucuran dana yang disetujui baru mencapai sekitar Rp 5 triliun dengan sistem pencairan yang dilakukan secara bertahap," ujar Dirjen yang tidak disebutkan namanya dalam konferensi pers tersebut.
Kehadiran proyek hilirisasi ini diyakini akan mendongkrak posisi tawar peternak ayam dalam rantai nilai nasional. Selama ini, fluktuasi harga ayam hidup kerap menyulitkan peternak karena ketiadaan industri pengolahan yang memadai. Dengan adanya pabrik pengolahan terintegrasi, surplus produksi dapat diolah menjadi produk beku, nugget, sosis, atau produk olahan lain yang memiliki masa simpan lebih panjang dan nilai jual lebih stabil. Selain itu, proyek ini juga diharapkan membuka ribuan lapangan kerja baru, khususnya di daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sektor primer. Pengembangan di Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan NTB akan menjadi percontohan bagi wilayah lain untuk mereplikasi model bisnis serupa, sejalan dengan visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia yang tidak hanya mengekspor komoditas mentah, tetapi juga produk jadi berkualitas global.
Comments (0)