Cek Fakta Pesan Berantai Soal Kejahatan Modus Panggilan Telepon
Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan berantai sering kali menjadi kendaraan penyebaran ketakutan yang tidak berdasar. Salah satu yang tengah viral kembali adalah klaim tentang modus baru k...
Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan berantai sering kali menjadi kendaraan penyebaran ketakutan yang tidak berdasar. Salah satu yang tengah viral kembali adalah klaim tentang modus baru kejahatan lewat panggilan telepon yang disebut mampu menguras rekening hanya dengan menekan satu tombol. Pesan itu menyebar luas di grup percakapan dan media sosial, menciptakan kepanikan di kalangan masyarakat yang tidak melakukan verifikasi. Berdasarkan penelusuran forensik, narasi yang dibawa memiliki ciri khas hoaks berulang yang telah dibantah berkali-kali oleh otoritas terkait.
Klaim yang Beredar
Versi umum pesan yang beredar berbunyi: korban akan menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Penelpon mengaku sebagai petugas layanan pelanggan dari bank atau operator seluler dan meminta korban menekan angka 1 untuk menerima bantuan atau angka 2 untuk menolak. Pesan itu memperingatkan bahwa begitu tombol ditekan, penjahat dapat langsung mengakses ponsel dan menguras saldo rekening dalam hitungan detik. Beberapa variasi pesan menyebutkan nomor panggilan berasal dari kode area luar negeri dan menyertakan cerita "teman saya sendiri yang mengalaminya" agar terkesan personal dan meyakinkan.
Verifikasi Klaim
Tim melakukan verifikasi dengan menghubungi penyedia layanan seluler besar dan pihak kepolisian. Berdasarkan keterangan resmi dari operator seluler, tidak ada mekanisme teknis yang memungkinkan pengurasan saldo rekening hanya melalui penekanan nomor pada keypad selama panggilan suara. Sistem perbankan memiliki lapisan keamanan berlapis, termasuk verifikasi PIN, OTP, dan biometrik, yang tidak dapat ditembus hanya dengan respons DTMF (Dual-Tone Multi-Frequency) dari panggilan masuk. Divisi Kejahatan Siber Bareskrim Polri juga menegaskan bahwa modus seperti ini tidak pernah tercatat dalam laporan kejahatan siber nasional. Klaim serupa telah beredar sejak 2017 dalam berbagai bahasa dan secara rutin dibantah oleh otoritas di berbagai negara.
Fakta yang Ditemukan
Penelusuran jejak digital mengungkap bahwa pesan tersebut merupakan varian dari skema advance fee fraud yang dimodifikasi. Di luar negeri, klaim "One Ring Scam" atau penipuan satu dering memang ada, tetapi modusnya berbeda: pelaku memancing korban untuk menelepon balik ke nomor premium sehingga tagihan telepon membengkak, bukan menguras rekening secara instan. Namun, versi yang beredar di Indonesia sudah ditambahi bumbu horor agar lebih menakutkan. Faktanya, tidak ada satu pun laporan resmi yang bisa memvalidasi klaim bahwa penekanan tombol saat menerima panggilan masuk dapat menginstal malware atau mentransfer dana.
Sumber resmi seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia telah mengeluarkan imbauan berulang kali: penipuan perbankan terjadi ketika nasabah secara sukarela memberikan data rahasia seperti PIN, CVV, atau kode OTP, bukan karena menekan tombol telepon. Jadi, skenario dalam pesan berantai itu tidak sesuai dengan arsitektur keamanan transaksi digital yang berlaku di Indonesia.
Kesimpulan
Berdasarkan seluruh rangkaian verifikasi, klaim tentang modus kejahatan baru yang mampu menguras rekening hanya dengan menekan angka 1 atau 2 pada panggilan telepon adalah HOAX. Informasi yang disebarkan tidak memiliki landasan teknis, tidak pernah tercatat dalam data kejahatan siber resmi, dan bertentangan dengan prinsip keamanan perbankan modern. Masyarakat diimbau untuk tidak meneruskan pesan semacam itu dan selalu memverifikasi setiap informasi yang berpotensi menakutkan ke sumber tepercaya. Kejahatan siber memang nyata, tetapi penyebaran kepanikan tanpa fakta justru mempermudah pelaku kejahatan sesungguhnya untuk beraksi di tengah kebingungan publik.
Comments (0)