Bupati Kuningan Serukan Sekolah Utamakan Adaptasi, Bukan Tes Awal

Pemerintah Kabupaten Kuningan mengambil sikap tegas terhadap praktik perpeloncoan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Bupati secara resmi mengeluarkan imbauan agar seluruh sekolah di wilayahnya ...

Jul 14, 2026 - 21:35
0 0

Pemerintah Kabupaten Kuningan mengambil sikap tegas terhadap praktik perpeloncoan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Bupati secara resmi mengeluarkan imbauan agar seluruh sekolah di wilayahnya menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap segala bentuk intimidasi, kekerasan, maupun tekanan berlebihan yang dialami siswa, terutama pada masa orientasi di awal tahun ajaran. Seruan ini tidak hanya menyasar tindakan fisik, tetapi juga tekanan psikologis seperti tes membaca, menulis, dan berhitung yang kerap dijadikan syarat mutlak di hari-hari pertama bersekolah.

Adaptasi sebagai Prioritas, Bukan Tes Tekanan

Bupati mengingatkan bahwa tujuan utama masa awal masuk sekolah adalah proses adaptasi. Penekanan terhadap kemampuan akademik melalui tes mendadak pada hari pertama justru dinilai kontraproduktif. Siswa yang baru memasuki jenjang pendidikan—baik dari tingkat dasar hingga menengah—membutuhkan waktu untuk mengenal lingkungan, teman, dan guru tanpa beban evaluasi yang mencekam. Praktik menjadikan tes baca, tulis, dan hitung sebagai penentu langsung kerap membuat anak merasa tertekan, takut, bahkan enggan kembali ke sekolah. Bupati menegaskan bahwa pendekatan yang lebih humanis perlu dikedepankan: upayakan menyambut peserta didik dengan hangat, bukan dengan deretan soal yang memicu stres.

Batasan ini bukan berarti mengabaikan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Evaluasi diagnostik tetap dibutuhkan untuk mengetahui kemampuan awal, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara santai, tidak menekan, dan dimasukkan dalam kerangka perkenalan yang menyenangkan. Waktu yang tepat dapat disesuaikan setelah siswa merasa nyaman. Bupati menyebut bahwa proses adaptasi yang baik akan menciptakan kesiapan mental yang lebih matang, sehingga hasil pembelajaran ke depannya juga lebih optimal.

Zero Tolerance terhadap Bullying dan Perpeloncoan

Dalam seruan yang sama, Bupati secara khusus menekankan pemberantasan perpeloncoan dan perundungan di sekolah. Tidak ada lagi toleransi terhadap senioritas yang berujung pada kekerasan fisik atau verbal. Pihak sekolah diminta untuk membangun sistem pengawasan internal yang ketat, termasuk melibatkan guru, komite, dan orang tua, guna mendeteksi dini potensi penyimpangan. Satuan pendidikan juga diinstruksikan untuk menyusun tata tertib yang jelas, disertai konsekuensi tegas bagi pelaku. Tindakan preventif ini diyakini mampu menumbuhkan iklim belajar yang aman dan ramah anak.

Bupati menambahkan bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang tumbuh kembang karakter. Perundungan, sekecil apa pun bentuknya, bisa meninggalkan trauma berkepanjangan yang merusak mental generasi muda. Karena itu, regulasi anti-bullying tidak boleh hanya sekadar formalitas di dinding sekolah, melainkan harus benar-benar dihidupkan melalui program pembinaan rutin. Sosialisasi tentang pentingnya sikap saling menghargai pun diwajibkan dilaksanakan sejak awal tahun ajaran.

Pemerintah kabupaten juga mendorong pembentukan tim fasilitator masa orientasi yang terdiri dari guru dan kakak kelas terpilih yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Tim ini bertugas memastikan kegiatan pengenalan lingkungan berlangsung edukatif dan bebas dari perploncoan. Kementerian dan dinas pendidikan setempat akan melakukan pemantauan mendadak secara berkala untuk memastikan kebijakan ini dijalankan dengan benar.

Langkah Konkret dan Dukungan Pemda

Guna mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah anak, Pemkab Kuningan berencana memperkuat regulasi di tingkat sekolah melalui surat edaran resmi. Poin utama surat edaran tersebut meliputi: pelarangan tes tekanan pada hari pertama; kewajiban menyelenggarakan masa orientasi yang humanis; pembentukan posko pengaduan bullying; serta kewajiban bagi sekolah untuk melaporkan setiap indikasi kekerasan dalam waktu 1×24 jam ke dinas pendidikan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan dikenai sanksi administrasi hingga evaluasi terhadap pimpinan sekolah.

Bupati juga meminta Dinas Pendidikan untuk melakukan pendampingan langsung, terutama di sekolah-sekolah yang pada tahun sebelumnya memiliki catatan kurang baik terkait iklim keamanan. Sekolah-sekolah itu niscaya mendapatkan perhatian lebih, baik dalam bentuk konseling bagi siswa maupun bimbingan teknis untuk guru. Dengan langkah terpadu ini, diharapkan tidak ada lagi korban jiwa atau trauma psikis akibat praktik perpeloncoan dan perundungan yang selama ini kerap terjadi.

Dalam jangka panjang, apartur pemerintah daerah mendorong integrasi pendidikan karakter dan empati ke dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler. Setiap siswa diajak untuk memiliki rasa tanggung jawab terhadap teman sebaya, bukan menunjukkan dominasi. Model pendampingan sebaya (peer support) juga akan diperkuat agar siswa merasa memiliki sistem dukungan yang dekat dan mudah diakses.

Dampak Psikologis dan Harapan Perbaikan

Tekanan berlebih pada masa awal sekolah tidak hanya menghambat proses adaptasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecemasan, penurunan motivasi belajar, dan bahkan fobia sekolah. Psikolog pendidikan menegaskan bahwa transisi dari rumah ke lingkungan formal membutuhkan penanganan sensitif. Kebijakan yang diambil Bupati Kuningan ini selaras dengan prinsip psikologi perkembangan, di mana rasa aman menjadi fondasi sebelum anak bisa belajar dengan baik. Dengan melarang tes pada hari-hari pertama, pemerintah daerah memberi sinyal bahwa aspek kesehatan mental siswa menjadi prioritas utama.

Dukungan masyarakat dan orang tua juga menjadi kunci keberhasilan. Bupati mengajak orang tua untuk proaktif berkomunikasi dengan sekolah, tidak menekan anak dengan target akademik yang tak realistis, dan menyampaikan segala bentuk keluhan melalui kanal resmi yang telah disediakan. Komunikasi dua arah antara rumah dan sekolah dinilai sebagai pilar penting dalam mengeliminasi perundungan yang seringkali tersembunyi.

Harapan besar disematkan pada momentum tahun ajaran baru ini. Seluruh elemen pendidikan di Kuningan diimbau untuk bekerja sama menghadirkan masa pengenalan lingkungan sekolah yang penuh semangat, tanpa intimidasi, dan tanpa diskriminasi. Jika komitmen ini dijalankan secara konsisten, bukan mustahil Kuningan menjadi percontohan daerah ramah anak yang berhasil menekan angka perundungan serta menciptakan lulusan yang tangguh secara emosional dan akademis.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User