Oct 10, 2026
Sains

Bupati Cianjur Bagi Uang Rp2 Ribu ke Pengayuh Becak, Dikritik Warganet

CIANJUR — Aksi Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian bersama Wakil Bupati Ramzi Geys Thebe yang membagikan uang tunai pecahan Rp2.000 kepada kerumunan peng

Bupati Cianjur Bagi Uang Rp2 Ribu ke Pengayuh Becak, Dikritik Warganet

CIANJUR — Aksi Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian bersama Wakil Bupati Ramzi Geys Thebe yang membagikan uang tunai pecahan Rp2.000 kepada kerumunan pengayuh becak lanjut usia menuai gelombang kritik dari warganet. Momen tersebut terekam dalam video yang beredar luas di media sosial dan memicu perdebatan soal etika serta kelayakan cara penyaluran bantuan kepada kelompok rentan.

Peristiwa itu terjadi di sela acara penyerahan bantuan becak listrik, Kamis (1/10). Dalam rekaman berdurasi singkat, kedua pejabat tampak mengenakan setelan jas hitam berdiri di tengah kerumunan warga. Lembaran uang Rp2.000 dibagikan secara langsung, memicu warga saling berebut dan berdesakan untuk mendapat bagian.

Kronologi Aksi Bagi-Bagi Uang di Tengah Acara Resmi

Berdasarkan rekaman video yang dihimpun, rangkaian kejadian berlangsung cepat dan tanpa pengaturan antrean yang jelas. Berikut urutan momen yang terekam kamera warga:

  1. Bupati dan Wakil Bupati Cianjur hadir dalam acara serah terima bantuan becak listrik kepada sejumlah penerima manfaat.
  2. Di sela sesi dokumentasi, keduanya mengeluarkan uang tunai dan mulai membagikannya kepada kerumunan yang mengerumuni panggung.
  3. Warga yang didominasi pengayuh becak berusia lanjut saling dorong untuk meraih lembaran uang, sebagian tampak kesulitan mempertahankan posisi berdiri.
  4. Video tersebut diunggah ke media sosial dan dalam hitungan jam memicu ribuan komentar.

Adegan itu menjadi sorotan karena para penerima bukan khalayak umum biasa, melainkan pengayuh becak lanjut usia yang secara fisik rentan.

Suara Warganet: Antara Prihatin dan Kecewa

Kolom komentar video tersebut dibanjiri respons negatif. Sejumlah netizen menilai cara pembagian uang berisiko menimbulkan cedera bagi warga lanjut usia yang harus berdesakan.

"Kenapa harus di sawerin sih. Harusnya di bagiin langsung biar rata. Takutnya ada yang kebagian ada yang enggak."
— @ly*****, Instagram

Sorotan lebih tajam datang dari akun @lu****_fi*** yang menyayangkan hilangnya rasa kehormatan dalam momen pemberian bantuan. Menurutnya, nilai bantuan yang kecil justru membuat aksi tersebut terkesan sekadar pencitraan.

"Meriah palebah mana na asa kurang mereunah seorang pamimpin nyawer kitu, sharusna dibagikan dengan layak. Da etateh lansia wungkul... dina leutikna 20rb-an gé saorang dibagikeunna layak, 2rb bari di awur-awur. Kasurungkeun iyesss... teu dapet SEMUHUUUN."
— @lu****_fi***, Instagram

Kritik serupa juga mengalir dari pengguna lain yang menyoroti aspek keselamatan fisik saat berdesakan.

Analisis: Bantuan Sosial versus Gaya Bagi-Bagi Sesaat

Pengamat kebijakan publik menilai insiden ini memperlihatkan persoalan klasik dalam penyaluran bantuan: "Bantuan yang diberikan tanpa mekanisme pendataan dan antrean yang tertib cenderung berubah menjadi pertunjukan, bukan pelayanan. Kelompok lanjut usia semestinya diprioritaskan dengan cara yang menjaga martabat mereka," ujar seorang akademisi kebijakan sosial.

Perbandingan sederhana antara praktik ideal dan apa yang terjadi di lapangan memperjelas persoalan tersebut.

Aspek Praktik Ideal Kejadian di Cianjur
Mekanisme penyaluran Terdata, satu per satu, sesuai daftar penerima Dibagikan ke kerumunan tanpa daftar
Kelompok sasaran Lansia dengan pendampingan Lansia berdesakan tanpa pengamanan
Nilai bantuan Sesuai kebutuhan dasar Rp2.000 per lembar
Risiko Minimal Berebut, berdesakan, potensi cedera

Dari sisi jumlah, bantuan Rp2.000 per orang jelas jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan harian pengayuh becak. Persoalan bukan semata nominal, tetapi cara penyampaiannya yang dianggap menghilangkan rasa hormat.

Respons dan Proyeksi ke Depan

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Cianjur terkait kritik yang beredar. Publik menantikan klarifikasi, sekaligus perbaikan prosedur penyaluran bantuan sosial agar kejadian serupa tidak terulang. Bagi warga Cianjur, insiden ini menjadi pengingat bahwa cara memberi sama pentingnya dengan apa yang diberikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User