BRIN Paparkan Teknologi Nuklir, Drone PUNA MALE, dan Kapal Patroli
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sederet capaian teknologi strategis nasional di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan tersebut, lembaga riset negara itu menyoroti tiga ...
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sederet capaian teknologi strategis nasional di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan tersebut, lembaga riset negara itu menyoroti tiga bidang unggulan, yakni penguasaan energi nuklir, pengembangan pesawat udara nirawak PUNA MALE, serta rancangan kapal yang telah dioperasikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Paparan itu menegaskan arah kebijakan riset nasional yang berorientasi pada kemandirian teknologi. BRIN menilai penguasaan teknologi strategis menjadi prasyarat bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor, sekaligus memperkuat pertahanan, keamanan, dan ketahanan energi jangka panjang.
Penguasaan Energi Nuklir
Di sektor energi, BRIN menyampaikan progres penguasaan teknologi nuklir untuk pembangkitan listrik. Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi panjang di bidang ini melalui pengoperasian tiga reaktor riset, yaitu Reaktor G.A. Siwabessy di Serpong, Reaktor Kartini di Yogyakarta, dan Reaktor Triga 2000 di Bandung. Ketiganya menjadi tulang punggung pengembangan sumber daya manusia serta riset keselamatan nuklir selama puluhan tahun.
Agenda berikutnya adalah pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) berkapasitas 10 megawatt termal di kawasan Puspiptek, Serpong, Banten. Reaktor jenis High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR) itu dirancang sebagai batu loncatan sebelum Indonesia mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) skala komersial. Rencana pembangunan PLTN sendiri telah masuk dalam dokumen perencanaan kelistrikan nasional, dengan target operasi perdana pada awal 2030-an.
BRIN menekankan bahwa penguasaan nuklir tidak sebatas membangun reaktor, tetapi juga mencakup kemandirian bahan bakar, pengelolaan limbah radioaktif, hingga kepatuhan pada standar keselamatan internasional. Aspek regulasi dan pengawasan turut menjadi bagian penting yang dipaparkan kepada Presiden.
Pesawat Nirawak PUNA MALE
Sorotan kedua adalah pesawat udara nirawak kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang diberi nama PUNA MALE. Wahana tanpa awak ini merupakan hasil kolaborasi konsorsium nasional yang melibatkan BRIN, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, serta sejumlah perguruan tinggi. Uji terbang perdananya telah dilakukan pada akhir 2019 di fasilitas PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat.
PUNA MALE dirancang untuk misi pengintaian dan pengawasan jarak jauh. Pesawat ini mampu terbang selama lebih dari 24 jam tanpa henti pada ketinggian operasi hingga sekitar 30.000 kaki. Kemampuan tersebut menjadikannya relevan untuk patroli perbatasan, pemantauan wilayah laut, hingga penanggulangan bencana, terutama bagi negara kepulauan dengan wilayah pengawasan sangat luas seperti Indonesia.
Kehadiran PUNA MALE menandai langkah Indonesia masuk ke kelompok terbatas negara yang mampu merancang dan membangun drone kelas MALE secara mandiri. Pengembangan lanjutan diarahkan pada integrasi sensor, sistem kendali berbasis satelit, hingga kemungkinan varian bersenjata untuk kebutuhan pertahanan.
Desain Kapal untuk Bea Cukai dan KKP
Bidang ketiga yang dipaparkan adalah rancangan kapal hasil rekayasa anak bangsa. Desain kapal karya BRIN telah diadopsi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan untuk armada kapal patroli cepat. Kapal-kapal tersebut bertugas mencegah penyelundupan dan mengamankan penerimaan negara di jalur-jalur laut yang rawan pelanggaran.
Selain untuk Bea Cukai, rancangan serupa dimanfaatkan KKP untuk kapal pengawas perikanan. Armada ini berperan menindak praktik penangkapan ikan ilegal yang selama ini merugikan ekonomi nasional sekaligus mengancam keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.
Pengembangan desain kapal didukung fasilitas uji hidrodinamika milik BRIN di Surabaya, Jawa Timur, yang memungkinkan pengujian lambung, propulsi, dan stabilitas kapal sebelum diproduksi galangan. Dengan desain yang dirancang di dalam negeri, kandungan lokal kapal patroli pemerintah dapat ditingkatkan sekaligus menekan biaya pengadaan.
Arah Kemandirian Teknologi Nasional
Paparan BRIN kepada Presiden Prabowo mencerminkan upaya menyelaraskan agenda riset dengan prioritas pembangunan nasional. Tiga sektor yang ditampilkan, yaitu energi nuklir, wahana nirawak, dan perkapalan, sama-sama menyentuh aspek pertahanan, keamanan, dan kedaulatan negara.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan hasil riset tidak berhenti di tahap prototipe. Dukungan anggaran, keberpihakan pada pengadaan produk dalam negeri, serta sinergi antara lembaga riset, industri, dan pengguna akhir akan menentukan apakah capaian tersebut benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan teknologi nasional yang mandiri.
Comments (0)