Brasil Jadi Negara Paling Rajin Mandi Sedunia, Ternyata Ini Alasannya
Jakarta - Kebiasaan mandi masyarakat di berbagai negara ternyata sangat beragam. Variasi ini dipengaruhi oleh faktor iklim, budaya, hingga ketersediaan air. Sebuah studi terbaru mengungkap peringkat
Jakarta - Kebiasaan mandi masyarakat di berbagai negara ternyata sangat beragam. Variasi ini dipengaruhi oleh faktor iklim, budaya, hingga ketersediaan air. Sebuah studi terbaru mengungkap peringkat negara dengan warganya yang paling rajin membersihkan diri, dan Brasil berhasil menempati posisi puncak.
Menurut laporan bertajuk Bathing Habits by Country 2026 yang dirilis oleh World Population Review, frekuensi mandi dan keramas masyarakat di seluruh dunia menunjukkan perbedaan yang signifikan. Laporan ini mengompilasi data dari berbagai organisasi dan studi, seperti When The World Washes dan Bathing Habits of the World, untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang preferensi mandi—baik menggunakan pancuran maupun bak mandi—di hampir setiap negara.
"Brasil tidak hanya dikenal dengan semangat sepak bolanya, tetapi juga dengan komitmen tinggi terhadap kebersihan pribadi. Iklim tropis dan budaya yang menekankan kesegaran fisik membuat mayoritas warganya mandi lebih dari satu kali sehari," demikian temuan kunci dalam laporan tersebut.
Faktor Iklim dan Budaya Penentu Utama
Laporan yang dikutip oleh Lurusin.com menunjukkan bahwa negara-negara dengan iklim panas dan lembap, seperti Brasil, Kolombia, dan Indonesia, secara alami mendorong penduduknya untuk mandi lebih sering. Di Brasil, mandi bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari gaya hidup yang melibatkan penggunaan pancuran beberapa kali sehari. Rata-rata, seorang warga Brasil mandi 2-3 kali sehari, sebuah angka yang jauh di atas rata-rata global.
Di sisi lain, negara-negara dengan iklim sejuk atau dingin seperti Inggris, Jerman, dan Jepang cenderung memiliki frekuensi mandi yang lebih rendah. Namun, perlu dicatat bahwa preferensi antara mandi dengan pancuran atau berendam di bak mandi sangat bervariasi. Jepang, misalnya, lebih menyukai budaya berendam (onsen) yang panjang sebagai sarana relaksasi, walau frekuensinya tak setinggi negara tropis.
Data yang dikumpulkan oleh World Population Review juga menyoroti bahwa kebiasaan mandi tak selalu linier dengan tingkat kebersihan suatu negara. Negara maju dengan akses air bersih yang baik belum tentu memiliki frekuensi mandi tertinggi. Sebaliknya, di beberapa negara berkembang, mandi menjadi ritual penting yang didukung oleh ketersediaan air yang melimpah serta pengaruh tradisi.
Lurusin.com menelusuri bahwa Indonesia sendiri berada di peringkat menengah dalam daftar ini. Meski iklim tropis mendukung kebiasaan mandi dua kali sehari, survei mencatat bahwa tak semua wilayah memiliki akses air bersih yang setara. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi kebersihan pribadi di beberapa daerah terpencil.
Studi ini mengingatkan bahwa kebiasaan mandi bukan sekadar masalah kenyamanan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan kulit dan sosial. Ke depan, para peneliti berharap data ini dapat mendorong kesadaran global tentang pentingnya sanitasi dan kebersihan pribadi, terutama di daerah dengan akses air terbatas.
Comments (0)