Kepulan asap pekat kembali mengepul dari perut bumi Sumatera Selatan, menegaskan bahwa krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga mereda. Di tengah terik kemarau pertengahan September 2026, petugas lapangan dari Tim Manggala Agni bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus berjibaku menembus barikade api yang membakar vegetasi kering di wilayah Arisan Jaya dan sekitarnya. Bau hangus tanah gambut yang terbakar melingkupi udara, membawa ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian ekosistem lokal.
Berdasarkan penelusuran data terbaru dari BPBD Provinsi Sumatera Selatan, eskalasi titik api meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena ini bukan lagi sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah darurat lingkungan yang membutuhkan intervensi terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Angka Krisis: OKI Jadi Episentrum Kebakaran
Data resmi BPBD Sumsel mengonfirmasi bahwa hingga pertengahan September 2026, telah terjadi 2.676 kejadian karhutla yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Dari ribuan titik tersebut, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatatkan angka paling mengkhawatirkan dan resmi menjadi episentrum krisis karhutla di Sumatera Selatan.
Wilayah OKI menyumbang porsi signifikan dari total bencana kebakaran di provinsi ini. Karakteristik wilayahnya yang didominasi oleh konversi lahan gambut luas membuat daerah ini sangat rentan mengalami kebakaran hebat saat musim kemarau tiba.
| Wilayah / Indikator | Jumlah Kejadian (Per Sept 2026) | Kategori Kerawanan Lahan |
|---|---|---|
| Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) | 459 Kejadian | Sangat Tinggi (Lahan Gambut Dalam) |
| Kabupaten/Kota Lain di Sumsel | 2.217 Kejadian | Tinggi hingga Sedang (Mineral & Gambut Dangkal) |
| Total Akumulasi Sumsel | 2.676 Kejadian | Status Darurat Bencana |
Anatomi Bencana: Mengapa Gambut OKI Terus Membara?
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa tingginya angka kebakaran di OKI dengan 459 kejadian bukanlah kebetulan semata. Lahan gambut yang telah terdegradasi dan mengering akibat kanalisasi masif menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Ketika api menyambar permukaan, pembakaran tidak hanya terjadi di atas tanah, tetapi meresap hingga meteran di bawah permukaan (ground fire), membuat upaya pemadaman darat membutuhkan waktu berhari-hari.
Selain faktor alam, dorongan ekonomi dan praktik pembersihan lahan berbiaya murah masih menjadi pemicu utama persistennya titik api di daerah ini.
"Kebakaran di lahan gambut seperti di OKI bukan sekadar bencana alam biasa, ini adalah konsekuensi logis dari pengeringan gambut yang masif dan ulah oknum yang mencari jalan pintas dalam pembukaan lahan," tegas Dr. Bambang Kusuma, peneliti tata kelola lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Dampak Sistemik dan Desakan Penegakan Hukum
Meluasnya karhutla di Sumatera Selatan ini membawa dampak berantai yang merugikan multidimensi. Selain memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di pemukiman warga, ancaman kabut asap lintas batas (transboundary haze) juga kembali membayangi wilayah tetangga.
Untuk menekan laju peningkatan titik api, pemadaman udara (water bombing) dan operasi modifikasi cuaca terus dikerahkan. Namun, langkah penanggulangan tersebut dinilai hanya menyelesaikan gejala permukaan jika tidak diimbangi dengan penegakan hukum yang tegas.
- Peningkatan Patroli Terpadu: Menyisir kawasan rawan pembakaran liar di pelosok desa.
- Restorasi Gambut: Pembasahan kembali (rewetting) sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah.
- Sanksi Tegas: Penindakan hukum tanpa tebang pilih terhadap individu maupun korporasi yang terbukti membiarkan atau membakar lahan.
Krisis 2.676 kejadian karhutla di Sumsel ini menjadi alarm keras bahwa komitmen perlindungan lingkungan tidak boleh mengendur. Tanpa pemulihan ekosistem gambut secara radikal dan penegakan hukum yang konsisten, bayang-bayang kabut asap akan terus menyelimuti masa depan Sumatera Selatan.
Hingga pertengahan September 2026, bencana karhutla meluas di Sumatera Selatan. Kabupaten OKI mencatat 459 kejadian kebakaran akibat kerentanan lahan gambut. Tim gabungan terus berjibaku di lapangan. BACA SELENGKAPNYA DI LURUSIN.COM
Comments (0)