Boy Thohir Dorong Transformasi Bisnis Adaro Menuju Hijau

Jakarta — Di balik nama besar Grup Adaro yang selama ini identik dengan batu bara, ada sosok kunci yang mengarahkan perubahan strategis: Garibaldi Thohir,

Jul 11, 2026 - 01:53
0 0
Boy Thohir Dorong Transformasi Bisnis Adaro Menuju Hijau

Jakarta — Di balik nama besar Grup Adaro yang selama ini identik dengan batu bara, ada sosok kunci yang mengarahkan perubahan strategis: Garibaldi Thohir, atau yang akrab disapa Boy Thohir. Sebagai Presiden Direktur PT Adaro Energy Indonesia Tbk, Boy tidak hanya mengelola salah satu perusahaan tambang terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga mendesak perusahaan untuk meninggalkan ketergantungan pada komoditas fosil menuju portofolio energi berkelanjutan.

Transformasi ini bukan sekadar retorika. Di bawah kepemimpinan Boy Thohir, Adaro menggelontorkan investasi besar-besaran ke sektor energi terbarukan, mineral hijau, dan infrastruktur rendah karbon. Langkah ini menempatkannya sebagai salah satu motor transisi energi korporasi yang paling agresif di Indonesia.

Siapa Garibaldi Thohir?

Garibaldi Thohir lahir di Jakarta pada 1967, putra dari pengusaha Mochamad Thohir. Ia adalah adik kandung dari Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mantan pemilik klub sepak bola Inter Milan. Berbeda dengan kakaknya yang terjun ke politik dan olahraga, Boy lebih memilih jalur bisnis energi. Setelah menempuh pendidikan di AS, ia memulai karier di dunia keuangan sebelum akhirnya bergabung dengan Adaro.

Pada 2005, Boy bersama keluarga dan mitra mengakuisisi Adaro Indonesia dari pemerintah, lalu membawanya menjadi perusahaan publik pada 2008. Sejak itu, Adaro tumbuh menjadi produsen batu bara termal terbesar kelima di dunia, dengan kapasitas produksi lebih dari 60 juta ton per tahun.

Jejak Transformasi Hijau

Titik balik terjadi pada 2021, ketika Boy Thohir mengumumkan visi baru: “Adaro bukan lagi perusahaan batu bara, melainkan perusahaan energi Indonesia.” Realisasinya terlihat dari sejumlah langkah korporasi:

  • Pendirian Adaro Green, entitas anak yang fokus pada pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), angin, dan surya.
  • Pembangunan PLTA Kayan Cascade di Kalimantan Utara berkapasitas total 9.000 MW, bekerja sama dengan mitra global.
  • Akuisisi aset mineral logam hijau, termasuk nikel dan aluminium, yang menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.
  • Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung di atas lahan bekas tambang Adaro.
“Kami tidak bisa selamanya bergantung pada batu bara. Transisi ini bukan karena tekanan, melainkan kesadaran bahwa masa depan ada di energi bersih,” ujar Boy Thohir dalam wawancara eksklusif, Kamis (10/7/2025).

Data terbaru menunjukkan, porsi pendapatan Adaro dari segmen non-batu bara melonjak dari 5% pada 2020 menjadi 22% pada 2024. Perusahaan menargetkan angka itu mencapai 50% pada 2035, sekaligus memangkas emisi karbon operasional sebesar 30% pada 2030.

Dampak Finansial dan Pasar

Transformasi ini disambut positif oleh investor. Pada kuartal III-2025, Adaro Energy membukukan pendapatan bersih Rp 78,3 triliun, dengan laba bersih Rp 26,1 triliun. Meski kontribusi batu bara masih dominan, segmen energi baru dan terbarukan mulai menunjukkan profitabilitas yang menjanjikan. Saham ADRO pun mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada November 2025, didorong sentimen positif terhadap transisi hijau.

Boy Thohir, yang menurut Forbes memiliki kekayaan pribadi sekitar US$ 3,4 miliar (2025), konsisten menegaskan bahwa strategi ini bukan hanya untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk melindungi nilai pemegang saham jangka panjang. “Kami membangun Adaro untuk 50 tahun ke depan, bukan untuk 5 tahun,” katanya.

Tantangan dan Prospek

Jalan menuju portofolio hijau tidak tanpa hambatan. Adaro masih menghadapi fluktuasi harga batu bara, resistensi internal, dan tekanan regulasi transisi energi yang belum sepenuhnya mendukung. Namun, Boy Thohir optimistis. Ia mengandalkan tim manajemen muda dan kolaborasi internasional untuk mempercepat inovasi.

Di tengah sorotan global terhadap Indonesia sebagai pengekspor batu bara terbesar, langkah Boy Thohir bisa menjadi contoh bahwa perusahaan nasional mampu memimpin transisi energi, bukan sekadar mengikuti arus.

Ke depan, Adaro berencana meluncurkan obligasi hijau senilai US$ 1,5 miliar pada 2026 untuk mendanai proyek energi terbarukan. Boy juga sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan otomotif global untuk penyediaan aluminium rendah karbon.

Transformasi yang dipimpin Boy Thohir ini menegaskan satu hal: bahwa di balik setiap korporasi batu bara, ada manusia yang berani mengubah arah kapal besar. Dan di Adaro, nahkoda itu bernama Garibaldi Thohir.

[TAGS]: Garibaldi Thohir, Boy Thohir, Adaro Energy, transformasi hijau, energi terbarukan [SOCIAL_TWEET]: Boy Thohir sulap Adaro dari raja batu bara jadi penguasa energi hijau. Target: 50% pendapatan dari non-batubara di 2035. #AdaroEnergy #BoyThohir #EnergiHijau [SOCIAL_FB]: Adik Erick Thohir ini bukan hanya konglomerat tambang. Boy Thohir sedang membalikkan wajah Adaro Energy menuju revolusi hijau, dari PLTA raksasa hingga tambang nikel. Baca selengkapnya! [SOCIAL_TG]: 🔋 Boy Thohir geser fokus Adaro ke energi bersih. 💸 Pendapatan non-batu bara sudah 22%, naik dari 5%. 🌿 Target 50% pada 2035. Klik baca visi besar sang nahkoda. [SOCIAL_THREADS]: Boy Thohir tuh bos Adaro yang ternyata adik Erick Thohir. Dia lagi bikin Adaro jadi perusahaan energi hijau, bangun PLTA gede, akuisisi nikel, pokoknya keren banget. Gak nyangka dari keluarga konglomerat ada yang super visioner gini 🌏

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User