BMKG: Kemarau 2023 Lebih Kering Akibat El Nino
Hamparan sawah di kawasan Sirnajati, Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, berubah menjadi tanah retak pada Senin (21/8/2023). Seorang penggembala kambing duduk b
Hamparan sawah di kawasan Sirnajati, Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, berubah menjadi tanah retak pada Senin (21/8/2023). Seorang penggembala kambing duduk berteduh di tepi lahan yang biasanya subur. Tanaman padi yang semestinya mulai menguning, kini meranggas sebelum waktunya. Pemandangan ini adalah fragmen awal dari kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino, yang peringatannya sudah disuarakan oleh otoritas iklim nasional.
Peringatan Dini dengan Data Resmi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan periode 2020, 2021, dan 2022. Analisis BMKG menunjukkan kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara simultan menekan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Data satelit mengonfirmasi anomali suhu muka laut di Pasifik tengah-timur telah mencapai ambang El Nino moderat, yang diproyeksikan menguat hingga akhir tahun.
“Musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021, dan 2022,” tulis BMKG dalam rilis resminya.
Akibatnya, awal musim hujan diprediksi mundur satu hingga dua dasarian, memperpanjang periode tanpa hujan yang sudah berlangsung sejak Mei di beberapa zona musim. BMKG merekomendasikan agar petani menunda tanam, sementara pemerintah daerah diminta menyiapkan mitigasi kekeringan.
Fenomena El Nino dan Jejak Kerusakannya
El Nino adalah pemanasan anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuator yang mengubah sirkulasi Walker, sehingga massa uap air yang seharusnya terbawa ke Indonesia justru bergeser ke timur. Secara statistik, El Nino mengurangi curah hujan musiman di Nusantara hingga 40% dari normal. Pada Agustus 2023, indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) tercatat +1,2°C—masuk kategori moderat dengan kecenderungan menguat. Ini adalah alarm bagi 42 juta hektare lahan pertanian Indonesia, terutama di Jawa dan Nusa Tenggara.
Rekam jejak historis memberikan konteks yang mencemaskan. El Nino kuat pada 2015 mengakibatkan 1,2 juta hektare lahan puso, dengan kerugian sektor pertanian mencapai Rp13 triliun menurut data Kementerian Pertanian. Tahun 2023, meskipun intensitas El Nino diprediksi lebih rendah, namun pengaruh IOD positif memperkuat efek pengeringan, menciptakan defisit air yang mungkin sebanding.
Dampak Konkret pada Petani dan Peternak
Di Sirnajati, petani mulai merasakan tekanan. Sumur-sumur dangkal menyusut drastis; irigasi teknis dari Waduk Jatiluhur yang bersumber dari Sungai Citarum melaporkan penurunan debit hingga 30%. Penggembala kambing harus menempuh jarak dua kali lipat untuk mencari rumput segar karena vegetasi di lahan kering hampir punah. Data Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menunjukkan sekitar 2.500 hektare padi terancam puso jika kemarau berlanjut hingga Oktober, sementara harga pakan ternak merangkak naik 15–20%.
BMKG secara tegas merekomendasikan penundaan musim tanam hingga November atau Desember 2023, saat hujan diproyeksikan mulai turun secara konsisten. Langkah antisipasi lain mencakup distribusi air bersih, penyediaan pompa, dan bantuan pakan ternak yang sudah mulai digerakkan oleh pemerintah kabupaten. Tanpa respons cepat, krisis pangan lokal dapat meluas dalam dua bulan ke depan.
[TAGS]: El Nino, BMKG, Kemarau 2023, Bekasi, Petani [SOCIAL_TWEET]: BMKG peringatkan kemarau 2023 lebih kering dari 3 tahun terakhir akibat El Nino. Petani di Bekasi mulai terimbas: sawah retak dan pakan ternak sulit. #Kemarau2023 #ElNino #BMKG [SOCIAL_FB]: Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih ganas karena El Nino. Bagaimana petani dan peternak di Bekasi bertahan? Baca laporan lengkap kami. [SOCIAL_TG]: 🌵 Kemarau 2023 lebih kering! BMKG peringatkan dampak El Nino. Peternak di Cibarusah sulit cari pakan. Waspada gagal panen.
Comments (0)