Biang Kerok Banjir Kepung Surabaya Saat Musim Kemarau

Surabaya, kota yang biasanya bergelut dengan panas dan debu di musim kemarau, mendadak dikepung banjir pada Selasa dan Rabu, 23–24 Juni 2026. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama dua hari

Jul 07, 2026 - 23:57
0 0
Biang Kerok Banjir Kepung Surabaya Saat Musim Kemarau

Surabaya, kota yang biasanya bergelut dengan panas dan debu di musim kemarau, mendadak dikepung banjir pada Selasa dan Rabu, 23–24 Juni 2026. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama dua hari berturut-turut membuat puluhan titik di Kota Pahlawan itu terendam air. Fenomena ini mengejutkan warga, sebab Juni seharusnya menjadi puncak musim kering. Tim Lurusin.com di lapangan melaporkan, genangan air dengan ketinggian bervariasi, mulai 20 hingga 50 sentimeter, melumpuhkan sejumlah ruas jalan utama dan permukiman padat penduduk.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung turun tangan memimpin operasi tanggap darurat. Di sela-sela peninjauan, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh warga.

“Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan,” ujar Eri dengan nada serius, seraya menginstruksikan jajarannya untuk mempercepat penanganan.

Pemicu Banjir di Luar Musim

Banjir saat kemarau jelas bukan perkara biasa. Eri Cahyadi membeberkan sejumlah biang kerok yang membuat hujan deras berubah menjadi bencana. Faktor pertama, intensitas curah hujan yang mencapai lebih dari 100 milimeter per hari—jauh melampaui rata-rata kemarau yang biasanya tak sampai 50 milimeter. “Ini bukan hujan biasa, volumenya luar biasa besar,” tegasnya kepada awak media kami. Kedua, sistem drainase kota yang belum mampu menelan debit air sebesar itu. Banyak saluran tersumbat oleh sampah rumah tangga, plastik, dan material padat lainnya yang membuat air sulit mengalir.

Ketiga, pendangkalan sungai-sungai di Surabaya. Eri menyoroti sedimentasi di beberapa titik aliran, termasuk di kawasan Karang Pilang dan Wonokromo, yang mengurangi daya tampung sungai. Keempat, alih fungsi lahan resapan air yang marak terjadi di wilayah pinggiran. Ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi spons alami kini banyak berubah menjadi kawasan permukiman dan pergudangan, sehingga air hujan langsung meluncur ke jalan dan sungai tanpa sempat meresap ke tanah.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mencatat lebih dari 35 titik banjir tersebar di 18 kelurahan. Kecamatan Sukolilo, Rungkut, dan Tambaksari menjadi wilayah terparah. Tim reaksi cepat dikerahkan untuk membersihkan saluran air, mengoperasikan pompa mobile, serta mengevakuasi warga yang rumahnya kemasukan air. Sejumlah kendaraan roda dua dan empat dilaporkan mogok akibat menerobos genangan tinggi.

Pemerintah Kota Surabaya mengklaim proyek normalisasi sungai dan pembangunan sumur resapan yang selama ini berjalan akan dikebut. Eri Cahyadi juga mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena berperan besar dalam memperparah sumbatan saluran. “Ini tanggung jawab kita bersama. Tanpa kesadaran warga, program sehebat apa pun akan percuma,” katanya.

Sementara itu, hujan masih berpotensi turun dalam beberapa hari ke depan. Warga diimbau tetap waspada dan melaporkan setiap titik banjir ke layanan darurat kota. Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa Surabaya masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam menata sistem pengelolaan air, terlebih di tengah cuaca yang kian sulit ditebak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Peneliti Data. Peneliti dan analis data untuk verifikasi.

Comments (0)

User