Bantul — Gegana Musnahkan Granat Nanas Aktif Temuan Warga

Bantul, 8 Juli 2026 — Tim Gegana Satuan Brimob Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Polres Bantul berhasil memusnahkan (disposal) sebuah granat t

Jul 08, 2026 - 10:50
0 0
Bantul — Gegana Musnahkan Granat Nanas Aktif Temuan Warga

Bantul, 8 Juli 2026 — Tim Gegana Satuan Brimob Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Polres Bantul berhasil memusnahkan (disposal) sebuah granat tangan jenis nanas yang masih dalam kondisi aktif. Penemuan terjadi pada Senin (6/7) di sebuah lokasi di Kabupaten Bantul. Granat tersebut ditemukan oleh warga dan segera dilaporkan ke pihak kepolisian setempat. Setelah menerima laporan, Tim Gegana diterjunkan ke lokasi untuk melakukan identifikasi dan prosedur pengamanan.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa granat berjenis fragmentasi dengan cangkang bersegmen—yang populer disebut granat nanas—masih memiliki detonator dan muatan bahan peledak inti (high explosive) yang utuh, sehingga digolongkan sebagai munisi aktif. Tim Gegana kemudian mengevakuasi granat ke area aman untuk dilakukan disposal dengan metode controlled detonation (peledakan terkendali) guna menghilangkan potensi bahaya ledakan tak terkendali.

Proses pemusnahan berlangsung pada hari yang sama dengan melibatkan peralatan penjinak bahan peledak (Jihandak) standar, termasuk bomb suit, peralatan x-ray portabel, dan alat peledak inisiator. Area pemusnahan disterilkan dalam radius pengamanan sesuai protokol operasional standar (SOP) penanganan bahan peledak. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan properti dalam insiden ini. Polisi mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan benda mencurigakan yang diduga peninggalan bahan peledak.

Analisis: Karakteristik Granat Nanas dan Ancaman Peninggalan Konflik

Granat tangan jenis nanas, secara teknis dikenal sebagai granat fragmentasi defensif, memiliki ciri khas permukaan bergerigi yang berfungsi untuk memecah cangkang menjadi ribuan fragmen (pecahan logam) saat meledak guna memaksimalkan daya bunuh terhadap personel. Pola fragmentasi ini menghasilkan radius letal yang bisa mencapai 15 meter dan radius bahaya hingga 230 meter, tergantung pada model dan muatan bahan peledak. Salah satu tipe yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah granat Mk 2 buatan Amerika Serikat, yang diproduksi massal pada era Perang Dunia II hingga Perang Korea, dan banyak beredar di kawasan Asia Tenggara sebagai surplus militer atau peninggalan konflik masa lalu.

Temuan granat aktif di wilayah DIY bukanlah kejadian pertama. Data dari Polda DIY dan catatan media menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, setidaknya terjadi lima kali penemuan munisi sisa konflik di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk granat tangan, amunisi senapan kaliber besar, dan bahan peledak rakitan. Granat nanas mendominasi temuan karena bentuknya yang mudah dikenali, namun sering diabaikan karena dianggap benda antik atau tidak berbahaya. Kesalahpahaman ini kerap berujung pada kecelakaan fatal.

Menurut data internal Sat Brimob Polda DIY, sepanjang tahun 2025 unit Jihandak menerima 12 laporan benda mencurigakan yang terindikasi bahan peledak, dengan 3 di antaranya terkonfirmasi sebagai granat aktif. Angka ini relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 11 laporan dan 4 konfirmasi. Meski jumlahnya kecil, risiko setiap penemuan bersifat tinggi karena usia munisi yang semakin uzur justru dapat meningkatkan sensitivitas detonator, sehingga penanganan harus dilakukan oleh personel bersertifikasi.

Perbandingan Prosedur Penanganan Granat Aktif oleh Gegana
TahapDeskripsiPeran Tim Jihandak
Identifikasi Awal Pemeriksaan visual dan penggunaan X-ray portabel untuk menentukan jenis, kondisi detonator, dan status aktif/aman Operator Rontgen & Analis Bahan Peledak
Pengamanan Lokasi Evakuasi warga dalam radius minimal 200 meter, pemasangan barikade, dan pengalihan lalu lintas Satuan Pengamanan & Polres setempat
Evakuasi Munisi Granat ditempatkan dalam wadah tahan ledak atau dijinjing dengan kendaraan khusus (bomb carrier) menuju area disposal Operator Bomb Technician & Asisten
Controlled Detonation Peledakan terkendali menggunakan inisiator listrik atau non-listrik. Muatan diperhitungkan agar tidak menghasilkan ledakan sekunder Commander & Teknisi Peledakan

“Granat nanas Mk 2 menggunakan sumbu tunda (time-delay fuze) sekitar 4-5 detik setelah pin ditarik. Jika ditemukan dalam kondisi pin masih terpasang, granat relatif stabil, namun getaran atau perubahan suhu dapat mengaktifkan mekanisme detonator yang sudah aus,” jelas seorang teknisi bahan peledak yang enggan disebutkan namanya.

Dari perspektif keamanan, penemuan granat aktif di permukiman warga menjadi pengingat bahwa ancaman peninggalan konflik masih nyata di beberapa daerah di Indonesia. Granat Mk 2 terutama banyak beredar di Pulau Jawa sebagai dampak dari distribusi senjata pasca-perang dan aktivitas intelijen pada masa konflik ideologis. Kepolisian dan TNI secara rutin melakukan operasi pemusnahan terhadap temuan semacam ini. Pada tahun 2025, Satuan Jihandak Gegana Polda DIY memusnahkan total 7 granat tangan dari berbagai jenis, naik dari 5 granat pada tahun 2024.

Prosedur disposal granat aktif sepenuhnya mengacu pada standar internasional seperti International Ammunition Technical Guidelines (IATG) dan UN ODA Guidelines for Destruction of Ammunition, yang diadopsi oleh Korps Brimob sebagai pedoman teknis. Metode controlled detonation dipilih karena paling aman untuk munisi dengan detonator yang tidak dapat dilepas tanpa risiko inisiasi. Metode alternatif seperti defusing (pemutusan detonator) hanya dilakukan pada munisi berukuran besar seperti bom pesawat atau ranjau, yang memerlukan pemindahan ke fasilitas khusus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User