Amblesan Parah di Pulo Gadung, Warga Resah Lima Bulan Penanganan Minim

Jakarta – Kondisi jalan yang mengalami amblesan di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, kian memburuk setelah lebih dari lima bulan tidak mendapat penanganan serius. Kerusakan yang semula hanya berup...

Jul 13, 2026 - 08:28
0 2
Amblesan Parah di Pulo Gadung, Warga Resah Lima Bulan Penanganan Minim

Jakarta – Kondisi jalan yang mengalami amblesan di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, kian memburuk setelah lebih dari lima bulan tidak mendapat penanganan serius. Kerusakan yang semula hanya berupa retakan kecil kini melebar dan menciptakan cekungan dalam yang membahayakan pengguna jalan. Warga setempat menyuarakan kekhawatiran karena lubang ambles tersebut terus meluas, terutama saat hujan turun, tanpa adanya langkah perbaikan yang berarti dari pihak terkait.

Kronologi Kerusakan yang Terabaikan

Menurut keterangan penduduk di sekitar lokasi, gejala amblesan mulai terlihat pada awal tahun 2026, tepatnya setelah musim hujan berkepanjangan. Seorang warga bernama Andi (42) menuturkan bahwa pada mulanya hanya muncul retakan selebar dua sentimeter di permukaan aspal. "Kami sudah melaporkan ke kelurahan sejak retakan itu terlihat, tetapi responsnya lambat. Sekarang kondisinya sudah sangat parah, kedalamannya bisa mencapai setengah meter," ujarnya. Data yang dihimpun oleh tim jurnalistik ini menunjukkan bahwa laporan warga tercatat di aplikasi resmi pengaduan sejak 15 Januari 2026, namun hingga kini status laporan masih tertera "dalam peninjauan".

Amblesan tersebut terletak di ruas jalan penghubung antara permukiman padat dan akses menuju kawasan industri. Posisinya yang strategis menyebabkan lalu lintas harian cukup tinggi, namun volume kendaraan yang melintas justru memperparah kondisi tanah yang labil. Berdasarkan pantauan di lapangan pada pertengahan Juni 2026, area amblesan telah mencapai diameter lebih dari empat meter dengan retakan menjalar ke bahu jalan. Beberapa penghuni rumah di tepi jalan mengaku tembok pagar mereka mulai merekah, meningkatkan kekhawatiran akan dampak yang lebih luas.

Faktor Pemicu Amblesan

Para ahli geoteknik yang dimintai pendapat menjelaskan bahwa fenomena amblesan di daerah perkotaan seperti Pulo Gadung umumnya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Pertama, kondisi tanah dasar yang jenuh air. Wilayah tersebut diketahui memiliki muka air tanah yang tinggi, sehingga ketika terjadi rembesan atau kebocoran saluran utilitas di bawah permukaan, tanah kehilangan daya dukungnya. Kedua, drainase yang buruk. Saluran air di sekitar lokasi amblesan didapati tersumbat sampah dan endapan lumpur, menyebabkan air hujan tidak teralirkan dengan baik dan malah meresap ke dalam lapisan tanah di bawah aspal.

Ketiga, aktivitas konstruksi di sekitar area. Dalam radius 500 meter dari titik amblesan, terdapat proyek pembangunan gedung bertingkat yang memompa air tanah secara intensif. Proses dewatering tersebut, jika tidak dikendalikan, dapat menciptakan rongga bawah tanah dan memicu penurunan tanah secara tiba-tiba. Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Dinas Sumber Daya Air mengakui adanya keterkaitan ini dalam rapat koordinasi internal, namun belum menerbitkan pernyataan resmi. Faktor keempat adalah usia infrastruktur jalan yang sudah melampaui masa layan dan minim perawatan berkala.

Dampak Multidimensi terhadap Masyarakat

Keterlambatan penanganan amblesan ini menimbulkan dampak yang tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga merambah ke sendi sosial dan ekonomi warga. Dari sisi keselamatan, sudah tercatat tiga insiden kendaraan bermotor yang hampir terperosok ke dalam lubang pada malam hari karena penerangan jalan yang minim. Salah seorang pengendara ojek daring, Budi (28), menceritakan pengalamannya: "Saya nyaris jatuh bersama penumpang karena tidak melihat lubang itu. Untung sempat mengerem mendadak."

Dampak ekonomi juga mulai terasa. Sejumlah pemilik toko di sepanjang jalan mengeluhkan penurunan omzet hingga 40 persen karena pembeli enggan melintasi area berbahaya tersebut. Akses menuju pasar tradisional dan sekolah menjadi terhambat, memaksa warga mencari rute memutar yang lebih jauh. Aktivitas bongkar muat di pergudangan sekitar juga terganggu karena truk besar tidak bisa melintas, sehingga biaya logistik membengkak. Selain itu, nilai properti di radius 200 meter dari amblesan dilaporkan turun, menimbulkan keresahan di kalangan pemilik rumah.

Dampak lingkungan pun tidak kalah serius. Cekungan tersebut kerap tergenang air dan menjadi sarang nyamuk, meningkatkan risiko penyakit demam berdarah di musim hujan. Limbah rumah tangga yang mengalir ke dalam lubang menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari tanah di sekitarnya. Warga sudah berulang kali menggelar pertemuan dengan pihak kelurahan, tetapi solusi konkret yang dijanjikan tak kunjung datang.

Respons Pemerintah dan Langkah Mendesak

Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Suku Dinas Bina Marga Jakarta Timur, saat dikonfirmasi, menyatakan bahwa pihaknya telah menyusun rencana perbaikan. "Kami sudah melakukan survei dan memasukkan penanganan amblesan ini ke dalam program prioritas triwulan ketiga. Saat ini masih menunggu ketersediaan anggaran dan alat berat," jelasnya. Namun, hingga awal Juli 2026, belum ada aktivitas perbaikan yang terlihat di lapangan selain pemasangan garis pembatas dan rambu peringatan seadanya yang sering kali rusak diterjang kendaraan.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari komisi infrastruktur, yang dihubungi terpisah, menyesalkan lambatnya respons eksekutif. Ia menekankan bahwa kondisi darurat seperti ini seharusnya bisa ditangani melalui mekanisme anggaran tanggap bencana, tanpa harus menunggu jadwal rutin. "Kalau sudah ada korban jiwa, baru ribut. Ini sudah lima bulan lebih, masa iya segitu susahnya menambal jalan ambles?" tegasnya.

Sementara itu, kalangan akademisi menyarankan agar Pemprov DKI segera melakukan investigasi bawah permukaan dengan metode geolistrik untuk memetakan rongga yang mungkin terbentuk. Penanganan komprehensif harus mencakup perbaikan sistem drainase, penghentian sementara pemompaan air tanah di sekitar, serta pengisian kembali material yang hilang dengan teknik grouting. Tanpa langkah tersebut, penambalan aspal permukaan hanya akan bersifat sementara dan berpotensi jebol kembali dalam hitungan minggu.

Warga Pulo Gadung berharap agar peringatan ini tidak lagi diabaikan. Mereka meminta agar jalur amblesan tersebut segera ditutup total demi keselamatan dan perbaikan permanen segera dilaksanakan. "Kami capek dengan janji-janji. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata sebelum musibah benar-benar terjadi," pungkas Andi, mewakili suara warga yang kian frustrasi. Dengan musim hujan yang diprediksi akan kembali datang dalam beberapa bulan ke depan, waktu untuk bertindak semakin sempit.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User