Alumni Lemhannas Dorong Kriptografi untuk Tangkal Ancaman Siber
Jakarta — Dr. Sulistyo, alumnus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 62 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, menegaskan pentingnya penguasaan k
Jakarta — Dr. Sulistyo, alumnus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 62 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, menegaskan pentingnya penguasaan kriptografi sebagai pilar utama pertahanan siber nasional. Pemerhati keamanan siber yang juga mendalami kriptografi ini menyoroti masifnya serangan digital terhadap infrastruktur kritis Indonesia sepanjang tahun ini.
Rekam Jejak di Lemhannas
Dr. Sulistyo menyelesaikan pendidikan di PPRA 62 Lemhannas RI, program yang mencetak kader pemimpin strategis berbasis ketahanan nasional. Selama mengikuti program, ia memfokuskan riset pada integrasi kriptografi dalam sistem pertahanan negara, sebuah pendekatan yang kini kian relevan.
“Kriptografi bukan sekadar ilmu matematika, melainkan garda terdepan dalam menjaga kedaulatan data. Tanpa pengamanan komunikasi yang kuat, seluruh sistem pertahanan kita rentan dibobol,” ujar Dr. Sulistyo dalam diskusi terbatas akhir pekan lalu.
Ancaman Siber yang Kian Kompleks
Dr. Sulistyo memaparkan data terbaru: sepanjang semester pertama 2025, tercatat lebih dari 1,2 miliar anomali lalu lintas yang terdeteksi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), naik 37 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Serangan ransomware terhadap lembaga pemerintah, perbankan, dan sektor energi disebutnya sebagai ancaman nyata yang memerlukan respons berbasis kriptografi kuat.
- Peningkatan serangan ransomware pada sektor kesehatan mencapai 142%.
- Potensi kebocoran data pribadi menyentuh 64,5 juta pengguna dari serangkaian insiden di platform digital.
- Hanya 28% instansi pemerintah yang telah mengadopsi enkripsi end-to-end pada layanan publik.
Kriptografi untuk Pertahanan Nasional
Menurut Dr. Sulistyo, penguatan kapasitas kriptografi domestik harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak bergantung pada algoritma asing yang berisiko disusupi backdoor. Ia mendorong kolaborasi antara Lemhannas, BSSN, dan perguruan tinggi untuk membangun algoritma buatan dalam negeri.
“Kita perlu kemandirian kriptografi. Algoritma buatan sendiri akan menjamin integritas dan kerahasiaan data strategis tanpa campur tangan pihak eksternal,” tegasnya.
Langkah Konkret ke Depan
Sebagai pemerhati, Dr. Sulistyo merekomendasikan tiga pilar aksi: (1) sertifikasi keamanan siber berbasis kompetensi bagi seluruh aparatur negara, (2) pembentukan pusat inovasi kriptografi nasional, dan (3) pengarusutamaan mata kuliah kriptografi di program studi terkait pertahanan. Ia juga mendorong Lemhannas untuk memasukkan modul keamanan siber secara lebih intensif dalam setiap angkatan PPRA.
[SOCIAL_TWEET]: Kriptografi jadi kunci pertahanan siber Indonesia. Dr. Sulistyo (PPRA 62 Lemhannas) ungkap data serangan naik 37% & desak kemandirian algoritma. #KeamananSiber #KriptografiNasional #Lemhannas[SOCIAL_TG]: 🔐 Dr. Sulistyo, alumni PPRA 62 Lemhannas, soroti lonjakan serangan siber 37% dan pentingnya kemandirian kriptografi nasional. Yuk pahami bareng-bareng.
Comments (0)