Akhir Riwayat Salju Abadi di Puncak Jayawijaya

Lapisan es abadi yang selama ribuan tahun bersemayam di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, kini berada di ambang kepunahan. Gletser tropis terakhir di Asia ini terus menyusut dengan laju yang semaki...

Jul 12, 2026 - 17:05
0 0
Akhir Riwayat Salju Abadi di Puncak Jayawijaya

Lapisan es abadi yang selama ribuan tahun bersemayam di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, kini berada di ambang kepunahan. Gletser tropis terakhir di Asia ini terus menyusut dengan laju yang semakin cepat, mendorong para ilmuwan untuk menghitung mundur waktu sebelum seluruh es menghilang selamanya dari tanah Papua.

Kondisi Terkini Gletser Tropis Terakhir

Data pemantauan satelit dan observasi lapangan menunjukkan bahwa luas area es di Puncak Jayawijaya telah berkurang drastis dalam beberapa dekade terakhir. Pada pertengahan abad ke-20, hamparan es masih menutupi area seluas lebih dari 20 kilometer persegi. Kini, luasnya menyusut hingga di bawah satu kilometer persegi—hampir 98 persen massa es telah lenyap. Penyusutan ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan tren penurunan permanen yang dipicu oleh peningkatan suhu global. Suhu rata-rata di wilayah pegunungan Papua naik sekitar 0,3 derajat Celsius per dekade, lebih tinggi dari rata-rata kenaikan global. Akibatnya, batas salju turun, dan gletser kehilangan kemampuan untuk mempertahankan diri dari pencairan.

Beberapa penelitian mencatat bahwa gletser Puncak Jayawijaya kehilangan ketebalan es hingga dua meter setiap tahunnya. Aliran air lelehan yang deras dari puncak menjadi pemandangan biasa, membentuk danau-danau kecil di ketinggian yang sebelumnya beku. Fenomena ini diperparah oleh kejadian El Niño yang lebih sering dan intens, yang membawa suhu hangat dan curah hujan tinggi ke kawasan tropis, sehingga mempercepat pencairan permukaan es.

Proyeksi Waktu Kepunahan

Model iklim terbaru mengindikasikan bahwa sisa salju abadi di Jayawijaya kemungkinan besar tidak akan bertahan melampaui tahun 2030. Beberapa skenario yang lebih pesimistis bahkan menyebut tahun 2026 sebagai batas akhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama lembaga riset internasional telah mengeluarkan peringatan bahwa hilangnya gletser tropis ini hanya tinggal hitungan tahun, bukan lagi puluhan tahun. Proyeksi ini didasarkan pada laju penyusutan rata-rata 0,07 kilometer persegi per tahun yang teramati dalam dua dekade terakhir. Dengan sisa luasan sekitar 0,5 kilometer persegi, maka secara matematis seluruh es akan tiada dalam waktu 6–8 tahun ke depan.

Yang lebih mengkhawatirkan, percepatan penyusutan bersifat eksponensial; semakin kecil gletser, semakin besar proporsi massa yang hilang setiap tahunnya karena efek tepi dan paparan suhu hangat. Es yang dulunya bertumpu di lembah tinggi kini tercerai-berai menjadi bongkahan kecil yang mencair lebih cepat. Ketika inti es dingin sudah terekspos, tidak ada mekanisme alam yang bisa menahannya.

Dampak dan Harapan

Punahnya salju abadi di Jayawijaya bukan sekadar kehilangan estetika lanskap. Gletser ini merupakan sumber air tawar penting bagi ekosistem pegunungan dan masyarakat adat di sekitarnya. Aliran air lelehan yang konsisten menjadi penopang kehidupan flora dan fauna endemik, serta menyediakan air bagi perkampungan di lereng. Hilangnya pasokan air musiman akan memaksa perubahan pola tanam dan mengancam ketahanan pangan lokal. Selain itu, dari sudut pandang ilmiah, gletser tropis adalah arsip iklim purba yang menyimpan data berharga tentang perubahan atmosfer ribuan tahun silam. Kepunahannya berarti kehilangan rekam jejak iklim yang tak tergantikan.

Meski upaya mitigasi global seperti pengurangan emisi gas rumah kaca masih terus digaungkan, dampaknya terlalu lambat untuk menyelamatkan es Jayawijaya. Para peneliti kini lebih fokus pada pendokumentasian terakhir dan penyelamatan sampel inti es sebelum semuanya mencair. Proyek pengeboran es dalam telah dilakukan untuk menyimpan informasi iklim historis di bank data global. Kisah salju abadi Jayawijaya menjadi pelajaran nyata tentang betapa rentannya warisan alam kita terhadap perubahan iklim yang kian tak terbendung. Di balik keindahannya yang masih tersisa, puncak gunung es itu kini berbisik lirih: waktu hampir habis.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User