A.H. Johns Sebut Sufi, Bukan Pedagang, Aktor Islamisasi Nusantara

JAKARTA — Teori lama bahwa para pedagang Muslim dari Timur Tengah menjadi aktor utama penyebaran Islam di Nusantara mendapatkan sanggahan keras dari akadem

Jul 13, 2026 - 06:17
0 0
A.H. Johns Sebut Sufi, Bukan Pedagang, Aktor Islamisasi Nusantara

JAKARTA — Teori lama bahwa para pedagang Muslim dari Timur Tengah menjadi aktor utama penyebaran Islam di Nusantara mendapatkan sanggahan keras dari akademisi dan sejarawan terkemuka, Anthony Hearle Johns. Pria yang lebih dikenal sebagai A.H. Johns ini menyatakan kecil kemungkinan para pedagang memegang peran sentral. Sebaliknya, ia menunjuk para sufi sebagai pelaku sejati di balik proses peralihan keyakinan masyarakat kepulauan ini secara damai.

Akar Teori Pedagang yang Mulai Diragukan

Selama bertahun-tahun, buku-buku teks sejarah populer mengajarkan bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim. Saudagar Gujarat, Arab, dan Persia disebut singgah, menetap, lalu menikahi perempuan setempat sambil memperkenalkan tauhid. Namun, bagi Johns, narasi itu terlalu menyederhanakan kompleksitas sosial dan spiritual yang terjadi.

"Pedagang memang datang dan berinteraksi, tetapi motif utama mereka adalah ekonomi, bukan dakwah. Mereka mungkin membangun masjid kecil untuk komunitasnya, tetapi itu berbeda dengan upaya terencana mengislamkan masyarakat pribumi," demikian inti argumen Johns yang dikutip dari berbagai sumber akademiknya. Tantangan terbesar adalah menjelaskan bagaimana ajaran Islam bisa begitu cepat menggantikan Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal tanpa dukungan kekuatan militer atau penaklukan.

Sufisme: Kunci yang Selaras dengan Jiwa Nusantara

Menurut Johns, para sufi adalah kelompok yang bekerja di luar logika transaksi ekonomi. Mereka adalah guru-guru spiritual pengelana, seringkali tidak terikat kekuasaan kerajaan, dan datang dengan misi menyebarkan tasawuf. Pendekatan mereka sangat personal: mengajarkan kesederhanaan, menyatu dengan masyarakat, bahkan mengadaptasi elemen budaya setempat seperti wayang dan syair.

Johns menyoroti bahwa mistisisme Islam yang dibawa sufi menemukan tanah subur di kalangan masyarakat yang saat itu sudah akrab dengan tradisi mistik Hindu-Buddha. Konsep-konsep seperti makrifat dan tarekat lebih mudah dipahami karena memiliki kemiripan dengan pencarian spiritual yang sudah ada. Peran inilah, bukan tawar-menawar harga rempah, yang menjelaskan mengapa Islam bisa merasuk hingga ke pelosok.

"Para sufi menawarkan jalan spiritual yang menyentuh hati, bukan sekadar ritual yang dipaksakan. Mereka menyebarkan Islam sebagai pengalaman batin yang universal, itulah daya tarik utama yang tidak dimiliki pedagang," tulis Johnd dalam salah satu esainya tentang Islam Asia Tenggara.

Transformasi Lanskap Keagamaan dan Politik

Pengaruh sufi tidak berhenti pada level individu. Di banyak kerajaan pesisir, para sufi dan guru tarekat kerap menjadi penasihat raja, guru para pangeran, serta mediator di saat konflik. Konversi penguasa seringkali terjadi bukan karena bujukan dagang, melainkan oleh karisma dan kedalaman ilmu seorang wali. Setelah raja masuk Islam, rakyat mengikuti secara organik, sebuah pola yang terlihat di Malaka, Demak, hingga Ternate.

Berikut adalah beberapa bukti dan peran penting sufi dalam proses Islamisasi menurut kajian Johns:

  • Naskah-naskah awal: Karya-karya seperti Durrat al-Fara'id dan syair Hamzah Fansuri menunjukkan corak tasawuf yang dominan sejak abad ke-16.
  • Pola penyebaran: Peta masuknya Islam sering kali tumpang tindih dengan persebaran tarekat, seperti Qadiriyah, Syattariyah, dan Naqsyabandiyah.
  • Ritual dan budaya: Dzikir, haul, dan manaqiban yang masih lestari adalah jejak langsung tradisi sufi, bukan warisan pedagang di pasar.
  • Wali Songo: Para wali di Jawa lebih dikenal sebagai guru sufi, bukan saudagar. Kisah Sunan Kalijaga yang berdakwah lewat wayang adalah contoh adaptasi kultural sufi.

Penolakan Narasi Tunggal dan Warisan Sufi

Argumen A.H. Johns bukan berarti menihilkan peran pedagang sama sekali. Ia mengakui bahwa perdagangan menyediakan jalur transportasi dan jaringan antarkota, tetapi menegaskan bahwa "aktor" utama yang mengisi jaringan itu dengan ajaran Islam adalah para guru sufi yang bepergian bersama rombongan dagang atau secara independen. Dialektika ini penting agar sejarah tidak sekadar direduksi menjadi motif ekonomi.

Hingga kini, warisan sufisme tetap terasa kuat di Indonesia. Ribuan pesantren masih mengajarkan kitab-kitab tasawuf seperti Ihya Ulumuddin dan Al-Hikam. Tradisi ziarah kubur wali dan tahlilan—yang kerap menuai perdebatan—adalah respons terhadap model Islam yang dibawa para sufi pada abad pertama penyebarannya. Bagi Johns, inilah bukti paling nyata bahwa pertemuan awal Islam dengan Nusantara adalah pertemuan dua arus spiritualitas, bukan transaksi dagang di pelabuhan.

Penelitian A.H. Johns mendorong kita untuk memandang proses Islamisasi sebagai kisah para pencari Tuhan yang rela mengembara, berdakwah dengan cinta dan kesenian, menjahit harmoni dalam rona lokal yang kaya. Cerita sufi ini jauh lebih romantis dan kuat ketimbang sekadar kalkulasi untung-rugi di geladak kapal kayu.

[SOCIAL_TWEET]: Bukan pedagang, melainkan para sufi yang jadi aktor utama penyebaran Islam di Nusantara. Sejarawan A.H. Johns membalik narasi buku teks: harmoni tasawuf dan budaya lokal jadi kunci. #SejarahIslam #Nusantara #Sufisme #AHJohns[SOCIAL_TG]: 🕌 Sejarawan A.H. Johns: Bukan saudagar, para *sufi* lah yang mengislamkan Nusantara! Dakwah cinta dan budaya lokal jadi resep damai yang mengakar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User