Retakan tanah menganga membelah hamparan persawahan di Kabupaten Way Kanan, Lampung. Ratusan batang padi yang seharusnya mulai menguning kini justru meranggas, berubah warna menjadi cokelat keabu-abuan akibat ketiadaan air. Krisis kekeringan ekstrem resmi menelan puluhan hektare lahan pertanian pangan produktif, memicu pukulan telak bagi para petani yang menggantungkan hidup pada musim tanam kali ini.
Berdasarkan data dan investigasi lapangan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Way Kanan, tercatat sedikitnya 70,75 hektare tanaman padi dipastikan mengalami gagal panen total alias puso. Seluruh tanaman di area tersebut dinyatakan sudah tidak lagi bisa diselamatkan karena ketiadaan cadangan air permukaan maupun air tanah.
Dua Kecamatan Menjadi Episentrum Puso
Laporan monitoring per September mencatat dua wilayah utama yang menanggung dampak paling parah dari bencana hidrometeorologi ini, yaitu Kecamatan Banjit dan Kecamatan Negeri Agung. Banjit menjadi wilayah paling terpukul dengan kehilangan lahan produktif terluas.
- Kecamatan Banjit: Menghadapi kehancuran lahan seluas 70,50 hektare yang kering kerontang.
- Kecamatan Negeri Agung: Kehilangan 0,25 hektare sawah siap produksi akibat terhentinya pasokan air.
Kepala Dinas TPHP Way Kanan, Falahudin, menegaskan bahwa upaya penyelamatan teknis melalui pompanisasi darurat terhambat total karena hilangnya sumber air di sekitar perimeter persawahan terdampak.
“Di lokasi tersebut sudah tidak ada lagi sumber air yang bisa ditarik. Kondisinya mengering total, sehingga tanaman padi yang terdampak sudah tidak dapat diselamatkan,” tegas Falahudin saat membeberkan laporan evaluasi tanaman pangan daerah.
Dugaan Masalah Infrastruktur Irigasi Kalijunong
Kekeringan ini tidak semata-mata dipicu oleh anomali cuaca tanpa hujan. Penelusuran di lapangan mengungkap adanya faktor kerentanan infrastruktur. Petani di kawasan Banjit telah lama mengeluhkan kerusakan pada jaringan irigasi Kalijunong yang tak kunjung mendapatkan perbaikan menyeluruh.
Saluran irigasi yang semestinya menjadi benteng pertahanan terakhir saat musim kemarau justru tidak mampu mendistribusikan debit air secara optimal ke petak-petak tersier. Akibatnya, ketika kemarau tiba, tanah pertanian kehilangan kelembapan secara drastis dalam hitungan pekan. Kondisi ini membuat para petani hanya bisa pasrah menyaksikan modal tanam mereka lenyap tak berbekas.
Ancaman Terhadap Ketahanan Pangan Daerah
Kabupaten Way Kanan saat ini tercatat memiliki total 4.118,5 hektare lahan tanaman padi yang tersebar di 12 kecamatan. Dari luasan tersebut, sebanyak 1.899 hektare saat ini tengah berkejaran dengan waktu menuju masa panen.
Kendati dinas setempat mengklaim bahwa kekeringan belum melumpuhkan seluruh sentra padi kabupaten, ancaman eskalasi tetap membayangi jika kemarau berlanjut tanpa adanya intervensi pasokan air buatan atau pembenahan irigasi primer. Petani kini menuntut langkah konkret pemerintah daerah untuk segera merehabilitasi bendung dan saluran air yang rusak agar musim tanam berikutnya tidak kembali menjadi bencana ekonomi pedesaan.
Comments (0)