Waspada Link Pendaftaran BLT via Ponsel, Ini Cek Faktanya
Tangkapan layar berisi tautan pendaftaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diklaim dapat diakses melalui ponsel beredar luas di grup WhatsApp dan Facebook
Tangkapan layar berisi tautan pendaftaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diklaim dapat diakses melalui ponsel beredar luas di grup WhatsApp dan Facebook dalam sepekan terakhir. Pesan tersebut menjanjikan pencairan dana bansos hingga Rp600.000 dengan cara mengisi data pribadi di sebuah situs mencurigakan. Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran informasi ini bersama Kementerian Sosial dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Modus Phising Mengatasnamakan BLT
Setelah diperiksa, tautan yang tercantum dalam pesan—berakhiran .xyz—tidak mengarah ke domain resmi pemerintah. Situs tersebut menampilkan formulir digital yang meminta nama lengkap, nomor NIK KTP, alamat, hingga nomor rekening bank. Modus ini merupakan teknik phishing yang bertujuan mencuri data pribadi untuk digunakan dalam penipuan perbankan atau peminjaman online ilegal. “Kami tidak pernah menyebarkan link pendaftaran BLT melalui pesan berantai WhatsApp ataupun SMS. Semua informasi resmi hanya disampaikan lewat laman cekbansos.kemensos.go.id,” tegas Juru Bicara Kemensos, Dr. Rahmat Hidayat, M.Si., dalam konferensi pers virtual (13/7/2025).
Ciri-Ciri Situs Pendaftaran Resmi
Kementerian Sosial menegaskan bahwa pendaftaran bansos hanya dilakukan melalui perangkat desa/kelurahan atau aplikasi Cek Bansos resmi yang diunduh dari toko aplikasi resmi. Situs palsu biasanya memiliki karakteristik: alamat domain aneh, banyak kesalahan ketik, meminta data yang tidak relevan seperti kode OTP atau PIN ATM, dan muncul tanpa pemberitahuan resmi. Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa secure socket layer (SSL) situs yang dikunjungi; situs pemerintah selalu menggunakan domain .go.id.
Dampak Jika Data Pribadi Bocor
Mengisi formulir di situs palsu dapat berakibat fatal. Data NIK dan KK yang dicuri kerap disalahgunakan untuk membuat akun pinjaman daring tanpa sepengetahuan korban. BSSN mencatat, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 31.000 laporan pencurian data yang dipicu oleh phishing mengatasnamakan bansos. Modusnya selalu serupa: memanfaatkan situasi ekonomi sulit dan kebutuhan mendesak masyarakat.
“Ini kejahatan siber terstruktur. Pelaku membangun situs mirip portal resmi, lalu menyebarkannya secara massal melalui media sosial. Begitu korban mengisi data, informasi itu langsung dijual di pasar gelap,” jelas Andi Rizki, analis keamanan siber dari BSSN, saat dihubungi Liputan6.com.
Data Penyaluran BLT yang Sebenarnya
Pemerintah memang menyalurkan BLT melalui beberapa program, seperti BLT Dana Desa, Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), dan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, penyalurannya dilakukan berdasarkan data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang diverifikasi oleh pemerintah daerah. Tidak ada pendaftaran massal melalui tautan luar. Kemensos menegaskan, seluruh bantuan bersifat by name by address dan tidak memerlukan pengisian ulang data daring di luar kanal resmi.
Imbauan untuk Masyarakat
Jika menemukan pesan serupa, segera laporkan ke Call Center Kemensos 1500777 atau melalui fitur pelaporan di aplikasi perpesanan. Jangan klik tautan mencurigakan, apalagi mengisi data pribadi. Pengecekan status penerima bansos hanya bisa dilakukan di situs resmi cekbansos.kemensos.go.id dengan memasukkan NIK tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
[SOCIAL_TWEET]: Hati-hati! Beredar link pendaftaran BLT via ponsel yang ternyata modus pencurian data. Kemensos pastikan itu hoaks. Jangan klik, jangan isi data! #CekFakta #Bansos #Phising[SOCIAL_TG]: ⚠️🚫 Waspada! Banyak yang tertipu link pendaftaran BLT palsu. Situsnya minta NIK, alamat, sampai nomor rekening. Itu modus phising buat curi data. Pendaftaran bansos gak pernah lewat link random. Jaga datamu, ya!
Comments (0)