Klaim Aphelion Sebabkan Meriang karena Bumi Lebih Dingin
Sebuah unggahan viral di media sosial dan aplikasi perpesanan mengklaim bahwa fenomena Aphelion—titik terjauh Bumi dari Matahari—membuat suhu Bumi turun dr
Sebuah unggahan viral di media sosial dan aplikasi perpesanan mengklaim bahwa fenomena Aphelion—titik terjauh Bumi dari Matahari—membuat suhu Bumi turun drastis sehingga menimbulkan gejala meriang, flu, dan gangguan pernapasan. Pesan berantai itu bahkan menyertakan saran untuk menjaga kesehatan dengan minum air hangat dan menghindari aktivitas di luar ruangan selama beberapa hari ke depan. Tim Cek Fakta Liputan6.com pun menelusuri kebenaran narasi tersebut dengan merujuk pada data astronomi dan penjelasan otoritas cuaca nasional.
Apa Itu Aphelion dan Kapan Terjadi?
Aphelion adalah peristiwa tahunan ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Pada 2025, fenomena ini terjadi pada awal Juli dengan jarak sekitar 152,1 juta kilometer. Sebaliknya, pada Perihelion di Januari, Bumi berada di titik terdekat, sekitar 147,1 juta kilometer. Perbedaan jarak ini hanya sekitar 3 persen, sehingga pengaruhnya terhadap suhu global sangat kecil—bahkan bisa diabaikan jika dibandingkan dengan faktor-faktor iklim lain seperti kemiringan sumbu Bumi dan pola angin muson.
Pengaruh Aphelion Terhadap Suhu Bumi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya telah berulang kali membantah klaim yang mengaitkan Aphelion dengan penurunan suhu ekstrem. Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, suhu dingin yang dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia pada Juli–Agustus bukan disebabkan oleh Aphelion, melainkan oleh monsun Australia yang membawa udara kering dan dingin dari Benua Australia ke Asia Tenggara.
“Jarak Bumi-Matahari saat Aphelion hanya berbeda sekitar 5 juta kilometer dari rata-rata. Variasi radiasi matahari yang diterima Bumi akibat perbedaan ini sangat kecil, kurang dari 7 persen, dan tidak cukup signifikan untuk menyebabkan perubahan suhu yang terasa secara langsung oleh manusia,” ujar Dr. Andi Eka Sakya, ahli astronomi Institut Teknologi Bandung, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (11/7/2025).
Data suhu permukaan menunjukkan bahwa pada minggu yang sama saat pesan hoaks beredar, suhu minimum di Bandung tercatat 18 derajat Celsius, Jakarta 24 derajat, dan Sumatera bagian selatan 22 derajat. Angka tersebut masih dalam batas normal musim kemarau basah. Tidak ada anomali penurunan suhu yang berkaitan dengan posisi orbit Bumi.
Mengapa Banyak yang Percaya?
Pesan berantai itu memanfaatkan ketidaktahuan publik tentang astronomi sekaligus memainkan kekhawatiran kesehatan di tengah musim pancaroba. Narasi yang dibumbui istilah ilmiah seperti “Aphelion” membuatnya tampak meyakinkan. Padahal, gejala meriang dan flu lebih terkait dengan sirkulasi virus musiman dan perubahan kelembapan, bukan jarak Matahari. Di sinilah pentingnya literasi sains dan pengecekan fakta sebelum menyebarkan informasi.
Kesimpulan: Hoaks yang Berulang
Klaim bahwa Aphelion menyebabkan cuaca lebih dingin dan meriang adalah hoaks kategori misinformasi. Narasi serupa muncul setiap tahun dan telah berulang kali dibantah oleh BMKG serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)–kini menjadi BRIN. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan pesan tersebut dan selalu memverifikasi informasi terkait fenomena alam melalui kanal resmi.
[SOCIAL_TWEET]: Pesan viral sebut Aphelion bikin meriang karena Bumi lebih dingin? Itu hoaks. BMKG tegaskan suhu dingin disebabkan monsun Australia, bukan jarak Matahari. Jangan ikut sebarkan! #CekFakta #Aphelion #Hoaks[SOCIAL_TG]: 🌏🚫 Hoaks Aphelion kembali beredar! Katanya Bumi menjauh dari Matahari bikin suhu turun dan orang meriang. Faktanya, dingin ini karena muson Australia, bukan jarak. Cek penjelasan lengkapnya di sini!
Comments (0)