NEW YORK — Babak semifinal tunggal putri turnamen Grand Slam US Open menyajikan laga klasik berintensitas tinggi di Arthur Ashe Stadium, Flushing Meadows. Untuk pertama kalinya sejak 1975, empat unggulan teratas dunia berhasil menembus babak empat besar secara bersamaan. Laga puncak penuh gengsi ini mempertemukan unggulan pertama asal Belarusia, Aryna Sabalenka, melawan wakil tuan rumah unggulan ketiga, Jessica Pegula.
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket menuju final, melainkan panggung pembuktian rivalitas sengit. Sabalenka datang dengan misi mencetak sejarah three-peat atau memenangi US Open tiga kali beruntun, sementara Pegula berambisi mematahkan dominasi lawannya di panggung Grand Slam setelah beberapa kali takluk di New York.
Kronologi Rivalitas di Flushing Meadows: Upaya Pegula Menembus Kutukan
Penyelidikan atas riwayat pertemuan kedua pemain menunjukkan dominasi Sabalenka secara keseluruhan dengan rekor head-to-head 9-4. Namun, catatan di turnamen mayor menjadi tembok tebal yang terus coba diruntuhkan oleh Pegula melalui fase-fase penting berikut:
- Final US Open 2024: Pegula harus mengubur mimpinya meraih gelar Grand Slam perdana di kandang sendiri setelah ditaklukkan Sabalenka dalam pertarungan sengit straight set.
- Semifinal US Open 2025: Setahun berselang, kedua petenis kembali bentrok di babak empat besar. Sabalenka kembali mengungguli Pegula lewat dominasi servis bertenaga dan pukulan forehand agresif.
- Tur WTA Pasca-2025: Pegula mulai menemukan formula perlawanan dengan memenangi dua dari tiga pertemuan terakhir mereka di turnamen reguler WTA.
- Semifinal US Open 2026: Pertemuan ketiga berturut-turut di Flushing Meadows menjadi uji konsistensi mental bagi petenis Amerika Serikat berusia 32 tahun tersebut.
"Saya rasa sangat menarik melihat rivalitas yang kami miliki. Dia berhasil mengalahkan saya di sini selama beberapa tahun terakhir. Saya sempat mengalahkannya di turnamen yang lebih kecil, jadi pertandingan ini adalah rintangan besar yang harus saya lewati," tegas Jessica Pegula menjelang laga.
Perburuan Rekor Sejarah Sabalenka dan Pergeseran Takhta Dunia
Bagi Sabalenka, kemenangan di New York akan menyejajarkan namanya dengan legenda tenis dunia seperti Chris Evert dan Serena Williams sebagai petenis putri yang mampu meraih tiga gelar US Open secara beruntun. Meski demikian, tekanan psikologis membayangi Sabalenka setelah ia dipastikan kehilangan predikat peringkat 1 dunia WTA pada pembaruan klasemen mendatang.
Kepastian hilangnya takhta Sabalenka terjadi menyusul kemenangan unggulan kedua asal Kazakhstan, Elena Rybakina, yang berhasil menembus babak semifinal lainnya untuk menantang juara US Open 2023, Coco Gauff. Rybakina dipastikan mengunci posisi puncak dunia terlepas dari hasil akhir turnamen, meski fokus utamanya tetap pada trofi Grand Slam ketiga dalam kariernya.
"Meraih peringkat satu dunia adalah pencapaian yang berbeda. Namun pada akhirnya, yang paling Anda pikirkan dan prioritaskan adalah memenangkan gelar juara," ujar Rybakina menegaskan fokusnya.
Dengan komposisi empat petenis terbaik dunia di semifinal, persaingan tunggal putri US Open tahun ini mencatatkan rekor kualitas tertinggi dalam lima dekade terakhir. Pertarungan antara daya serang eksplosif Sabalenka dan akurasi defensif Pegula diprediksi menjadi kunci penentu peta kekuatan tenis putri dunia musim ini.
Comments (0)