Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Tujuan dan Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi spiritual yang sarat m...

Tujuan dan Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi spiritual yang sarat makna. Peringatan lazim digelar pada bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Rasulullah, dengan beragam bentuk ekspresi: pembacaan shalawat, ceramah agama, pembacaan sejarah perjuangan Nabi, hingga kegiatan sosial yang mempererat kebersamaan umat.

Tujuan Utama Peringatan Maulid

Berdasarkan kajian para ulama, tujuan memperingati Maulid Nabi di antaranya adalah menumbuhkan kegembiraan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke dunia merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia. Melalui peringatan ini, umat diajak merenungkan kembali nikmat berupa sosok panutan yang membawa petunjuk, sehingga rasa syukur itu terwujud dalam bentuk ibadah dan amal nyata, bukan sekadar euforia sesaat.

Selain itu, Maulid menjadi sarana untuk mempertebal rasa cinta kepada Rasulullah. Cinta dalam Islam bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan dibuktikan dengan mengikuti jejak dan teladannya. Momentum ini mengingatkan kembali perjalanan hidup Nabi, dari kelahiran hingga perjuangan dakwahnya, agar kecintaan tersebut tumbuh dalam setiap generasi, terutama generasi muda yang tidak hidup di zaman kenabian.

Meneladani Akhlak dan Perjuangan Nabi

Peringatan Maulid juga bertujuan menghidupkan kembali keteladanan akhlak dan perjuangan Nabi. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, kesabaran, dan kasih sayang yang melekat pada diri Rasulullah seharusnya menjadi cermin bagi kehidupan sehari-hari. Dengan mendalami sirah nabawiyah, umat dapat menarik pelajaran konkret untuk diterapkan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di sisi lain, momentum Maulid dimanfaatkan sebagai media dakwah yang efektif. Berkumpulnya umat dalam satu majelis membuka ruang untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan semangat beramal. Banyak komunitas yang menyisipkan kegiatan santunan anak yatim dan berbagi makanan pada peringatan ini, sehingga dimensi sosialnya pun terasa nyata.

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Mengenai hukum memperingati Maulid, para ulama memiliki pandangan yang beragam. Perbedaan ini wajar karena tidak ada dalil khusus yang secara eksplisit memerintahkan atau melarang perayaan tersebut. Mayoritas ulama, termasuk para ulama mazhab Syafii, berpandangan bahwa memperingati Maulid hukumnya boleh (mubah) selama tidak diiringi hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Sebagian ulama menyebut peringatan ini sebagai bidah hasanah, yakni pembaruan yang mengandung kebaikan, selama muatannya tetap sejalan dengan ajaran Islam, seperti membaca Al-Quran, bershalawat, dan menceritakan sirah Nabi. Mereka berdalil dengan hadis tentang puasa Senin yang dikaitkan Nabi dengan hari kelahirannya, yang menunjukkan adanya pengakuan atas momen kelahiran beliau.

Di sisi lain, sebagian ulama menilai peringatan Maulid sebagai bidah yang tidak dicontohkan pada masa sahabat. Namun kelompok ini pun umumnya tidak mempermasalahkan isi kegiatan yang bernilai ibadah, melainkan menekankan agar umat tidak menjadikannya sebagai keharusan beragama atau menganggapnya bagian dari syariat yang wajib. Yang ditekankan adalah menjaga kemurnian ibadah dari hal-hal yang tidak berlandaskan dalil.

Memaknai Maulid dengan Bijak

Perbedaan pendapat mengenai hukum Maulid sebaiknya disikapi dengan saling menghormati. Yang lebih penting adalah esensi peringatan itu sendiri: menumbuhkan kecintaan kepada Nabi, memperbanyak shalawat, dan mengamalkan akhlaknya. Jika peringatan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan jauh dari kemaksiatan, maka nilai positifnya akan terasa bagi umat.

Sebaliknya, jika perayaan justru disertai pemborosan, perbuatan melanggar norma, atau mengabaikan kewajiban ibadah, maka tujuan mulia peringatan tersebut menjadi pudar. Karena itu, umat diajak memaknai Maulid secara bijak, menjadikannya pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani Rasulullah, bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna.

Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk ekspresi kecintaan umat kepada nabinya. Selama dilaksanakan dengan niat yang benar dan cara yang tidak menyalahi ajaran agama, kegiatan ini menjadi ladang pahala sekaligus perekat ukhuwah. Semoga semangat Maulid terus membawa kebaikan bagi umat Islam di mana pun berada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User