Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Tren Proteinmaxxing Merebak, Pakar Ingatkan Bahaya Konsumsi Berlebih

Klaim makanan tinggi protein kini tidak lagi menjadi monopoli kalangan binaragawan atau atlet profesional. Dalam beberapa bulan terakhir, fenomena yang dik

Tren Proteinmaxxing Merebak, Pakar Ingatkan Bahaya Konsumsi Berlebih

Klaim makanan tinggi protein kini tidak lagi menjadi monopoli kalangan binaragawan atau atlet profesional. Dalam beberapa bulan terakhir, fenomena yang dikenal sebagai proteinmaxxing merambah pasar konsumen umum secara masif. Mulai dari sereal sarapan, biskuit, hingga minuman siap saji di gerai ritel modern kini berlomba-lomba mencantumkan label serba tinggi protein demi memikat pembeli yang mendambakan kebugaran instan.

Namun, di balik maraknya pemasaran tersebut, penyelidikan terhadap pola konsumsi masyarakat menunjukkan adanya ketimpangan antara antusiasme konsumen dan pemahaman dasar mengenai batas aman asupan gizi harian.

Evolusi Pasar: Dari Suplemen Khusus Menuju Komoditas Massal

Dorongan tren proteinmaxxing dipicu oleh anggapan umum bahwa semakin banyak protein yang dikonsumsi, semakin optimal pula pembentukan otot dan penurunan berat badan. Strategi ini dimanfaatkan secara agresif oleh industri makanan global untuk mendongkrak penjualan produk dengan embel-embel fortifikasi protein.

Laporan riset pasar yang dirilis produsen makanan Chobani pada 2024 mencatat fakta penting mengenai perilaku konsumen:

  • Sebanyak 85 persen konsumen di Amerika Serikat berencana meningkatkan asupan protein mereka sepanjang tahun 2025.
  • Sebanyak 26 persen responden mengakui bahwa mereka tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah kebutuhan protein harian yang ideal untuk tubuh mereka.
  • Mayoritas responden tidak memahami sepenuhnya dampak metabolik jangka panjang akibat asupan protein yang melampaui batas kebutuhan.

Kronologi Pergeseran Tren Diet dan Dampak Regulasi Tubuh

Pergeseran budaya konsumsi ini dapat ditelusuri melalui beberapa fase perkembangan tren nutrisi modern:

  1. Fase Domestikasi Nutrisi (2015–2020): Protein mulai dipromosikan di media sosial sebagai makronutrien utama pengganti karbohidrat dan lemak oleh komunitas kebugaran digital.
  2. Fase Komersialisasi Massal (2021–2023): Produsen pangan ultra-proses mulai memformulasi ulang produk harian seperti camilan, roti, dan minuman dengan tambahan konsentrat protein kedelai atau whey.
  3. Fase Proteinmaxxing (2024–Sekarang): Terjadi lonjakan konsumsi tanpa pengawasan, di mana masyarakat umum mengonsumsi produk berlabel protein tinggi tanpa mengukur intensitas aktivitas fisik mereka.
"Obsesi berlebihan terhadap satu jenis makronutrien sering kali membuat masyarakat melupakan keseimbangan gizi. Tubuh manusia tetap membutuhkan karbohidrat kompleks dan lemak sehat agar metabolisme berfungsi normal," ungkap praktisi nutrisi independen.

Ancaman Tersembunyi di Balik Kelebihan Protein

Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa tubuh manusia memiliki kapasitas terbatas dalam menyerap dan memproses asam amino. Rata-rata orang dewasa tanpa aktivitas fisik berat hanya memerlukan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari.

Kelebihan asupan protein yang tidak diimbangi dengan hidrasi dan kebutuhan energi yang tepat berisiko membebani fungsi filtrasi ginjal, mengganggu keseimbangan mikrobioma usus akibat kurangnya serat, serta berpotensi diubah menjadi timbunan lemak tubuh. Oleh karena itu, pendekatan kritis terhadap klaim pemasaran produk pangan menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam tren konsumsi yang kontraproduktif bagi kesehatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User