Titiek Soeharto Saksikan Panen 10 Ton per Hektare di Klaten
Hasil panen padi di Kabupaten Klaten menunjukkan capaian yang menggembirakan dengan produktivitas mencapai 10 ton gabah kering panen per hektare. Capaian ini terekam saat kunjungan lapangan yang dilak...
Hasil panen padi di Kabupaten Klaten menunjukkan capaian yang menggembirakan dengan produktivitas mencapai 10 ton gabah kering panen per hektare. Capaian ini terekam saat kunjungan lapangan yang dilakukan jajaran legislatif ke salah satu kawasan pertanian di wilayah Trucuk, Klaten, pada Jumat (10/7). Kegiatan panen raya tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan puncak dari program pendampingan pertanian terpadu yang telah berlangsung selama satu musim tanam.
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, turun langsung ke hamparan sawah dan ikut merasakan proses pemotongan padi bersama para petani. Kehadirannya menjadi penegas bahwa sektor pertanian, terutama produksi beras sebagai pangan pokok, terus berada dalam radar pengawasan dan dukungan kebijakan lembaga perwakilan rakyat. “Kami bersyukur hasil di lapangan mampu menembus angka yang cukup tinggi. Ini bukti bahwa dengan kemauan dan teknik budi daya yang tepat, target surplus bisa diwujudkan,” ungkap Titiek di sela kegiatan.
Lahan Percontohan 30 Hektare dan Teknologi Adaptif
Hamparan sawah seluas 30 hektare yang dipanen tersebut merupakan demplot atau demonstration plot yang didesain untuk mengaplikasikan paket teknologi pertanian adaptif. Di Desa Wonosari, Kecamatan Trucuk, petani tidak sekadar menanam bibit unggul, tetapi juga menerapkan sistem tanam jajar legowo, pemupukan berimbang berbasis uji tanah, serta pengairan berselang (intermittent irrigation). Seluruh praktik itu terintegrasi dalam satu manajemen pertanaman yang dipantau secara berkala oleh penyuluh setempat.
Hasil ubinan di beberapa titik sampel menunjukkan rata-rata 10 ton per hektare, melampaui produktivitas normal yang biasanya berada di kisaran 6,5 hingga 7 ton. Beberapa petak bahkan mencatat angka sedikit di atas 10 ton. Data itu dikonfirmasi langsung oleh Dinas Pertanian setempat yang ikut melakukan pengukuran sebelum panen raya digelar. Keberhasilan demplot ini diharapkan bisa menjadi tolok ukur bagi desa-desa lain di sekitar untuk mengadopsi teknologi serupa.
Peran Strategis Komisi IV dalam Pengawalan Produksi
Kunjungan Titiek Soeharto bersama anggota Komisi IV lainnya bukan tanpa maksud. Komisi yang membidangi pertanian, kelautan, dan pangan ini tengah mengawal program strategis nasional, antara lain peningkatan produksi padi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, distribusi benih bersertifikat, dan stabilisasi harga gabah di tingkat petani. Panen raya di Klaten menjadi salah satu titik pantau untuk memastikan program-program itu tidak berhenti di atas kertas.
“Kami akan terus mendorong agar anggaran Kementerian Pertanian tepat sasaran. Demplot seperti ini harus diperbanyak karena langsung menyentuh petani,” tegas Titiek. Ia juga menyoroti pentingnya akses pupuk bersubsidi yang masih menjadi keluhan di sejumlah daerah. Dalam kesempatan itu, Komisi IV menyerap aspirasi petani yang berharap penyaluran pupuk dapat lebih tepat waktu dan jumlah.
Dampak bagi Ketahanan Pangan Daerah
Capaian 10 ton per hektare di Trucuk memberikan kontribusi signifikan terhadap stok beras Klaten, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Tengah. Bupati Klaten saat itu menyambut baik hasil panen ini dan menyatakan komitmen untuk memperluas model demplot hingga ke kecamatan lain. “Kami akan replikasi pola tanam ini dengan melibatkan kelompok tani yang lebih banyak,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, petani merasakan manfaat langsung. Dengan harga gabah di tingkat petani yang cukup stabil, pendapatan mereka berpotensi naik sekitar 30 persen dibanding musim tanam sebelumnya apabila produktivitas serupa bisa dipertahankan. Salah satu petani, Sutarno, mengaku puas. “Dulu saya ragu dengan sistem tanam yang baru, tapi setelah melihat hasil ubinan, saya yakin ini jalan yang benar,” katanya.
Mendorong Kemandirian Pangan Nasional
Kunjungan Komisi IV ke Klaten ini menjadi potret nyata bahwa sinergi antara legislatif, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani mampu menghasilkan lompatan produktivitas. Di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan kualitas tanah di beberapa sentra produksi, pendekatan teknologi adaptif yang dipraktikkan di Wonosari layak menjadi best practice. Apalagi, Kementerian Pertanian saat itu tengah menyiapkan program serupa di daerah rawan pangan.
Dengan hasil yang menjanjikan tersebut, Titiek Soeharto berharap daerah lain tidak hanya menjadikan Klaten sebagai contoh, tetapi juga berani mengalokasikan anggaran pendampingan di sektor pertanian. “Ketahanan pangan adalah kunci kedaulatan bangsa. Tidak boleh ada satu jengkal lahan pun yang ditelantarkan,” pungkasnya. Panen raya 10 ton per hektare di Klaten pun menjadi sinyal positif bagi upaya mengurangi ketergantungan impor dan mengerek kepercayaan diri petani.
Baca juga:
Comments (0)