Makassar Sabet Penghargaan Wastra dan Kriya, Perajin Jadi Prioritas
Pemerintah Kota Makassar kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Kali ini, daerah yang dijuluki Kota Daeng itu berhasil membawa pulang serangkaian penghargaan bergengsi dalam bida...
Pemerintah Kota Makassar kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Kali ini, daerah yang dijuluki Kota Daeng itu berhasil membawa pulang serangkaian penghargaan bergengsi dalam bidang wastra (kain tradisional) dan kriya (kerajinan tangan) dari Kementerian Dalam Negeri. Capaian ini bukan sekadar piala, melainkan cermin nyata dari strategi pembinaan yang terencana dan berkelanjutan terhadap para perajin lokal.
Rentetan Penghargaan dari Ajang Nasional
Pada ajang Apresiasi Wastra dan Kriya Nusantara yang digelar Kemendagri, Makassar tampil sebagai salah satu kota dengan raihan penghargaan terbanyak. Setidaknya tiga kategori utama berhasil dimenangkan, yaitu Kain Tenun Sutra Terbaik, Kriya Anyaman Rotan Inovatif, dan Produk Kriya Berbasis Limbah Kulit Kerang. Masing-masing kategori menilai aspek teknik pembuatan, orisinalitas motif, nilai budaya, hingga keberlanjutan bahan baku.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Makassar, Iriani Hasan, mengungkapkan bahwa prestasi ini adalah hasil dari kerja keras kolektif. "Penghargaan ini bukan milik pemerintah, melainkan milik para perajin yang selama ini terus berproses. Kami hanya hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendiri," ujarnya saat ditemui di sela-sela pameran produk unggulan di Balai Kota Makassar, Rabu (14/5/2025).
Pelatihan Bukan Hanya Seremonial
Di balik kilau piala, terdapat fondasi berupa program pelatihan yang terstruktur. Pemkot Makassar, melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Kebudayaan, menggelar lebih dari 60 sesi pelatihan sepanjang tahun 2024 hingga awal 2025. Pelatihan ini mencakup beragam keahlian, mulai dari pewarnaan alami kain sutra, desain motif berbasis kearifan lokal, hingga teknik anyaman modern yang memadukan rotan dengan material daur ulang.
Berbeda dengan pelatihan konvensional yang sering kali bersifat satu arah, program ini dirancang dengan pendampingan intensif. Para peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga diajak memahami selera pasar, manajemen keuangan usaha kecil, dan strategi pemasaran digital. Salah satu peserta dari Sentra Tenun Bunora, Hasnawati, mengaku perubahan paling terasa terjadi setelah ia mengikuti pelatihan desain konten produk. "Sekarang saya bisa mengunggah foto hasil tenunan ke media sosial dengan kemasan yang menarik. Pesanan dari luar kota bahkan dari luar negeri mulai berdatangan," tuturnya.
Yang lebih penting, pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Para pendamping secara rutin mengunjungi sentra-sentra produksi untuk memastikan materi yang diajarkan benar-benar diterapkan. Jika ada kendala teknis, solusi dicari bersama tanpa harus menunggu jadwal pelatihan berikutnya. Model pendampingan berkelanjutan inilah yang menjadi pembeda dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas produk.
Membuka Pintu Pasar Lebar
Pemkot Makassar menyadari bahwa melatih tanpa menyediakan akses pasar hanya akan menumpuk stok tanpa menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu, sejumlah terobosan digulirkan untuk mempertemukan perajin dengan konsumen. Salah satunya adalah peluncuran platform Makassar Craft Hub, sebuah direktori digital yang menampilkan profil perajin, katalog produk, hingga fitur pemesanan langsung. Platform ini dikelola di bawah supervisi Dinas Komunikasi dan Informatika dan terintegrasi dengan layanan pembayaran digital.
Tak hanya ruang virtual, pemerintah kota secara agresif menjalin kerja sama dengan pusat perbelanjaan modern untuk membuka gerai khusus produk wastra dan kriya Makassar. Saat ini, sedikitnya empat gerai di mal-mal besar telah beroperasi dan menampung produk dari lebih dari 200 perajin binaan. Bahkan, Pemkot Makassar menggandeng desainer nasional untuk mengkurasi koleksi yang akan dipasarkan, sehingga produk lokal bisa tampil lebih kompetitif dan mengikuti tren mode terkini.
Upaya membuka akses pasar juga dilakukan melalui partisipasi dalam pameran berskala internasional. Pada pameran di Tokyo dan Melbourne awal tahun ini, sepuluh perajin Makassar mendapatkan kesempatan menampilkan produk unggulan mereka. Hasilnya, beberapa kontrak ekspor kecil dan menengah berhasil dikantongi, terutama untuk produk kain tenun sutra dan anyaman rotan yang diminati pasar luar negeri. Kepala Bidang Industri Kecil Menengah, Andi Tenri Abeng, menyatakan bahwa pemerintah turut menanggung biaya logistik dan promosi selama pameran sebagai bentuk dukungan penuh.
Ekonomi Masyarakat dan Pelestarian Budaya yang Saling Menguatkan
Dampak ekonomi dari keterpaduan pelatihan dan akses pasar mulai terasa signifikan. Data Dinas Koperasi dan UKM Makassar mencatat kenaikan omzet rata-rata perajin binaan sebesar 35 persen pada triwulan pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor ini bahkan mulai menyerap tenaga kerja baru, terutama di kalangan pemuda yang sebelumnya enggan menekuni kerajinan tradisional. Kini, generasi muda melihat kriya sebagai peluang usaha yang menjanjikan karena telah terhubung dengan pasar yang jelas.
Pada sisi lain, aktivitas ini turut menjaga warisan budaya tak benda yang diakui keberadaannya oleh berbagai pihak. Motif-motif khas Makassar, seperti tope le'leng dan bali lompo, kembali banyak digunakan dalam busana sehari-hari maupun koleksi eksklusif. Revitalisasi budaya ini juga memicu daya tarik wisata baru, dengan munculnya tur edukasi di sentra-sentra kerajinan yang menjadi bagian dari paket perjalanan wisatawan mancanegara.
Penghargaan dari Kemendagri menegaskan bahwa arah kebijakan Makassar sudah tepat. Kota yang selama ini dikenal dengan kuliner Coto-nya itu kini bertransformasi menjadi salah satu pusat wastra dan kriya di Indonesia Timur. Ke depan, Pemkot Makassar berencana memperluas jangkauan pelatihan ke wilayah kepulauan dan menjadikan Makassar Craft Hub sebagai etalase resmi yang terhubung dengan pasar global.
Baca juga:
Comments (0)