Sep 14, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

TEL AVIV — Mantan Panglima Militer Tuding Netanyahu Tutupi Peringatan Serangan Hamas

Sebuah polemik politik dan keamanan berskala besar kembali mengguncang Israel setelah mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Dan Halutz, melo

TEL AVIV — Mantan Panglima Militer Tuding Netanyahu Tutupi Peringatan Serangan Hamas

Sebuah polemik politik dan keamanan berskala besar kembali mengguncang Israel setelah mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Dan Halutz, melontarkan tuduhan serius terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Halutz menuding sang kepala pemerintahan secara sengaja menyembunyikan peringatan intelijen krusial sebelum tragedi serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu, serta membebankan kegagalan keamanan fatal tersebut sepenuhnya kepada Netanyahu.

Pernyataan eksplosif ini muncul menyusul laporan investigasi surat kabar terkemuka Israel, Haaretz, yang mengungkap adanya saluran peringatan diplomatik tingkat tinggi dari kawasan Teluk yang diduga diabaikan oleh pimpinan eksekutif Israel.

Kronologi Dugaan Peringatan dan Pengabaian Intelijen

Berdasarkan rangkaian kesaksian dan dokumen yang dihimpun tim investigasi, berikut adalah rekonstruksi kronologis mengenai dugaan pengabaian peringatan dini menjelang peristiwa berdarah tersebut:

  1. 10 Hari Sebelum Serangan (Akhir September 2023): Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), dilaporkan telah menyampaikan peringatan langsung dan rahasia kepada Netanyahu mengenai rencana operasi berskala masif yang tengah dipersiapkan milisi Hamas di Jalur Gaza.
  2. Pengendapan Informasi di Kantor Perdana Menteri: Informasi intelijen bernilai strategis tersebut diduga diremehkan oleh Netanyahu. Alih-alih menginstruksikan kesiapsiagaan penuh, sang perdana menteri dituding tidak meneruskan peringatan tersebut kepada jajaran pimpinan keamanan tertinggi, termasuk badan intelijen Shin Bet, Mossad, maupun petinggi IDF.
  3. 7 Oktober 2023: Hamas melancarkan serangan serentak dari darat, laut, dan udara ke wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera ratusan lainnya—menandai salah satu kegagalan intelijen dan militer paling destruktif dalam sejarah modern negara tersebut.
  4. Investigasi Pasca-Insiden: Muncul desakan publik dan mantan petinggi militer agar digelar penyelidikan independen mengenai bagaimana aparat pertahanan bisa mengalami kelumpuhan deteksi dini.

Kecaman Terbuka Purnawirawan Jenderal

Dalam wawancaranya di stasiun radio Israel 103FM, Halutz menegaskan keyakinannya bahwa pembicaraan antara pemimpin UEA dan Netanyahu benar-benar terjadi. Menurutnya, ada banyak indikasi valid di lingkaran intelijen yang memperlihatkan bahwa Netanyahu memiliki informasi yang jauh lebih detail daripada yang dipublikasikan kepada publik atau dibagikan ke jajaran komando pertahanan.

"Netanyahu bertanggung jawab mutlak atas kegagalan total sistem pertahanan negara. Ada indikasi berlapis bahwa dia mengetahui lebih banyak hal, namun memilih untuk menyembunyikannya dari otoritas keamanan resmi demi kalkulasi politik tertentu," tegas Dan Halutz.

Sikap Kontradiktif Pemerintah dan Otoritas Teluk

Menanggapi laporan yang semakin meluas, Kantor Perdana Menteri Israel mengeluarkan bantahan keras. Juru bicara Netanyahu menyebut laporan media tersebut sebagai "kebohongan mutlak yang tidak berdasar" dan menolak narasi bahwa ada peringatan dini yang disengaja untuk diabaikan.

Di sisi lain, pemerintah Uni Emirat Arab memilih untuk mengambil sikap diplomatis dengan tidak membenarkan maupun membantah laporan mengenai peringatan dari Presiden MBZ. Sikap abu-abu dari Abu Dhabi ini semakin memperkuat spekulasi bahwa terdapat komunikasi informal tingkat tinggi yang tidak tercatat dalam arsip resmi birokrasi pertahanan Tel Aviv.

Tuduhan yang dilayangkan mantan panglima militer ini semakin memperbesar tekanan domestik terhadap Netanyahu. Banyak analis politik di Tel Aviv menilai bahwa upaya menutupi peringatan dini—jika terbukti di hadapan komisi penyelidikan resmi negara—dapat menghancurkan legitimasi politik sang perdana menteri serta mempercepat tuntutan pengunduran dirinya atas kelalaian tugas konstitusional menjaga keamanan warga negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User