Sosok Pri Agung Rakhmanto dan Kiprahnya di Dunia Energi
Dunia energi Indonesia kembali menyorot seorang figur yang konsisten menyuarakan tata kelola sumber daya alam berbasis data. Ia adalah Pri Agung Rakhmanto, pendiri sekaligus advisor ReforMiner Institu...
Dunia energi Indonesia kembali menyorot seorang figur yang konsisten menyuarakan tata kelola sumber daya alam berbasis data. Ia adalah Pri Agung Rakhmanto, pendiri sekaligus advisor ReforMiner Institute, yang juga mendedikasikan diri sebagai pengajar di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti.
Latar Belakang Akademik dan Profesional
Pri Agung dikenal sebagai analis kebijakan energi yang tajam. Keterlibatannya di ReforMiner Institute membuat ia kerap merilis kajian independen tentang dinamika minyak, gas bumi, dan energi terbarukan. Kiprahnya membentang dari dunia penelitian hingga advokasi kebijakan, menjadikannya rujukan bagi pemangku kepentingan saat merumuskan strategi energi nasional. Di sisi akademik, posisinya di FTKE Universitas Trisakti membantunya menjembatani teori dan praktik, mempersiapkan generasi insinyur kebumian yang memahami kompleksitas transisi energi.
ReforMiner Institute dan Advokasi Berbasis Data
ReforMiner Institute, lembaga riset yang dipimpinnya, berfokus pada reformasi tata kelola pertambangan dan energi. Setiap publikasi lembaga itu selalu menyertakan data terverifikasi, baik dari SKK Migas, Kementerian ESDM, maupun lembaga internasional. Hal ini yang membuat analisis Pri Agung kerap dikutip media massa. Misalnya, ia pernah mengkritisi kebijakan subsidi BBM yang tidak tepat sasaran serta mendorong percepatan pemanfaatan gas bumi sebagai jembatan transisi energi. Bagi Pri, reformasi sektor hulu migas bukan hanya soal aturan, melainkan juga integritas kontrak dan kepastian investasi.
Perspektifnya tentang Transisi Energi
Dalam berbagai forum, Pri Agung menekankan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar latah mengikuti tren dekarbonisasi global tanpa memperhitungkan kesiapan sendiri. Ia selalu menyandingkan target bauran energi terbarukan dengan realita cadangan dan infrastruktur fosil yang masih dominan. Artinya, transisi harus dilakukan secara bertahap dan berkeadilan. Posisinya sebagai pengajar memperkuat keyakinannya bahwa edukasi publik adalah kunci, sebab isu energi kerap disederhanakan menjadi wacana politik yang menyesatkan.
Ketika ditanya soal dilema peningkatan lifting minyak, ia dengan lugas menyatakan bahwa penyelesaian perizinan dan insentif fiskal harus lebih diprioritaskan daripada proyek-proyek mercusuar yang minim dampak langsung. Pandangan ini memperlihatkan betapa ia mengutamakan pendekatan teknokratik ketimbang retorika populis.
Dedikasi di Kampus dan Pembentukan Talenta
Sebagai pengajar di FTKE Universitas Trisakti, Pri Agung tak hanya membagikan teori, tetapi juga pengalaman lapangan. Mahasiswanya sering diajak mendiskusikan studi kasus nyata, mulai dari negosiasi kontrak migas hingga analisis dampak kebijakan harga BBM. Model pengajaran ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan energi di masa depan, terutama saat Indonesia mengejar target emisi nol bersih 2060.
Reputasi Pri Agung di ranah publik membuat kampus tempatnya mengajar turut memperoleh sorotan positif. Publik menilai adanya sinergi antara dunia riset independen, kebijakan, dan pendidikan tinggi yang selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri. Kehadirannya mempersempit jurang itu.
Dengan rekam jejak yang terus bertambah, sosok Pri Agung Rakhmanto menegaskan bahwa analisis energi yang kredibel membutuhkan perpaduan antara kompetensi teknis, keberanian menyampaikan fakta, dan komitmen pada kepentingan publik. Wajar jika ia kerap dimintai pandangan di saat pemerintah dan parlemen bergulat dengan aturan yang berdampak luas pada hajat hidup orang banyak.
Baca juga:
Comments (0)