CIANJUR — SMKN 1 Cianjur menjadi tuan rumah pelaksanaan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Cianjur, Kamis, 1 Oktober 2026. Ratusan elemen masyarakat, guru, tenaga kependidikan, dan warga sekolah memadati area upacara sejak pagi untuk mengikuti prosesi yang untuk kali pertama digelar langsung oleh Pemerintah Daerah di lingkungan sekolah menengah kejuruan tersebut.
Plt Kepala SMKN 1 Cianjur, Hj. Ridna Ardiana, M.Pd., menegaskan bahwa penunjukan sekolah sebagai lokasi upacara merupakan keputusan panitia Pemerintah Daerah. Menurutnya, pihak sekolah hanya mengikuti protokol yang telah ditetapkan, sementara seluruh penyelenggara kegiatan adalah Pemda Kabupaten Cianjur.
"Kita diminta sama pihak Pemda, mungkin ya panitia, untuk tempat penyelenggaraan upacara Hari Kesaktian Pancasila. Jadi anak-anak ikut upacara, ada juga beberapa petugas, tapi semuanya penyelenggara adalah Pemda. Kita hanya mengikuti protokoler dari Pemda," ujarnya.
Kronologi Jalannya Kegiatan
- Pagi hari, area SMKN 1 Cianjur disiapkan sesuai standar protokol upacara kenegaraan oleh panitia Pemda.
- Ratusan peserta — terdiri dari siswa, guru, dan tenaga kependidikan — memasuki lapangan dan menempati barisan masing-masing.
- Unsur Forkopimda Kabupaten Cianjur tiba dan menempati posisi kehormatan dalam formasi upacara.
- Sejumlah siswa ditunjuk sebagai petugas upacara, sementara sebagian guru menyaksikan dari luar area upacara.
- Prosesi berjalan sesuai tata urutan protokol yang ditetapkan Pemerintah Daerah.
- Usai upacara, pihak sekolah membuka ruang komunikasi dengan pemda untuk menyampaikan aspirasi.
Menurut pengamatan di lapangan, penunjukan sekolah sebagai lokasi upacara menyimpan makna ganda: bukan hanya seremoni kenegaraan, tetapi juga pintu masuk bagi dialog kebijakan antara satuan pendidikan dan pemerintah daerah.
Fasilitas Sekolah Jadi Sorotan
Di balik khidmatnya prosesi, muncul persoalan struktural yang selama ini membayangi SMKN 1 Cianjur. Hj. Ridna menyampaikan langsung aspirasi soal keterbatasan fasilitas kepada pemerintah daerah yang hadir.
Ia menyoroti ketidakseimbangan antara jumlah peserta didik dan luas lahan yang tersedia. Jumlah siswa mencapai hampir 2.000 orang, sementara luas kampus hanya sekitar 1 hektar. Kondisi itu berdampak pada minimnya area bermain, kekurangan ruang kelas, dan yang paling krusial, keterbatasan ruang praktik sekolah (RPS) yang menjadi jantung pembelajaran di sekolah kejuruan.
| Indikator | Kondisi Saat Ini | Kebutuhan Ideal |
|---|---|---|
| Jumlah siswa | ±2.000 orang | Seimbang dengan daya tampung |
| Luas lahan | ±1 hektar | Rasio lahan lebih luas per siswa |
| Ruang kelas | Terbatas | Penambahan unit |
| Ruang praktik (RPS) | Sangat terbatas | Penambahan & revitalisasi |
| Area bermain siswa | Sangat kecil | Ruang terbuka memadai |
"Jumlah siswa kami hampir 2.000 orang, sementara luas kampus hanya sekitar 1 hektar. Area bermain siswa sangat kecil, ruang kelas juga kurang, terutama ruang praktek sekolah (RPS) yang sangat penting di sekolah kejuruan. Harapan kami, Pemda bisa memperhatikan kebutuhan fisik sekolah kami," ungkapnya.
Momentum dan Harapan ke Depan
Hj. Ridna menambahkan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu rutinitas belajar mengajar. Justru sebaliknya, ia menyebut peristiwa ini sebagai pengalaman berharga karena pertama kalinya upacara Hari Kesaktian Pancasila digelar langsung oleh Pemda di SMKN 1 Cianjur.
Selain menjadi ajang kebersamaan antarwarga sekolah, momentum Hari Kesaktian Pancasila dinilai relevan untuk memperkuat pemahaman nilai-nilai dasar negara di kalangan generasi muda. "Bagi pelajar, Pancasila bukan sekadar hafalan sila, tapi cara berpikir dan bertindak sehari-hari," ujar Ridna, menggambarkan nilai kebangsaan yang ingin ditanamkan melalui upacara tersebut.
Yang tak kalah penting, upacara ini membuka ruang komunikasi formal antara pihak sekolah dan pemerintah daerah. Kehadiran unsur Forkopimda dan Pemda di lokasi memberi kesempatan bagi sekolah untuk menyampaikan kebutuhan riil secara langsung, bukan hanya melalui laporan tertulis yang sering kali tersendat di meja birokrasi.
Kini bola berada di tangan Pemerintah Daerah. Apakah penunjukan SMKN 1 Cianjur sebagai tuan rumah upacara akan berlanjut menjadi perhatian serius terhadap infrastruktur sekolah, atau berhenti sebagai seremoni tahunan semata. Publik Cianjur menunggu buktinya.
Comments (0)