Senator Lindsey Graham, Sekutu Trump, Meninggal di Usia 71
Washington, D.C., dilanda duka. Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, figur sentral Partai Republik dan sekutu dekat mantan Presiden Donald Trump, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (11/7) di u...
Washington, D.C., dilanda duka. Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, figur sentral Partai Republik dan sekutu dekat mantan Presiden Donald Trump, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (11/7) di usia 71 tahun. Kepastian ini datang setelah situasi kesehatannya memburuk secara tiba-tiba, mengejutkan kolega dan publik karena sebelumnya ia masih tampak aktif dalam kegiatan kenegaraan. Graham, yang telah menjabat di Senat selama lebih dari dua dekade, meninggalkan warisan politik yang kontroversial dan sangat berpengaruh.
Asal-Usul dan Perjalanan Karier
Lindsey Olin Graham lahir pada 9 Juli 1955 di Central, sebuah kota kecil di South Carolina. Ia meraih gelar sarjana dari University of South Carolina sebelum mengabdikan diri di Angkatan Udara Amerika Serikat sebagai kapten di korps JAG (Judge Advocate General), kemudian pensiun dengan pangkat kolonel. Latar belakang militer ini membentuk pandangan hawkishnya dalam kebijakan luar negeri. Selepas dinas aktif, Graham bekerja sebagai jaksa dan membangun praktik hukum pribadi. Karier politiknya dimulai pada 1992 di Dewan Perwakilan Rakyat South Carolina, lalu pada 1994 ia terpilih menjadi anggota DPR AS untuk Distrik ke-3 South Carolina, menggantikan seorang Demokrat. Empat periode di DPR cukup mengukuhkan namanya, sehingga pada 2002 ia melenggang ke Senat setelah mengalahkan petahana Demokrat.
Di Panggung Senat dan Kedekatan dengan Gedung Putih
Di Senat, Graham menjelma sebagai anggota senior di Komite Angkatan Bersenjata dan Komite Kehakiman. Ia memainkan peran kunci sebagai Ketua Komite Kehakiman, terutama dalam meloloskan konfirmasi hakim agung konservatif semasa pemerintahan Trump. Sebelum era Trump, Graham dikenal sebagai negosiator bipartisan, namun dinamika politik mengubahnya menjadi salah satu pembela paling keras Trump. Awalnya, pada pemilihan pendahuluan 2016, Graham melontarkan kritik pedas kepada Trump, termasuk menyebutnya sebagai seorang yang tidak layak memimpin. Namun begitu Trump memenangkan nominasi dan kursi kepresidenan, Graham berubah menjadi sekutu paling loyal. Transformasi ini mencakup pembelaan tanpa syarat selama investigasi impeachment dan penyelidikan campur tangan Rusia. Graham kerap membisikkan nasihat strategis ke telinga Trump, dan menjadi tamu tetap di Mar-a-Lago. Sikapnya ini menuai pujian dari basis pendukung Trump, tetapi juga kecaman dari lawan politik yang menilai ia telah meninggalkan prinsip konservatisme tradisional.
Kebijakan Kontroversial dan Warisan Politik
Graham adalah arsitek beberapa kebijakan kunci, termasuk paket reformasi pajak 2017 dan peningkatan anggaran militer. Dalam isu luar negeri, ia dikenal sebagai "hawk" yang mendesak intervensi di Afghanistan, Irak, dan memperkuat aliansi dengan Taiwan serta Israel. Di dalam negeri, ia sering bergerak di jalur konservatif tetapi menunjukkan kelenturan pada isu imigrasi dan reformasi peradilan—meskipun tidak selalu berhasil. Kematiannya kini meninggalkan kursi kosong di Senat yang sangat memengaruhi peta politik. Gubernur South Carolina dari Partai Republik akan menunjuk pengganti sementara hingga pemilihan khusus digelar. Bagi Partai Republik, kehilangan suara Graham yang berada di persimpangan antara sayap konservatif dan pragmatis adalah pukulan telak di tengah persaingan ketat.
Ucapan Duka dan Reaksi Nasional
Berita wafatnya Graham memicu gelombang duka dari berbagai kalangan. Mantan Presiden Donald Trump, melalui pernyataan resmi, menyebutnya sebagai "pejuang sejati yang tak pernah menyerah". Pemimpin Minoritas Senat Mitch McConnell mengenang Graham sebagai "institusi yang menjaga denyut nadi konservatisme di Senat". Presiden Joe Biden, yang pernah bekerja sama lintas partai dengan Graham, juga menyampaikan belasungkawa. Publik South Carolina berkumpul di pengadilan setempat untuk memberikan penghormatan terakhir. Kendati perjalanan politiknya penuh tikungan tajam, semua pihak sepakat bahwa Lindsey Graham adalah salah satu legislator paling tangguh di generasinya. Sorotan pun beralih ke siapa yang akan mengisi kekosongan tersebut dan bagaimana arah Partai Republik pasca-kepergian sekutu dekat Trump ini.
Baca juga:
Comments (0)