Sekda Jabar Ungkap Sejarah Pembangunan Perpustakaan Gasibu

Awal Mula Gagasan Pusat Baca ModernPembangunan Perpustakaan Gasibu tidak lepas dari visi strategis yang digulirkan pada masa kepemimpinan Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jawa Barat. Gagasan menghadirk...

Jul 12, 2026 - 22:18
0 0

Awal Mula Gagasan Pusat Baca Modern

Pembangunan Perpustakaan Gasibu tidak lepas dari visi strategis yang digulirkan pada masa kepemimpinan Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jawa Barat. Gagasan menghadirkan ruang baca publik yang representatif di kawasan ikonik Lapangan Gasibu telah mencuat sejak awal periode pemerintahannya. Upaya ini merupakan bagian dari program pengembangan literasi warga yang menyasar semua kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Lokasi yang dipilih pun sarat makna karena berada di jantung Kota Bandung, berdampingan dengan situs-situs bersejarah sekaligus menjadi magnet aktivitas warga pada akhir pekan.

Pencanangan proyek ini mendapat sambutan luas dari berbagai pemangku kepentingan. Dewan Perpustakaan Daerah, kalangan akademisi, dan komunitas literasi turut memberikan masukan agar desain perpustakaan tidak hanya fungsional tetapi juga ramah lingkungan serta dapat menjadi ruang interaksi sosial. Arsitektur bangunan dirancang dengan sentuhan modern yang tetap menghormati wajah tradisional kawasan Gasibu, menjadikannya salah satu ikon baru di pusat kota.

Tonggak Peresmian 2016 dan Pesan di Baliknya

Tepat pada tahun 2016, Perpustakaan Gasibu diresmikan secara langsung oleh Gubernur Ahmad Heryawan. Momen tersebut menjadi penanda resmi beroperasinya fasilitas yang sebelumnya melalui proses pembangunan cukup panjang. Dalam seremoni pembukaan, hadir sejumlah tokoh pendidikan, budayawan, serta perwakilan dari pemerintah pusat. Peresmian ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjadikan literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Perpustakaan Gasibu pada masa awal pengoperasiannya langsung menarik perhatian karena koleksi buku yang beragam, ruang baca yang nyaman, dan akses internet gratis. Lebih dari sekadar tempat meminjam buku, perpustakaan ini dirancang sebagai pusat kegiatan ilmiah dan budaya. Diskusi buku, pelatihan menulis, hingga pameran seni rutin digelar di dalamnya. Hal ini membuat perpustakaan bukan hanya menjadi ruang hening untuk membaca, melainkan ruang hidup yang merayakan pengetahuan.

Detail Fasilitas dan Koleksi Unggulan

Bangunan Perpustakaan Gasibu terdiri dari beberapa lantai dengan pembagian zona yang terukur. Lantai dasar difokuskan untuk area anak-anak dan remaja, lengkap dengan sudut dongeng dan rak buku bergambar. Lantai berikutnya menyediakan ribuan judul buku dari berbagai disiplin ilmu: sastra, sejarah, sains, teknologi, seni, dan referensi umum. Sejumlah bilik belajar privat dan ruang diskusi kelompok disediakan untuk mendukung aktivitas akademik. Koleksi digital juga mulai dikembangkan, sehingga pengunjung dapat mengakses jurnal dan e-book melalui komputer yang tersedia.

Di sisi luar, perpustakaan ini memiliki taman baca terbuka yang menjadi favorit pengunjung pada pagi dan sore hari. Keberadaan kafe buku di area lobi turut memberikan pengalaman berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai institusi kaku, melainkan sebagai ruang kreatif yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Konteks Pembangunan dan Kebijakan Literasi Daerah

Keputusan untuk membangun Perpustakaan Gasibu pada masa Gubernur Ahmad Heryawan tidak lepas dari kebijakan pemerintah provinsi dalam meningkatkan indeks literasi masyarakat. Berdasarkan data saat itu, minat baca di Jabar masih memerlukan intervensi yang masif. Maka, selain menggencarkan pojok baca di desa dan perpustakaan keliling, provinsi memandang penting memiliki perpustakaan induk yang mampu menjadi pusat rujukan.

Pemilihan Lapangan Gasibu sebagai lokasi merupakan langkah simbolik sekaligus praktis. Lokasi ini mudah diakses dengan transportasi umum, dekat dengan kawasan pemerintahan, serta menjadi destinasi rekreasi warga. Dengan hadirnya perpustakaan, diharapkan terjadi perluasan fungsi ruang publik: Gasibu tidak hanya untuk olahraga atau acara seremonial, melainkan juga untuk mencicipi khazanah pengetahuan.

Respons Masyarakat dan Peran Edukatif

Sejak diresmikan, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Ribuan anggota perpustakaan terdaftar dalam tahun pertama, dengan kunjungan harian yang konsisten terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Program “Sabtu Literasi” yang diinisiasi pengelola berhasil menggaet keluarga untuk menghabiskan akhir pekan dengan membaca dan mengikuti lokakarya. Guru-guru dari berbagai sekolah di Bandung juga kerap membawa siswanya untuk belajar bersama di perpustakaan ini, menjadikannya laboratorium belajar di luar kelas.

Perpustakaan Gasibu pun kerap dijadikan percontohan oleh daerah lain yang ingin mengembangkan pusat literasi modern. Konsep integrasi ruang baca konvensional dengan area sosial dan teknologi mendapat apresiasi dalam beberapa forum perpustakaan nasional. Tak sedikit studi banding dilakukan oleh pengelola perpustakaan dari provinsi tetangga untuk mempelajari tata kelola dan inovasi layanan di Gasibu.

Penegasan dari Pemerintah Provinsi

Beberapa waktu terakhir, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat menyampaikan penjelasan terkait awal mula pendirian Perpustakaan Gasibu. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa pembangunan fisik perpustakaan merupakan bagian dari program strategis yang dimulai pada era Gubernur Ahmad Heryawan. Peresmian pada tahun 2016 menjadi titik awal operasional layanan kepada masyarakat. Tidak hanya itu, Pemprov juga mengapresiasi dedikasi jajaran perpustakaan yang selama bertahun-tahun menjaga kualitas pelayanan dan menghidupkan ruang baca di pusat kota.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas berbagai pertanyaan publik terkait sejarah dan perjalanan Perpustakaan Gasibu. Dengan berpegang pada fakta sejarah, pemerintah provinsi ingin memastikan bahwa narasi yang berkembang di tengah masyarakat tetap akurat dan tidak terpotong-potong. Perpustakaan sebagai aset publik memerlukan transparansi informasi agar generasi mendatang dapat memahami proses dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Warisan Literasi yang Terus Dikenang

Terlepas dari dinamika yang terjadi kemudian, catatan sejarah bahwa Perpustakaan Gasibu lahir dari inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah Ahmad Heryawan dan diresmikan pada 2016 tidak dapat diabaikan. Bangunan itu telah menjadi saksi bisu ribuan jam belajar, diskusi, dan perjumpaan ide. Bagi banyak warga Bandung, khususnya generasi yang tumbuh dengan memanfaatkan fasilitas ini, perpustakaan tersebut meninggalkan jejak yang mendalam dalam perjalanan intelektual mereka.

Hingga saat ini, semangat untuk terus menumbuhkan budaya baca tetap menjadi prioritas. Meskipun bentuk dan wadah dapat berubah seiring perencanaan kota, pelajaran dari pendirian Perpustakaan Gasibu tetaplah relevan: bahwa komitmen terhadap literasi memerlukan langkah nyata, bukan sekadar wacana. Dan langkah itu pernah diwujudkan dalam sebuah gedung di Lapangan Gasibu, yang kini tertulis dalam catatan sejarah pembangunan Jawa Barat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User