SBY Ungkap Pandangan Kritis soal Arah Demokrasi Indonesia
Suasana teduh Puri Cikeas di Bogor, Jawa Barat, menjadi saksi bisu perbincangan mendalam bersama Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada Jumat (21/2/2025). Sang negarawan yang akrab disapa SB...
Suasana teduh Puri Cikeas di Bogor, Jawa Barat, menjadi saksi bisu perbincangan mendalam bersama Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada Jumat (21/2/2025). Sang negarawan yang akrab disapa SBY menerima tim redaksi di kediaman pribadinya untuk sebuah wawancara khusus yang menyorot berbagai persoalan fundamental bangsa. Dengan latar rak buku kayu jati dan tumpukan dokumen di meja kerjanya, ia tampak serius namun tetap hangat, siap membedah isu-isu krusial yang tengah dihadapi Indonesia pasca Pemilu 2024.
Demokrasi yang Kian Tergerus Pragmatisme
SBY membuka dialog dengan nada prihatin mengenai mutu demokrasi nasional yang dinilainya tengah berada di persimpangan. "Saya melihat ada kecenderungan penguatan oligarki dan menyempitnya ruang partisipasi publik," ujarnya dengan intonasi terukur. Menurutnya, mekanisme elektoral boleh berjalan rutin setiap lima tahun, tetapi substansi demokrasi justru mengalami kemunduran. Ia menyoroti fenomena koalisi gemuk yang terbentuk setelah kontestasi, yang kerap mengaburkan fungsi kontrol dan check-and-balances parlemen. “Demokrasi kita kini lebih mirip prosedural demokrasi, bukan demokrasi substansial yang berakar pada kedaulatan rakyat,” tambahnya. SBY menekankan bahwa partai politik harus kembali menjadi kanal aspirasi, bukan sekadar kendaraan kekuasaan elite. Ia juga mengkritisi praktik transaksional dalam proses legislasi yang berpotensi mengabaikan kepentingan publik. "Regulasi yang lahir dari proses tawar-menawar politik, bukan dari kajian akademis mendalam, hanya akan menjadi bumerang bagi negara," cetusnya. Di era 2025 ini, SBY merasa urgensi reformasi partai politik jauh lebih besar dibanding dekade lalu.
Refleksi Dua Periode Kepemimpinan
Ketika ditanya tentang warisan pemerintahannya (2004-2014), ia merespons dengan campuran rasa syukur dan introspeksi. "Kami meletakkan fondasi pembangunan yang relatif inklusif, reformasi birokrasi tahap awal, dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai krisis global 2008," tuturnya. Namun SBY tak menampik adanya pekerjaan rumah yang belum rampung, terutama dalam pemberantasan korupsi dan pembangunan infrastruktur yang kala itu masih belum merata. “Setiap pemimpin memiliki konteks zamannya masing-masing. Saya tidak ingin membandingkan, tetapi tantangan hari ini jauh lebih kompleks dengan disrupsi digital dan ketidakpastian geopolitik,” katanya. Ia bercerita tentang prinsip kepemimpinannya yang selalu menempatkan dialog dan musyawarah mufakat sebagai instrumen utama, meskipun diakui kadang memperlambat pengambilan keputusan. Menurutnya, demokrasi memang tidak efisien, tetapi jauh lebih mahal biaya yang ditanggung jika otoritarianisme kembali tumbuh. SBY juga menekankan pentingnya legacy nonfisik: budaya politik santun dan penghormatan terhadap lawan. "Kita harus membuktikan bahwa kontestasi sengit sekalipun bisa diakhiri dengan jabat tangan, bukan dendam berkepanjangan," imbuhnya.
Merespons Dinamika Geopolitik Global
Sesi wawancara bergeser ke panggung internasional. SBY, yang dikenal sebagai mantan perwira tinggi TNI dan aktif di forum global, menyoroti meningkatnya rivalitas kekuatan besar yang berimbas langsung pada kepentingan nasional Indonesia. “Posisi strategis Indonesia memang membuat kita selalu diperhitungkan, tetapi kita harus mampu menjadi subjek, bukan objek dari persaingan itu,” ungkapnya. Ia mengingatkan prinsip “tetangga baik” dan doktrin bebas-aktif harus dioperasionalkan secara cerdas dalam setiap perjanjian ekonomi dan pertahanan. "Diplomasi kita tidak boleh reaktif, melainkan harus desain strategis jangka panjang yang melibatkan semua pemangku kepentingan," tegasnya. Menyinggung isu Laut China Selatan, SBY mengapresiasi konsistensi Indonesia yang tetap tegas mempertahankan yurisdiksi, namun tetap membuka ruang dialog. Ia juga menyampaikan kekagumannya pada generasi diplomat muda masa kini yang dinilainya lebih lincah dalam memanfaatkan teknologi dan jejaring global.
Harapan bagi Generasi Penerus
Di sela-sela perbincangan, SBY sesekali menoleh ke tumpukan buku riset tentang pemuda dan media sosial. Ia tampak sangat antusias ketika berbicara tentang peran generasi Z dan milenial dalam mentransformasi kepemimpinan nasional. "Saya optimis, anak-anak muda kita memiliki keberanian yang tidak dimiliki generasi saya. Mereka adalah masyarakat digital yang bisa menyebarkan gagasan baik dengan kecepatan luar biasa," katanya. Namun ia mengingatkan bahwa kecepatan tanpa kedalaman akan melahirkan kebisingan yang tidak produktif. SBY mendorong agar kaum muda tidak hanya piawai bermain media sosial, tetapi juga membaca buku, memahami sejarah, dan mengasah empati. “Pemimpin masa depan adalah mereka yang bisa mendengar jeritan rakyat yang tidak tertulis di layar ponsel,” ujarnya. Ia juga berpesan agar calon-calon pemimpin tidak terjebak dalam hitung-hitungan popularitas instan, melainkan membangun kapasitas diri secara berkelanjutan. Wawancara khusus ini menegaskan bahwa SBY, meski telah lama meninggalkan Istana, tetap menjadi rujukan pemikiran yang jernih di tengah riuh rendah politik nasional. Keterbukaannya membedah masalah kebangsaan dengan data dan pengalaman menunjukkan ketokohan yang melampaui batas partai.
Comments (0)