Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Reaksi Berlebihan Anak Saat Tak Dipuji: Benarkah Pertanda Narsis?

Sebuah klaim yang beredar luas di kalangan orang tua menyebut bahwa anak yang gemar meminta pujian dan ingin selalu menjadi pusat perhatian, kemudian bereaksi berlebihan—marah atau menarik diri tota...

Reaksi Berlebihan Anak Saat Tak Dipuji: Benarkah Pertanda Narsis?

Sebuah klaim yang beredar luas di kalangan orang tua menyebut bahwa anak yang gemar meminta pujian dan ingin selalu menjadi pusat perhatian, kemudian bereaksi berlebihan—marah atau menarik diri total—saat pujian tidak kunjung datang, sedang menunjukkan pertanda narsisme. Berdasarkan verifikasi terhadap kriteria diagnostik resmi dan hasil penelitian perkembangan anak, klaim ini hanya benar dalam sebagian kondisi dan memuat penyederhanaan yang berisiko menyesatkan orang tua.

Mengurai Isi Klaim

Klaim yang diperiksa memuat dua asumsi yang saling terkait. Asumsi pertama, anak yang haus pujian dan perhatian adalah anak narsis. Asumsi kedua, reaksi marah atau penarikan diri total saat pujian tidak diberikan merupakan bukti langsung dari sifat narsistik. Kedua asumsi ini perlu diuji terhadap definisi narsisme yang dipakai dalam literatur ilmiah, bukan sekadar makna sehari-hari.

Klaim: Anak yang suka dipuji, ingin menjadi pusat perhatian, dan bereaksi marah atau menarik diri total ketika tidak dipuji adalah pertanda narsis.

Sumber Klaim dan Batas Verifikasi

Dalam pemeriksaan ini, klaim tersebut tidak disertai rujukan ilmiah yang dapat dilacak secara independen, sehingga sumber aslinya tidak dapat diverifikasi. Karena itu, verifikasi dilakukan dengan membandingkan isi klaim terhadap sumber resmi berupa kriteria diagnostik DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) serta literatur akademik tentang narsisme pada anak yang terbit di jurnal ilmiah.

Verifikasi terhadap Kriteria Klinis

Dalam DSM-5, gangguan kepribadian narsistik mencakup pola menetap berupa rasa kepentingan diri yang berlebihan, kebutuhan akan pujian yang berlebihan, rasa berhak, perilaku eksploitatif terhadap orang lain, serta kurangnya empati. Literatur klinis juga menggambarkan bahwa individu dengan sifat narsistik cenderung bereaksi bermusuhan terhadap kritik atau saat pengakuan atas status mereka tidak diberikan. Pada titik ini, reaksi negatif terhadap ketiadaan pujian memang konsisten dengan gambaran tersebut.

Bukti kunci: Namun demikian, DSM-5 menegaskan bahwa diagnosis gangguan kepribadian hanya ditegakkan bila pola tersebut menetap dalam jangka panjang, muncul di berbagai konteks, dan menimbulkan gangguan fungsi yang nyata. Pada anak-anak, gangguan kepribadian umumnya tidak didiagnosis; narsisme pada anak dipelajari sebagai sifat yang berada pada spektrum, bukan sebagai diagnosis tunggal yang bisa ditegakkan dari satu perilaku.

Faktanya: Data Penelitian Berbicara

Faktanya adalah, keinginan untuk dipuji dan menjadi pusat perhatian merupakan bagian normal dari perkembangan anak usia dini. Anak-anak kecil belajar melalui pengakuan orang dewasa, dan dorongan ini justru berkaitan dengan tumbuhnya rasa percaya diri yang sehat. Menyebut perilaku semacam ini secara langsung sebagai narsisme bertentangan dengan temuan perkembangan anak.

Data menunjukkan bahwa narsisme pada anak terbentuk melalui jalur yang berbeda dari sekadar respons terhadap pujian. Penelitian Eddie Brummelman dan koleganya yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2015, berjudul Origins of Narcissism in Children, menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya menilai mereka istimewa secara berlebihan cenderung mengembangkan sifat narsistik, sementara kehangatan orang tua justru memprediksi harga diri yang sehat. Artinya, pujian berlebihan yang tidak didasari pencapaian nyata—bukan sekadar reaksi anak saat pujian tidak datang—merupakan faktor yang jauh lebih relevan.

Penelitian tentang narsisme juga membedakan dua bentuk: narsisme grandios yang ditandai dominasi, agresi, dan kemarahan saat ego terancam, serta narsisme vulnerable yang ditandai penarikan diri, rasa malu, dan sensitivitas tinggi terhadap kritik. Menariknya, reaksi marah dan menarik diri total yang disebut dalam klaim sebenarnya mencerminkan dua bentuk yang berbeda. Keduanya pun tidak unik pada narsisme: pola serupa dapat muncul pada anak dengan kecemasan, harga diri rendah, atau frustrasi akibat kesulitan regulasi emosi.

Kesimpulan: Klaim Terlalu Menyederhanakan

Berdasarkan verifikasi di atas, klaim bahwa reaksi berlebihan anak saat tidak dipuji merupakan pertanda narsisme dinilai SEBAGIAN BENAR. Klaim ini benar dalam arti bahwa kebutuhan berlebihan akan pujian dan reaksi negatif terhadap ketiadaan pengakuan merupakan salah satu ciri yang konsisten dengan sifat narsistik. Namun, klaim tersebut tidak akurat bila dipakai sebagai penanda tunggal, karena perilaku yang sama juga merupakan bagian normal dari perkembangan anak dan dapat muncul pada kondisi psikologis lain.

Kesimpulan verifikasi: penggunaan istilah “pertanda narsis” untuk satu jenis reaksi saja berisiko menyesatkan dan dapat memicu pelabelan yang tidak adil bagi anak. Orang tua disarankan mengamati pola yang menetap dalam jangka waktu lama—mencakup kurangnya empati, rasa berhak, kesulitan menerima kekalahan, dan kecenderungan mengeksploitasi orang lain—serta berkonsultasi dengan psikolog anak bila pola tersebut berlangsung lama dan mengganggu fungsi sosial serta pembelajaran anak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User