Ratusan Bayi di Peru Dinamai Haaland Selama Piala Dunia 2026
Lima, Peru — Fenomena unik mewarnai gelaran Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir. Ratusan orang tua di Peru secara resmi menamai bayi mereka yang lahir
Lima, Peru — Fenomena unik mewarnai gelaran Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir. Ratusan orang tua di Peru secara resmi menamai bayi mereka yang lahir selama turnamen akbar tersebut dengan nama Haaland, terinspirasi dari bintang sepak bola Norwegia, Erling Haaland. Badan pencatatan sipil Peru mencatat lonjakan signifikan registrasi nama tersebut sepanjang Juni hingga Juli 2026, menjadikannya salah satu nama bayi paling populer di negara itu selama periode Piala Dunia.
Fenomena ini bukanlah hal baru dalam lanskap sepak bola global. Sebelumnya, nama seperti Cristiano, Lionel, dan Neymar juga pernah mengalami lonjakan popularitas di berbagai negara Amerika Latin saat pemilik nama aslinya bersinar di panggung internasional. Namun, skala dan kecepatan adopsi nama Haaland kali ini mengejutkan banyak pihak, mencerminkan betapa masifnya pengaruh pemain Manchester City tersebut terhadap kultur pop dan masyarakat pecinta sepak bola.
Data Resmi Registrasi Sipil Peru
Menurut laporan resmi dari RENIEC (Registro Nacional de Identificación y Estado Civil), terdapat 387 bayi laki-laki yang tercatat dengan nama depan Haaland sepanjang periode 11 Juni hingga 19 Juli 2026—bertepatan dengan berlangsungnya Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, tercatat pula 42 bayi perempuan yang diberikan nama Haaland atau variasinya, menunjukkan bahwa popularitas sang striker melampaui batasan gender.
"Kami belum pernah melihat lonjakan setajam ini untuk nama pemain sepak bola sejak era Ronaldo Fenômeno di akhir 1990-an. Haaland telah menjadi ikon baru yang melampaui sekadar olahraga," ujar Maria Elena Castillo, juru bicara RENIEC, dalam konferensi pers di Lima, Senin (20/7/2026).
Distribusi geografis nama Haaland cukup merata di seluruh Peru, namun konsentrasi tertinggi tercatat di Lima (127 bayi), disusul Arequipa (58 bayi), Trujillo (43 bayi), dan Cusco (31 bayi). Menariknya, beberapa orang tua bahkan memadukan nama Haaland dengan nama tengah tradisional Peru, menciptakan kombinasi seperti Haaland Mateo Quispe, Haaland Inti Rojas, dan Haaland Alejandro Mamani.
Jejak Historis: Nama Bintang Sepak Bola Sebagai Tren Global
Fenomena menamai anak dengan nama idola sepak bola memiliki akar historis yang panjang, terutama di kawasan Amerika Latin dan Afrika. Pada Piala Dunia 2014 di Brasil, nama Neymar melonjak popularitasnya tidak hanya di Brasil tetapi juga di negara-negara tetangga. Piala Dunia 2018 di Rusia mencatat lebih dari 240 bayi di berbagai negara dinamai Cristiano, sementara Piala Dunia 2022 di Qatar melihat kebangkitan nama Lionel dengan lebih dari 180 registrasi baru secara global.
Namun, keunikan kasus Haaland terletak pada fakta bahwa Norwegia—negara asal sang pemain—bukanlah kekuatan tradisional sepak bola dunia. Ini berbeda dengan Brasil atau Argentina yang memang memiliki warisan sepak bola mendalam. Dr. Carlos Mendoza, sosiolog dari Universidad Nacional Mayor de San Marcos, menilai bahwa fenomena ini mencerminkan pergeseran lanskap sepak bola global.
"Haaland mewakili generasi baru pesepakbola yang membangun ketenaran tidak hanya lewat trofi, tetapi juga personal branding digital yang masif. Anak-anak muda di Peru lebih banyak mengenalnya dari FIFA, media sosial, dan highlight YouTube ketimbang dari pertandingan langsung. Ini adalah bentuk baru idolatri sepak bola abad ke-21," jelas Mendoza.
Performa Gemilang Haaland di Panggung Piala Dunia 2026
Lantas, apa yang memicu gelombang Haaland-mania ini? Jawabannya terletak pada performa sang pemain selama turnamen. Erling Haaland tampil sebagai top skor Piala Dunia 2026 dengan torehan 9 gol, membawa Norwegia melaju hingga babak semifinal—pencapaian terbaik negara Skandinavia tersebut sepanjang sejarah. Momen paling ikonik terjadi saat Norwegia menghadapi Brasil di perempat final, di mana Haaland mencetak hat-trick dalam 18 menit pertama, termasuk gol salto akrobatik yang langsung viral dan ditonton lebih dari 500 juta kali dalam 24 jam.
Seorang ayah di Arequipa, Juan Pablo Huamani (34), menceritakan alasannya menamai putranya Haaland. "Anak saya lahir tepat saat Haaland mencetak gol ketiga ke gawang Brasil. Saya menangis bahagia dua kali: satu untuk kelahiran anak saya, satu untuk gol itu. Nama Haaland adalah doa agar anak saya tumbuh menjadi seseorang yang kuat, pantang menyerah, dan mendunia seperti idolanya."
Antara Inspirasi dan Kontroversi
Meski mayoritas masyarakat merespons positif, sebagian kalangan menyuarakan kekhawatiran. Beberapa psikolog anak mengingatkan bahwa menamai anak berdasarkan idola sesaat bisa menjadi beban psikologis di masa depan, terutama jika sang idola kemudian terlibat kontroversi atau kariernya meredup. Namun, data historis menunjukkan bahwa nama-nama seperti Ronaldo, Messi, dan Neymar tetap bertahan populer bahkan setelah para pemainnya pensiun, menunjukkan bahwa asosiasi positif dengan kejayaan olahraga cenderung bertahan lama.
Pemerintah Peru sendiri tidak memberlakukan pembatasan ketat terhadap pemberian nama, selama tidak mengandung unsur penghinaan atau kebingungan administratif. Dengan demikian, ratusan Haaland kecil di Peru kini resmi menyandang nama yang kelak akan selalu mengingatkan mereka pada musim panas 2026—saat seorang raksasa Norwegia menaklukkan dunia lewat kaki kirinya yang mematikan.
Comments (0)