Gunung Anak Krakatau Erupsi Empat Kali dalam Satu Jam

Langit sore di Selat Sunda mendadak berubah kelabu. Jumat (4/7/2026) pukul 16.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengejutkan warga pesisir dengan semburan abu vu

Jul 11, 2026 - 15:46
0 0
Gunung Anak Krakatau Erupsi Empat Kali dalam Satu Jam

Langit sore di Selat Sunda mendadak berubah kelabu. Jumat (4/7/2026) pukul 16.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengejutkan warga pesisir dengan semburan abu vulkanik yang melesat hingga ketinggian 1.500 meter. Tidak berhenti di situ, gunung api yang berada di perairan antara Lampung dan Banten itu kemudian meletus tiga kali lagi hanya dalam rentang satu jam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat kolom erupsi berikutnya mencapai 800 hingga 1.200 meter dengan warna kelabu-hitam condong ke arah selatan.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, melaporkan bahwa erupsi disertai suara dentuman yang terdengar hingga radius 5 kilometer. “Ini adalah aktivitas fluktuatif yang masih dalam batas kewajaran untuk gunung api bertipe strombolian,” ujar Kepala PVMBG dalam keterangan resminya. Namun, ia menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap di level Siaga (Level III) sejak ditetapkan pada 24 April 2022 lalu.

Erupsi Beruntun dan Data Kegempaan Terkini

Menurut data seismik, rangkaian erupsi Jumat sore itu menghasilkan amplitudo maksimum 55 mm dengan durasi rata-rata 25–40 detik. Sepanjang hari itu, PVMBG juga mencatat 17 kali gempa letusan, 8 kali gempa embusan, dan 4 kali gempa tektonik lokal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suplai magma dari dapur magma dangkal masih aktif bergerak menuju permukaan.

Hingga Sabtu (5/7) pagi, seismograf masih merekam tremor menerus dengan amplitudo 8 mm, menandakan bahwa aliran fluida di dalam tubuh gunung belum sepenuhnya reda. Meski tidak ada peningkatan status, masyarakat di pesisir Pandeglang dan Lampung Selatan diminta tetap waspada terhadap potensi awan panas dan lontaran material pijar dalam radius 5 kilometer dari kawah.

Sejarah Panjang dan Risiko Tsunami

Gunung Anak Krakatau lahir dari sisa letusan dahsyat Krakatau pada 1883 yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa akibat tsunami. Sejak kemunculannya pada 1927, gunung ini terus tumbuh dengan kecepatan sekitar 6–8 meter per tahun. Aktivitas erupsi hampir selalu terjadi secara periodik, namun insiden paling mengguncang adalah runtuhnya sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda dan menewaskan 437 orang.

Potensi longsoran material vulkanik masih menjadi ancaman serius.

“Kami melakukan pemantauan deformasi lereng secara kontinu menggunakan GPS dan tiltmeter. Saat ini belum ada indikasi deformasi signifikan yang bisa memicu longsoran seperti 2018,”
jelas Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG. Meski begitu, ia menolak memberi prediksi tenang sepenuhnya, mengingat karakteristik gunung api muda ini sangat dinamis.

Antisipasi Masyarakat dan Imbauan Otoritas

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang dan Lampung Selatan telah mengaktifkan posko siaga darurat. Warga di Desa Way Muli dan Desa Kunjir yang menjadi langganan terdampak abu vulkanik diimbau untuk menyimpan masker dan air bersih. Selain itu, pelayaran di sekitar Gunung Anak Krakatau masih dibatasi; kapal wisata dan nelayan dilarang mendekati radius 5 km.

PVMBG juga mengingatkan agar masyarakat tidak termakan hoaks. “Kami pastikan informasi resmi hanya dari kanal PVMBG, BNPB, dan BPBD. Jangan percaya pesan berantai yang menyebut akan ada letusan besar seperti 1883, karena mekanismenya berbeda jauh,” tegas Kepala PVMBG. Gunung Anak Krakatau bertipe strombolian dengan letusan skala kecil-menengah, tidak sebanding dengan letusan Plinian pendahulunya.

Ke depan, pihak berwenang berencana memperkuat sistem peringatan dini berbasis sensor akustik bawah laut yang mampu mendeteksi gelombang tsunami lebih cepat. Sambil menunggu langkah itu rampung, alam kembali mengingatkan bahwa kegagahan Anak Krakatau selalu menyimpan dua wajah: pesona wisata dan potensi bencana yang tak bisa diremehkan.

[SOCIAL_TWEET]: Gunung Anak Krakatau kembali erupsi empat kali dalam sejam, status Siaga belum dicabut. Pantau terus informasi resmi, jauhi radius 5 km. #AnakKrakatau #Erupsi #SelatSunda #MitigasiBencana[SOCIAL_TG]: 🚨 Gunung Anak Krakatau erupsi beruntun! Status masih Siaga (Level III). Jauhi radius 5 km, patuhi imbauan resmi. #AnakKrakatau

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User