Rakyat Vietnam dan Lahirnya Reformasi Doi Moi yang Mengubah Bangsa
Di balik kemajuan ekonomi Vietnam yang pesat dalam beberapa dekade terakhir, tersimpan kisah tentang kekuatan kolektif rakyat yang berhasil mengubah arah kebijakan nasional. Tidak banyak yang menyadar...
Di balik kemajuan ekonomi Vietnam yang pesat dalam beberapa dekade terakhir, tersimpan kisah tentang kekuatan kolektif rakyat yang berhasil mengubah arah kebijakan nasional. Tidak banyak yang menyadari bahwa reformasi bersejarah bernama Doi Moi (Renovasi) yang resmi dimulai pada tahun 1986 tidak lahir dari ruang rapat para elit politik semata, melainkan dari desakan dan eksperimen yang tumbuh dari bawah.
Pemerintah Vietnam saat itu menghadapi krisis ekonomi yang parah, kelaparan, dan kegagalan model pertanian kolektif. Di tengah situasi genting tersebut, muncullah berbagai inisiatif lokal yang mendobrak pakem, membuktikan bahwa solusi kerakyatan kerap lebih jitu daripada instruksi yang dikirim dari atas.
Akar Krisis dan Eksperimen Rahasia Petani
Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Vietnam berada di titik nadir. Perang yang berkepanjangan, embargo ekonomi, dan sistem pertanian kolektif yang kaku membuat produksi pangan anjlok. Di Provinsi Vinh Phuc, tepatnya di komune kecil, sekelompok petani diam-diam mulai membagi lahan kolektif kepada rumah tangga untuk dikelola secara mandiri. Tindakan ini jelas melanggar kebijakan resmi, namun hasilnya tak terbantahkan: produksi beras melonjak drastis, dan desa yang tadinya kekurangan mendadak mampu memenuhi kebutuhan sendiri serta memberi surplus ke wilayah lain.
Praktik serupa menyebar dari mulut ke mulut, menciptakan sebuah gerakan diam-diam yang kemudian dikenal sebagai “kontrak rumah tangga”. Pemerintah pusat sebenarnya mengetahui, tetapi bukannya menindak, mereka mulai mengamati dan mempelajari. Data dari Kementerian Pertanian Vietnam menunjukkan bahwa pada 1981, petani yang menerapkan sistem kontrak ini berhasil meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan lahan yang masih dikelola secara kolektif.
Tekanan rakyat yang menuntut kelonggaran kian tak terbendung. Di selatan, para pedagang kecil dan pengusaha etnis Tionghoa juga mulai membangun kembali jaringan bisnis yang dulu dihancurkan. Mereka bergerak di sektor informal, menyelundupkan barang, membuka toko-toko kecil, dan menghidupkan ekonomi pasar secara de facto. Realitas di lapangan berbicara lebih keras: rakyat telah memilih jalannya sendiri, dan pemerintah akhirnya menyesuaikan diri.
Dari Bawah ke Meja Perundingan Nasional
Pada pertengahan 1980-an, tekanan dari basis pertanian dan ekonomi bawah tanah mencapai titik kritis. Partai Komunis Vietnam mau tidak mau harus merespons. Dalam beberapa pertemuan puncak, laporan tentang keberhasilan inisiatif petani menjadi bukti bahwa reformasi harus dilakukan. Tokoh-tokoh reformis seperti Sekretaris Jenderal Nguyen Van Linh, yang dijuluki “Sang Reformator”, mulai mengadvokasi perubahan.
Kongres Nasional Partai pada Desember 1986 menandai lahirnya Doi Moi. Kebijakan ini membongkar sistem pertanian kolektif, mengizinkan perusahaan swasta, dan membuka pintu bagi investasi asing. Namun yang lebih penting, semangat Doi Moi adalah mengakui keunggulan mekanisme pasar dan hak rakyat untuk mengambil inisiatif ekonomi. Ini bukanlah cetak biru dari atas, melainkan legalisasi dari gelombang perubahan yang sudah terjadi di akar rumput.
Banyak kebijakan Doi Moi yang diadopsi langsung dari eksperimen petani. Contohnya, Undang-undang Pertanahan 1993 yang memberikan hak guna lahan jangka panjang kepada petani, menjamin kepastian usaha, dan memicu investasi di sektor agrikultur. Tanpa pilot project petani di Vinh Phuc dan daerah lain, mungkin reformasi ini tidak akan pernah seberani itu.
Bukti Kinerja: Dari Negara Pengimpor Beras ke Lumbung Pangan Dunia
Data statistik membenarkan efektivitas pendekatan dari bawah ke atas ini. Sebelum Doi Moi, Vietnam harus mengimpor sekitar 1,6 juta ton beras pada tahun 1986 untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. Setelah reformasi berjalan, pada 1989 negara ini mulai mengekspor beras, dan pada 2023 Vietnam menjadi pengekspor beras terbesar ketiga dunia dengan volume 7,5 juta ton, menurut data Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam.
Pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7 persen per tahun selama tiga dekade, kemiskinan ekstrem turun dari 70 persen pada 1980-an menjadi di bawah 5 persen pada 2022. Investasi asing deras mengalir, dan kota-kota seperti Ho Chi Minh City serta Da Nang menjelma menjadi pusat manufaktur dan teknologi. Semua ini berakar dari keberanian rakyat biasa yang mengambil risiko dengan keyakinan bahwa mereka lebih tahu apa yang dibutuhkan di lapangan.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa kebijakan yang bersifat kaku dan sentralistis acap kali mandul jika tidak mampu membaca kenyataan di tanah. Vietnam beruntung karena para pemimpinnya mau mendengar, mempelajari, dan akhirnya mengadopsi solusi-solusi lokal sebagai kebijakan nasional.
Pelajaran bagi Dunia dan Masa Depan
Pengalaman Vietnam mengirimkan sinyal kuat ke banyak negara berkembang: rakyat bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek yang bisa merumuskan solusi. Dalam era krisis iklim dan ketimpangan global, suara petani, nelayan, pekerja informal, dan komunitas terpinggirkan kerap menyimpan kunci kebangkitan yang berkelanjutan.
Pemerintah mana pun yang mengabaikan masukan dari bawah hanya akan menciptakan kebijakan yang terasing dari kebutuhan riil. Sebaliknya, keterbukaan untuk mendengar dan mengintegrasikan praktik-praktik terbaik dari masyarakat sipil dan ekonomi rakyat dapat memicu lompatan kemajuan yang tak terduga.
Vietnam kini tengah melangkah ke fase industrialisasi digital dan energi hijau. Keterlibatan rakyat tetap menjadi fondasi penting. Perusahaan rintisan lokal dan komunitas teknologi memainkan peran vital dalam mendorong transformasi digital. Sekali lagi, inovasi dari bawah menjadi bahan bakar bagi visi nasional.
Sejarah mencatat bahwa reformasi Doi Moi bukan diberikan oleh para pemimpin dengan cuma-cuma. Reformasi itu lahir dari keringat, risiko, dan jeritan lapangan. Ketika pemerintah dan rakyat berjalan beriringan, kemajuan menjadi bukan hanya target, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama.
Baca juga:
Comments (0)