QRIS Jelajah Kuliner 2026 Kembali Digelar di Tegal
Bank Indonesia Perwakilan Tegal kembali menginisiasi program unggulan bertajuk QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat adopsi sistem pembayaran digital berba...
Bank Indonesia Perwakilan Tegal kembali menginisiasi program unggulan bertajuk QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat adopsi sistem pembayaran digital berbasis QR Code Indonesian Standard di kalangan pelaku usaha kuliner dan masyarakat umum. Melalui agenda ini, transaksi nontunai diharapkan semakin merata hingga ke tingkat akar rumput, sejalan dengan peta jalan digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Mendorong Inklusi Keuangan Lewat Makanan
QRIS Jelajah Kuliner Indonesia bukan sekadar acara promosi. Inisiatif ini mengintegrasikan pengalaman wisata kuliner dengan edukasi pembayaran digital. Rangkaian kegiatan akan melibatkan puluhan hingga ratusan pedagang makanan dan minuman di sejumlah titik strategis di Tegal dan sekitarnya. Mereka didorong untuk menyediakan kanal pembayaran QRIS, sementara pengunjung diajak mencoba pengalaman transaksi tanpa uang tunai yang cepat dan aman.
Perwakilan BI Tegal menilai sektor kuliner sebagai pintu masuk efektif untuk memperluas basis pengguna QRIS. Data internal yang dikutip dalam persiapan acara menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman menyumbang volume transaksi digital ritel tertinggi kedua setelah kebutuhan rumah tangga. Dengan menggandeng komunitas pedagang kaki lima, kafe lokal, hingga restoran tradisional, program ini diharapkan mampu menciptakan kebiasaan baru di masyarakat: membayar hanya dengan memindai kode QR.
Agenda dan Target Partisipasi
Pelaksanaan QJI 2026 akan dibagi dalam beberapa fase. Tahap pertama berupa lokakarya intensif bagi merchant kuliner yang belum sepenuhnya memahami teknis pendaftaran dan operasional QRIS. Mereka dibekali materi tentang cara mencetak stiker QRIS, prosedur penyelesaian transaksi, serta mekanisme pencairan dana ke rekening bank. Tahap berikutnya adalah festival jelajah kuliner yang terbuka untuk umum, lengkap dengan panggung hiburan, lomba masak, dan diskon khusus bagi pengguna QRIS.
Target partisipasi tahun ini ditingkatkan signifikan. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya acara serupa berhasil merekrut sekitar 150 pedagang, QJI 2026 menargetkan sedikitnya 250 merchant baru dari berbagai skala usaha. Selain itu, jumlah transaksi harian selama festival ditargetkan menembus 10.000 kali scan, naik dari rerata 6.500 transaksi pada gelaran tahun lalu. Pihak BI Tegal optimistis target tersebut dapat tercapai mengingat penetrasi ponsel pintar di wilayah Pantura Jawa Tengah terus meningkat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kesuksesan acara ini bergantung pada sinergi multipihak. BI Tegal menggandeng pemerintah daerah, asosiasi pedagang, perbankan, serta penyedia jasa pembayaran (PJP) untuk menyukseskan QJI 2026. Pemerintah Kota dan Kabupaten Tegal berperan dalam perizinan lokasi dan mobilisasi komunitas UMKM binaan. Sementara itu, bank-bank BUMN dan swasta menyiapkan tim untuk membantu pendaftaran QRIS di tempat serta memberikan insentif seperti cashback dan potongan harga bagi konsumen yang bertransaksi menggunakan QRIS selama acara berlangsung.
Ketua Tim Sistem Pembayaran BI Tegal, dalam keterangan resminya, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud konkret dari semangat gotong royong mempercepat transformasi digital. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan seluruh lapisan agar ekosistem pembayaran digital tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari,” ujarnya. Meski pernyataan ini bersifat umum, nada yang dibangun sarat optimisme bahwa resistensi pedagang tradisional terhadap teknologi dapat luntur melalui pendekatan yang menyenangkan dan praktis.
Penyedia jasa pembayaran juga menyambut baik inisiatif ini. Sejumlah platform dompet digital dan mobile banking telah menyatakan kesiapan mengintegrasikan fitur khusus selama QJI 2026, seperti lokasi merchant terdekat di peta digital dan pemberitahuan diskon real-time. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus memperkuat loyalitas terhadap kanal pembayaran nontunai.
Dampak Ekonomi dan Perilaku Konsumen
Di luar aspek teknis, QJI 2026 diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Peningkatan transaksi digital akan terekam dalam sistem, sehingga memudahkan pedagang mengakses kredit usaha karena memiliki riwayat keuangan yang jelas. Jejak digital dari setiap transaksi QRIS menjadi aset berharga bagi pelaku UMKM yang sebelumnya kesulitan membuktikan kelayakan kreditnya ke lembaga keuangan formal.
Dari sisi konsumen, kebiasaan memindai QRIS dalam situasi santai—seperti saat berburu kuliner—dapat mempercepat pergeseran pola pembayaran. Psikologi konsumen menunjukkan bahwa pengalaman positif pertama kali menggunakan teknologi baru sangat menentukan adopsi jangka panjang. Dengan memberikan diskon dan kemudahan selama festival, BI Tegal berupaya menciptakan kesan awal yang menyenangkan. Apabila strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin aktivitas jajan di warung tenda atau membeli gorengan pinggir jalan pun akan bertransformasi menjadi transaksi yang sepenuhnya nontunai.
Selain itu, program ini mendukung tujuan besar Bank Indonesia dalam kerangka Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030, yang menargetkan interkonektivitas dan interoperabilitas pembayaran di seluruh lapisan masyarakat. Tegal, sebagai kota dengan dinamika perdagangan yang tinggi di jalur Pantura, dianggap sebagai lokasi strategis untuk uji coba perluasan digitalisasi. Keberhasilan di sini akan menjadi templat bagi daerah lain dengan karakteristik serupa.
Harapan dan Keberlanjutan
Meski acara QJI bersifat temporer, BI Tegal menegaskan bahwa pendampingan merchant tidak berhenti setelah festival usai. Tim akan melanjutkan monitoring penggunaan QRIS, memfasilitasi keluhan, dan mengadakan pertemuan berkala dengan paguyuban pedagang. “Tujuan kami bukan sekadar angka partisipasi saat acara, tetapi perubahan perilaku pembayaran yang permanen,” demikian penekanan dalam paparan rencana kegiatan.
Program semacam ini juga membuka peluang edukasi lebih luas, termasuk pengenalan fitur QRIS TUNTAS (Tarik, Transfer, Setor) yang memungkinkan transaksi antarpengguna tanpa perlu nomor rekening. Jika masyarakat sudah terbiasa dengan QRIS di kedai kuliner, langkah selanjutnya adalah mendorong penggunaan untuk berbagai kebutuhan lain, seperti pembayaran parkir, retribusi pasar, hingga donasi rumah ibadah.
Dengan kembali digelarnya QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026, BI Tegal ingin menegaskan bahwa digitalisasi bukan milik segelintir orang. Setiap mangkuk bakso, piring sate, atau gelas es campur bisa menjadi pintu masuk menuju ekosistem keuangan yang lebih inklusif. Tinggal bagaimana semua pihak memanfaatkan momentum ini agar geliat transaksi digital tidak berhenti di lapak kuliner, melainkan menjalar ke seluruh sendi perekonomian daerah.
Baca juga:
Comments (0)