Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Psikolog Gabriel Rolón Ungkap Alasan Penting Memblokir Mantan Pasangan

Di era keterhubungan digital yang serba cepat, mengakhiri sebuah hubungan asmara tidak lagi sesederhana mengucapkan kata perpisahan lalu melangkah pergi. B

Psikolog Gabriel Rolón Ungkap Alasan Penting Memblokir Mantan Pasangan

Di era keterhubungan digital yang serba cepat, mengakhiri sebuah hubungan asmara tidak lagi sesederhana mengucapkan kata perpisahan lalu melangkah pergi. Bayang-bayang masa lalu kerap bertahan di balik layar ponsel, memicu luka lama yang tak kunjung sembuh akibat paparan pesan singkat dan unggahan media sosial yang tak henti mengalir. Fenomena relasi pasca-putus ini menjadi sorotan tajam ketika interaksi virtual justru menjelma menjadi beban psikologis yang menghambat proses pemulihan emosional seseorang.

Pakar psikoanalisis ternama asal Argentina, Gabriel Rolón, secara kritis menguliti dinamika ini dalam penampilannya di program radio Perros de la Calle di Urbana Play. Rolón menyoroti perilaku obsesif yang kerap dialami individu pasca-perpisahan, di mana mereka tetap memilih membaca pesan-pesan dari mantan kekasih meskipun sadar betul interaksi tersebut hanya mendatangkan rasa sakit dan kebingungan mental.

Paradoks Komunikasi di Era Media Sosial

Berdasarkan pengamatan klinisnya, Rolón menemukan paradoks psikologis yang sering membelenggu para korban perpisahan. Banyak orang terjebak dalam siklus toksik karena terus memberikan akses komunikasi kepada mantan pasangan yang sebenarnya tidak lagi memberikan dampak positif bagi kehidupan emosional mereka.

Ketika seseorang terus-menerus memantau kabar atau membalas pesan dari masa lalu, rantai keterikatan emosional tidak pernah benar-benar terputus. Rolón menekankan bahwa tindakan memblokir kontak dan akun media sosial bukanlah bentuk kekanak-kanakan, melainkan instrumen perlindungan diri yang amat krusial.

“Sering kali kita sebagai psikolog bertanya kepada pasien: ‘Lalu untuk apa masih kamu baca?’ Kamu bilang: ‘Tidak, dia sekarang ingin menjelaskan, dia terus menggangguku, mengirim pesan, membuatku gila.’ Jawabannya tegas: ‘Blokir dia.’ Namun, bobot saat pasien menerima intervensi itu juga sangat berpengaruh, karena sering kali dipersepsikan sebagai beban,” ungkap Gabriel Rolón.

Analisis Dampak Keputusan Digital Pasca-Perpisahan

Untuk memahami perbedaan signifikan antara mempertahankan kontak dan mengambil tindakan tegas membatasi akses digital, berikut adalah komparasi dinamika psikologis yang terjadi:

Parameter Psikologis Mempertahankan Kontak Digital Melakukan Pemblokiran Total
Pemulihan Emosional Tertunda akibat manipulasi emosi berulang Lebih cepat karena memutus pemicu trauma (trigger)
Tingkat Kecemasan Tinggi, selalu menanti dan menganalisis pesan Menurun secara bertahap seiring terbentuknya jarak
Batas Pribadi (Boundaries) Kabur dan mudah dilanggar oleh mantan Tegas, memberikan ruang untuk rekonsiliasi diri

Dilema Psikologis di Balik Tombol 'Block'

Rolón menggarisbawahi bahwa hambatan terbesar seseorang dalam memblokir mantan pasangan bukanlah teknis aplikasi, melainkan resistensi emosional internal. Banyak pasien merasa bahwa memblokir seseorang merupakan tindakan drastis yang dipaksakan oleh pihak luar, termasuk oleh terapis mereka, sehingga memunculkan rasa bersalah atau kecemasan akan kehilangan akses informasi secara permanen.

Padahal, menurut analisis mendalam Rolón, keberanian menekan tombol blokir adalah bentuk kedaulatan atas kesehatan mental sendiri. Ketika sebuah pesan tidak lagi membawa kejelasan dan hanya menyisakan kegelisahan, menutup pintu komunikasi secara digital adalah satu-satunya cara rasional untuk membangun kembali benteng pertahanan psikologis yang telah runtuh.

Menjaga jarak di dunia maya bukan berarti melarikan diri dari kenyataan, melainkan menciptakan ruang penyembuhan yang steril dari pemicu konflik. Dalam konfrontasi antara rasa penasaran dan kedamaian pikiran, melepaskan keterikatan digital menjadi langkah awal yang tak bisa ditawar demi melanjutkan hidup secara utuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User