Lonjakan transisi energi global dan ekspansi kecerdasan buatan (AI) memicu perburuan komoditas mineral secara masif di seluruh dunia. Kendaraan listrik tercatat membutuhkan tembaga hingga sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, sementara pusat data modern memerlukan ribuan kilometer kabel penghantar listrik. Di tengah ledakan permintaan ini, kawasan Amerika Selatan menjadi episentrum utama, namun Argentina masih tertinggal jauh di belakang negara tetangganya, Cile dan Peru.
Berdasarkan investigasi data ekonomi regional, jurang performa sektor ekstraktif di Pegunungan Andes menunjukkan ketimpangan yang sangat mencolok. Kendati berbagi formasi geologi yang serupa, kontribusi ekonomi pertambangan Argentina belum digarap secara optimal akibat ketidakpastian regulasi selama bertahun-tahun.
"Sementara Cile dan Peru telah mengamankan posisi mereka sebagai produsen tembaga papan atas dunia, Argentina baru memulai langkah awal untuk membangkitkan kembali sektor tambang logamnya," tulis laporan analisis lembaga konsultan ekonomi Abeceb.
Jurang Perbandingan: Menakar Dominasi Cile dan Peru
Berdasarkan data yang dihimpun Abeceb, kontribusi sektor pertambangan terhadap produk domestik bruto (PDB) memperlihatkan kontras yang tajam di antara ketiga negara Andean tersebut:
- Argentina: Sektor pertambangan hanya menyumbang 0,6% terhadap PDB nasional dan mencakup 7% dari total ekspor negara.
- Cile: Pertambangan mendominasi hingga 13,1% dari PDB dan berkontribusi sebesar 61% terhadap total nilai ekspor.
- Peru: Aktivitas tambang menyumbang 9,1% dari PDB serta menyokong 68% dari pendapatan ekspor nasional.
Pada 2025, total ekspor tembaga Cile menembus US$58.000 juta, atau mencapai US$63.000 juta jika digabungkan dengan mineral lainnya. Nilai fantastis dari satu sektor tambang di Cile tersebut setara dengan total seluruh ekspor kompleks agroindustri Argentina per tahun yang berkisar antara US$55.000 hingga US$60.000 juta.
Kronologi dan Peta Jalan: Target Ambisius US$35 Miliar
Argentina tidak memproduksi tembaga sama sekali sejak penutupan tambang ikonik Bajo de la Alumbrera pada 2018. Namun, arah angin mulai berubah seiring masuknya investasi baru di proyek-proyek strategis.
- Tahun 2018: Tambang tembaga Bajo de la Alumbrera resmi berhenti beroperasi, menghentikan rantai produksi tembaga domestik Argentina secara total.
- Tahun 2025: Ekspor pertambangan Argentina mencapai US$6.074 juta, memposisikan tambang sebagai kompleks ekspor terbesar keenam di negara tersebut.
- Semester I 2026: Nilai ekspor tambang melesat ke angka US$4.742 juta, mencatatkan kenaikan agresif sebesar 74,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
- Tahun 2026: Proyeksi total ekspor tahunan diperkirakan menembus tonggak US$10.000 juta.
- Tahun 2030: Pendapatan ekspor mineral diproyeksikan melonjak hingga US$18.500 juta seiring mulai beroperasinya sejumlah tambang tembaga skala besar.
- Tahun 2035: Puncak proyeksi Abeceb menargetkan penjualan ekspor menembus US$35.000 juta per tahun, didorong penuh oleh eksploitasi cadangan tembaga baru.
Agar proyeksi ambisius ini terealisasi, Buenos Aires dipaksa belajar dari kerangka regulasi dan kepastian hukum Santiago dan Lima dalam memberikan jaminan investasi jangka panjang bagi konsorsium global.
Comments (0)