Profesor Unika Atma Jaya Dorong Kemandirian Farmasi dari Bahan Alam

Ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor menjadi perhatian serius akademisi. Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Profesor Raymond R. Tjandrawinata, menyampa...

Jul 12, 2026 - 19:14
0 0
Profesor Unika Atma Jaya Dorong Kemandirian Farmasi dari Bahan Alam

Ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor menjadi perhatian serius akademisi. Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Profesor Raymond R. Tjandrawinata, menyampaikan pandangannya terkait urgensi pengembangan obat berbasis sumber daya alam lokal. Menurutnya, potensi besar keanekaragaman hayati Indonesia belum dioptimalkan untuk mewujudkan kemandirian sektor farmasi nasional.

Kekayaan Hayati yang Belum Tergarap

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Ribuan spesies tanaman obat tradisional telah digunakan secara turun-temurun, namun hanya sebagian kecil yang telah melalui tahap riset ilmiah dan uji klinis untuk dijadikan obat modern. Profesor Tjandrawinata menyoroti bahwa riset-riset di perguruan tinggi seringkali berhenti pada tahap publikasi tanpa hilirisasi yang memadai. "Kita memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman, tetapi yang sudah terstandarisasi menjadi obat herbal terstandar atau fitofarmaka jumlahnya masih sangat sedikit," ujarnya dalam sebuah forum ilmiah.

Hambatan Hilirisasi Riset

Salah satu kendala utama adalah minimnya jembatan antara dunia akademik dan industri. Banyak hasil penelitian yang potensial tetapi belum dilirik oleh industri farmasi karena skala produksi yang belum teruji dan kurangnya bukti khasiat yang memenuhi standar internasional. Profesor Tjandrawinata menekankan perlunya kolaborasi triple helix—pemerintah, perguruan tinggi, dan industri—untuk mempercepat proses dari laboratorium ke pasar. Tanpa dukungan pendanaan riset jangka panjang dan insentif bagi industri, pengembangan obat berbasis bahan alam akan terus berjalan di tempat.

Strategi Menuju Kemandirian Obat

Untuk memutus rantai ketergantungan impor, Profesor Tjandrawinata mengusulkan beberapa langkah strategis. Pertama, pemetaan dan standarisasi tanaman obat unggulan berbasis bukti ilmiah. Kedua, penguatan rantai pasok bahan baku obat dari petani lokal hingga industri ekstraksi. Ketiga, mempercepat regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk produk-produk fitofarmaka yang telah melalui uji praklinis. Keempat, mengintegrasikan pengobatan tradisional yang sudah terbukti secara ilmiah ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Regulasi dan Pendanaan Jadi Kunci

Profesor Tjandrawinata juga menyoroti pentingnya revisi kebijakan yang mendukung inovasi obat dalam negeri. Saat ini, banyak regulasi yang justru memperlambat proses registrasi produk baru, khususnya untuk obat herbal. Diperlukan skema pembiayaan riset yang tidak berhenti pada tahap penemuan, tetapi juga menyentuh uji klinis fase lanjut yang memerlukan biaya besar. "Pemerintah perlu hadir sebagai fasilitator, tidak hanya regulator," tegasnya. Selain itu, ia mendorong pembentukan konsorsium riset nasional yang fokus pada pengembangan produk fitofarmaka unggulan.

Sebagai contoh, beberapa tanaman seperti sambiloto, kunyit, dan jati belanda telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam penelitian awal, namun belum ada yang benar-benar sukses menjadi produk komersial yang mampu menggantikan obat impor. Diperlukan keberanian mengambil risiko dan investasi besar untuk membuktikan bahwa obat herbal Indonesia dapat bersaing di pasar global.

Pendidikan dan Sumber Daya Manusia

Selain itu, Profesor Tjandrawinata mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama. Kurikulum di fakultas farmasi harus lebih responsif terhadap kebutuhan industri dan riset mutakhir, termasuk bioteknologi dan bioinformatika. Mahasiswa perlu dibekali keterampilan riset yang mumpuni serta mentalitas entrepreneur agar lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja tetapi pencipta lapangan kerja di sektor farmasi. Program magang dan kerja sama dengan industri harus diperbanyak.

Peluang di Era Jaminan Kesehatan

Implementasi JKN yang semakin luas membuka peluang besar bagi penggunaan obat herbal yang aman dan efektif. Dengan memasukkan fitofarmaka ke dalam formularium nasional, potensi pasar domestik akan meningkat drastis, sehingga menarik minat investor. Namun, hal itu harus didukung dengan data klinis yang kuat. Profesor Tjandrawinata menekankan bahwa standar keamanan dan mutu tidak bisa ditawar. "Kemandirian farmasi bukan hanya tentang bangga produk lokal, tetapi memastikan produk lokal setara atau lebih baik dari produk impor," pungkasnya.

Dengan komitmen bersama, bukan tidak mungkin Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri obat herbal global. Kuncinya adalah keberlanjutan riset, keberpihakan kebijakan, dan sinergi lintas sektor yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User