Profesor Atma Jaya Soroti Sinergi Digital Pendidikan Tinggi
Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan. Hal tersebut ditegaskan oleh Profesor Raymond R. Tjandrawinata dar...
Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan. Hal tersebut ditegaskan oleh Profesor Raymond R. Tjandrawinata dari Unika Atma Jaya Jakarta dalam sebuah diskusi akademik yang digelar belum lama ini. Ia menilai bahwa momentum percepatan teknologi harus direspons dengan kebijakan yang adaptif dan implementasi yang terukur, bukan sekadar euforia pengadaan perangkat.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya membangun infrastruktur digital, tetapi juga harus menyiapkan ekosistem yang mendukung perubahan pola belajar. Tanpa pendekatan sinergis, investasi besar untuk digitalisasi hanya akan menghasilkan ruang kelas yang canggih tetapi kehilangan esensi pedagogis. Ia merujuk pada data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen perguruan tinggi di Indonesia masih menghadapi kendala integrasi sistem pembelajaran daring dengan kurikulum.
Kesenjangan Akses dan Literasi Digital
Profesor Tjandrawinata menggarisbawahi problem klasik berupa ketimpangan akses internet yang masih membayangi mahasiswa di daerah terpencil. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengungkapkan bahwa penetrasi internet di wilayah Indonesia timur baru mencapai 68,7 persen, jauh tertinggal dari Jawa yang hampir menyentuh 85 persen. Celah ini, paparnya, menciptakan risiko diskriminasi akademik karena mahasiswa dari pelosok sulit mengikuti perkuliahan berbasis digital secara penuh.
Ia menambahkan bahwa literasi digital dosen juga menjadi penentu keberhasilan. Banyak tenaga pengajar yang cakap di bidangnya, tetapi belum terbiasa menggunakan platform interaktif atau alat evaluasi berbasis kecerdasan buatan. Kampus, menurutnya, perlu mengalokasikan anggaran pelatihan yang setara dengan pengadaan perangkat keras agar kompetensi pendidik terus bertumbuh. Apabila dosen hanya sekadar memindahkan slide presentasi ke dalam format PDF, maka yang terjadi bukan transformasi, melainkan digitalisasi permukaan.
Kolaborasi Triple Helix sebagai Kunci
Guru besar bidang bioteknologi farmasi itu menekankan pentingnya model kemitraan tripel heliks—akademisi, bisnis, dan pemerintah. Ia memberi contoh program magang berbasis proyek yang melibatkan perusahaan rintisan teknologi. Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung membangun solusi sesuai kebutuhan industri. Data dari World Economic Forum 2025 menyebutkan bahwa 44 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada tahun 2029, sehingga kurikulum harus bersifat cair dan responsif terhadap dinamika pasar.
Namun, Profesor Tjandrawinata mengingatkan bahwa kerja sama ini harus berdiri di atas prinsip kesetaraan. Kampus tidak boleh sekadar menjadi pemasok tenaga kerja murah, melainkan mitra yang ikut merancang inovasi. Ia mendorong agar setiap program kemitraan memiliki klausul hak kekayaan intelektual yang jelas agar hasil riset akademik tidak diklaim sepihak oleh korporasi.
Menuju Kampus yang Agile dan Inklusif
Pada sesi terakhir, Profesor Tjandrawinata memaparkan gagasan tentang kampus tangkas yang mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan. Ia menawarkan kerangka Adaptive University 4.0 yang menitikberatkan pada empat pilar: kurikulum modular, penilaian berbasis kompetensi, dukungan kesehatan mental mahasiswa, dan tata kelola berbasis data. Ia mencontohkan modul pembelajaran singkat (micro-credentials) yang sudah diterapkan di sejumlah universitas di Australia dan Eropa, di mana mahasiswa dapat mengumpulkan kredit dari berbagai institusi secara fleksibel.
Ia menutup dengan catatan kritis bahwa transformasi digital mesti inklusif secara sosial. Beasiswa akses internet, laboratorium virtual berbiaya rendah, serta platform belajar yang ramah bagi penyandang disabilitas harus menjadi prioritas. Perguruan tinggi tidak boleh menciptakan kastanisasi baru: mahasiswa yang terkoneksi penuh versus mereka yang terpinggirkan secara digital. Dengan sinergi yang terarah, kampus di Indonesia bisa melompat menjadi pelopor pendidikan tinggi di era post-pandemi.
Baca juga:
Comments (0)